Gapki Prediksi Harga Kelapa Sawit Berpotensi Terkoreksi Tahun Depan

Sabtu, 05 November 2022 | 09:47 WIB   Reporter: Ratih Waseso
Gapki Prediksi Harga Kelapa Sawit Berpotensi Terkoreksi Tahun Depan

ILUSTRASI. Pekerja menyusun tandan buah segar (TBS) kelapa sawit hasil panen di Desa Berkah, Sungai Bahar, Muarojambi, Jambi, Rabu (2/11/2022). Gapki Prediksi Harga Kelapa Sawit Berpotensi Terkoreksi Tahun Depan.


KONTAN.CO.ID -  NUSA DUA. Ketua Bidang Luar Negeri Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan memprediksi, adanya penurunan harga minyak sawit tahun depan lantaran adanya potensi resesi.

Pasalnya pertumbuhan ekonomi memiliki andil dalam harga minyak nabati termasuk sawit.

Kemudian produksi industri minyak kelapa sawit nasional juga tengah mengalami tren penurunan dalam tiga tahun ini. Dimana baik perluasan lahan maupun produktivitas masih stagnan stagnan.

"Kami memprediksi produksi dan konsumsi minyak sawit akan terkoreksi tahun depan. Akibat adanya potensi resesi ekonomi global penurunan harga juga tak terhindarkan," kata Fadhil dalam Indonesia Palm Oil Conference (IPOC) di Nusa Dua, Bali, Jumat (4/11).

Baca Juga: Jumlah Penyerapan Tenaga Kerja di Industri Sawit Bakal Terus Meningkat

Sayangnya Fadhil tak menyampaikan detail berapa proyeksi penurunan harga minyak sawit yang akan terjadi di tahun 2023.

Ia menambahkan, produksi industri kelapa sawit Indonesia sedang dalam tren penurunan, sedangkan dari sisi permintaan terjadi pergeseran konsumsi dari ekspor ke konsumsi domestik. Khususnya dengan adanya mandatori biofuel (biodiesel).

Produksi minyak sawit sebesar 51,6 juta ton pada tahun 2021, yang terdiri dari crude pall oil (CPO) 46,9 juta ton dan palm kernel oil (PKO) sebesar 4,4 juta ton. Tahun ini hingga Agustus atau semester I produksi secara keseluruhan akan sedikit turun menjadi 51,3 juta ton.

Baca Juga: Produksi Sawit Hingga Akhir Tahun Melonjak

Pemerintah berencana meningkatkan mandatori biofuel ke B40 tahun depan. Ia menilai hal tersebut bisa dimungkinkan merupakan langkah yang tepat mengingat lemahnya permintaan dunia akan minyak sawit.

"Rencana pemerintah untuk meningkatkan kebijakan blending (pencampuran/biofuel) ke B40 harus dicermati dengan seksama, untuk memastikan bahwa kebijakan ini akan menghasilkan manfaat net social yang optimal," imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli

Terbaru