Peristiwa

Belasan ton ikan di Danau Batur mati, kerugian petambak mencapai ratusan juta

Rabu, 03 Maret 2021 | 14:05 WIB Sumber: Kompas.com
Belasan ton ikan di Danau Batur mati, kerugian petambak mencapai ratusan juta

ILUSTRASI. Ikan mati. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/ama.

KONTAN.CO.ID - BANGLI. Belasan ton ikan nila budidaya milik warga di beberapa titik Keramba Jaring Apung (KJA) Danau Batur, Kabupaten Bangli, Bali, mati sejak Selasa (2/3/2021) kemarin. Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli mencatat ada 22 pembudidaya yang melaporkan ikannya mati.

Total sejauh ini ikan yang mati sebanyak 11.950 kilogram dengan kerugian diperkirakan ratusan juta. Adapun harga ikan konsumsi saat ini Rp 25.000 per kilogram. "Harga per kilogram di lapangan untuk ukuran ikan konsumsi Rp 25.000 saat ini," kata Kepala Dinas PKP Kabupaten Bangli I Wayan Sarma, saat dihubungi, Rabu (3/3/2021). 

Ia menuturkan, matinya ikan ini bermula saat warna air di Danau Batur berubah sejak Minggu (28/2/2021) lalu. Perubahan warna ini disebabkan oleh hujan dan angin kencang di seputaran Danau Batur selama tiga hari berturut-turut. Kondisi cuaca itu memicu naiknya belerang dari dasar danau atau dikenal dengan sebutan upwelling. 

Kondisi ini menyebabkan bercampurnya semua polutan dan membahayakan kehidupan biota di danau. Serta sulfat dan fosfor yang bersifat mengikat oksigen di air danau. Akibatnya, kandungan oksigen dalam air danau di daerah sekitar letupan belerang menurun drastis. 

Turunnya kadar oksigen ini menyebabkan ikan-ikan milik warga mati. "Ada fenomena upwelling, pengadukan antara air permukaan dengan air bawah danau. Air bawah danau naik dan menimbulkan belerang yang menyebabkan ikan mati," kata dia. 

Baca Juga: Pemerintah daerah tingkatkan kualitas akurasi pencatatan kasus covid-19

Ia mengatakan, fenomena ini biasanya terjadi antara bulan Januari dan Februari. Sementara pada tahun lalu 2020 lalu, fenomena ini tak terjadi di Danau Batur. "Petani dan petambak ikan di sana mereka sudah familiar dengan kondisi seperti itu," kata dia. 

Untuk menyiasatinya, warga biasanya sudah menandai titik di mana belerang akan naik. Sehingga mereka memilih tempat yang aman untuk menebar ikan. Kemudian, pihaknya juga sudah mengingatkan agar panen lebih awal. Namun, kemungkinan para warga ini memilih berspekulasi. 

"Saya sudah memberikan surat edaran bulan Januari yang lalu. Kalau memang perlu dilakukan panen lebih awal, iya lakukan panen lebih awal untuk mengurangi kerugian," kata dia. 

Ia mengatakan, kondisi air danau sudah mulai normal karena hujan mulai berkurang dan hembusan angin kencang berkurang. "Kemarin, kami sudah lakukan pendataan dan dua hari yang lalu kita melakukan pengukuran indikator air," kata dia. 

Selanjutnya, pembudidaya diminta mengikuti prosedur dalam antisipasi bencana letupan belerang atau upwelling. Caranya dengan menunda menebar ikan dan memberikan pakan ikan secara terbatas atau secukupnya sampai dengan kondisi cuaca lebih baik.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Belasan Ton Ikan di Danau Batur Mati, Ini Penyebabnya"

Selanjutnya: Perum Perindo bidik kenaikan penjualan dua kali lipat pada 2021

 

Editor: Handoyo .
Terbaru