3 Februari Perayaan Setsubun: Cara Jepang Sambut Musim Semi Penuh Harapan.

Selasa, 03 Februari 2026 | 09:54 WIB
3 Februari Perayaan Setsubun: Cara Jepang Sambut Musim Semi Penuh Harapan.

ILUSTRASI. 3 Februari Perayaan Setsubun: Cara Jepang Sambut Musim Semi Penuh Harapan.


Sumber: National Today,Wikipedia  | Editor: Arif Budianto

KONTAN.CO.ID - 3 Februari memperingati Setsubun di Jepang, inilah yang harus Anda ketahui tentang peringatan tersebut.

Negeri Sakura punya cara tersendiri untuk menyambut pergantian musim. Adalah Setsubun, nama perayaan sekaligus istilah yang digunakan di Jepang untuk hari sebelum hari pertama setiap musim.

Melansir laman National Today, Setsubun menandai dimulainya musim semi dan mengawali festival musim semi di Jepang, yang disebut Hina Matsuri.

Baca Juga: Cuaca Banten Hari Ini (3/2): Pandeglang-Tangerang Hujan, Rencana Anda Aman?

Sebelum diperingati sebagai festival tahunan seperti ini, pada zaman kuno setsubun adalah perayaan tahunan yang digelar di istana kaisar.

Melansir laman Wikipedia, menurut buku Engishiki, berbagai macam boneka dari tanah liat yang sudah diberi warna akan dipajang di beberapa pintu gerbang dalam lingkungan istana.

Boneka-boneka yang dibuat berbentuk seperti anak-anak dan sapi.

Sementara itu, tradisi mengusir Oni (iblis bertanduk) pada hari setsubun konon berakar dari upacara Tsuina yang dikenal sejak zaman Heian.

Upacara Tsuina berasal dari daratan Tiongkok dan dilakukan pada hari terakhir dalam setahun menurut kalender Cina.

Di zaman modern ini, berbagai tradisi kuno setsubun lenyap, kemudian digantikan dengan tradisi melempar kacang dan meletakan kepala ikan sarden yang ditusuk dengan ranting pohon hiiragi di pintu masuk rumah pada saat senja.

Baca Juga: Hujan atau Cerah? Ini Detail Cuaca Hari ini (3/2) di Sumbar hingga Bangka Belitung

Masyarakat di beberapa daerah Jepang menggantungkan kepala ikan sarden dan ranting pohon hiiragi di atas pintu rumah.

Tradisi tersebut dilakukan untuk mengusir oni yang dipercaya lahir pada hari setsubun.

Selain itu, ada pula tradisi melempar kacang yang sudah disangrai matang ke arah pemeran “oni”.

Tradisi melempar kacang ini merupakan perlambangan keinginan bebas dari penyakit dan selalu sehat sepanjang tahun.

Oni yang terkena lemparan kacang dipercaya akan lari karena kesakitan.

Kacang disimbolkan sebagai pembersih rumah dari roh-roh jahat yang membawa kesialan dan bencana.

Sebagai pembawa keberuntungan, biasanya kacang akan dimakan sesuai dengan jumlah usia orang yang memakannya.

Di beberapa daerah juga berlaku tradisi menambahkan satu buah kacang lagi selain sejumlah usia untuk dimakan sebagai harapan keberuntungan di tahun yang akan datang.

Ada pula tradisi lain berkaitan dengan setsubun. Di daerah Kansai, terdapat tradisi makan sushi yang disebut ehomaki (sushi yang belum dipotong-poting).

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Jabodetabek Hari Ini: Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi Siaga Hujan!

Jenis sushi ala jepang

Sushi dimakan tanpa berhenti sambil menghadap ke arah mata angin tempat bersemayam dewa keberuntungan untuk tahun tersebut.

Sushi dipegang dengan kedua tangan dan orang yang sedang makan dilarang berbicara sampai sushi habis.

Pedagang di kota Osaka yang ingin bisnisnya lancar konon memiliki tradisi makan sushi pada hari setsubun.

Kebiasaan ini konon dimulai di akhir zaman Edo atau awal zaman Meiji.

Di awal zaman Showa, iklan tradisi makan sushi pada hari setsubun mulai dipasang pedagang sushi di Osaka agar orang mau membeli sushi.

Tonton: Harga Emas Anjlok Hari ini (03 Februari 2026)

Selanjutnya: Daftar Lengkap HP Xiaomi, Redmi, dan POCO yang Segera Update HyperOS 3

Menarik Dibaca: 3 Bibit Siklon Tropis Kepung Indonesia, Ini Dampaknya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru