Macam-macam Kain Tradisional Indonesia, Dari Kain Songket Hingga Kain Endek Bali

Jumat, 24 Desember 2021 | 14:28 WIB   Penulis: Tiyas Septiana
Macam-macam Kain Tradisional Indonesia, Dari Kain Songket Hingga Kain Endek Bali

ILUSTRASI. Macam-macam Kain Tradisional Indonesia, Dari Kain Songket Hingga Kain Endek Bali. Foto: Pembuatan kain Ulos.

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Indonesia memiliki banyak sekali kekayaan budaya salah satunya adalah kain tradisional khas daerah-daerah di Tanah Air. 

Bersumber dari Instagram Direktorat SD Kemendikbud Ristek, kain tradisional adalah kain yang berasal dari kebudayaan daerah lokal yang dibuat secara tradisional. Biasanya kain tradisional digunakan untuk kepentingan adat dan istiadat daerah tersebut. 

Indonesia memiliki banyak daerah dengan beragam kebudayaan, artinya kain tradisional khas Tanah Air juga cukup banyak. Dari sekian banyak jenis kain tradisional tersebut, ada 6 jenis kain tradisional yang dikenal oleh masyarakat luas. 

Berikut ini 6 macam kain tradisional Indonesia dirangkum dari Instagram Direktorat SD Kemendikbud Ristek. 

Baca Juga: 5 Tradisi Unik Perayaan Hari Raya Natal 25 Desember di Berbagai Negara di Dunia

Kain Sasirangan Banjar

Kain Sasirangan Banjar memiliki sejarah yang cukup panjang. Kain tradisional ini sudah ada sejak abad ke-12 dan menurut penduduk setempat, kain Sasirangan banjar merupakan karya dari patih Lambung Mangkurat. 

Beliau membuat kain ini setelah bertapa di atas rakit Balarut Banyu selama 40 hari 40 malam. Kata sasirangan berasal dari kata menyiram yang memiliki arti menjelujur. 

Kain tradisional ini awalnya digunakan untuk pengobatan tradisional khususnya pada keturunan raja. 

Selain pengobatan, kain sasirangan juga dipakai saat upacara adat seperti melahirkan, acara mandi pengantin, dan upacara Baayun Maulid, dan lain-lain. Kain Sasirangan Banjar memiliki 3 motif utama yaitu motif lajur, ceplok, dan variasi. 

Kain Ulos

Kain tradisional Indonesia selanjutnya berasal dari tanah Sumatera, tepatnya dari suku Batak, Sumatera Utara. Kain Ulos khas Batak biasanya dibuat menggunakan benang kapas dan diwarnai dengan pewarna alami yang berasal dari tanaman. 

Proses pembuatan kain tradisional ini cukup lama dan unik sehingga membuat kain Ulos memiliki ciri khas yang menarik. 

Sama seperti kain tradisional lainnya, masyarakat Batak menggunakan kain Ulos pada upacara adat. Pada awalnya kain ini digunakan sebagai pakaian sehari-hari. 

Kain Ulos juga sering dipakai sebagai penutup kepala hingga selendang selain sebagai pengganti pakaian dan sarung. Kain tradisional Nusantara ini juga dijadikan hadiah seremonial karena menyimbolkan status suku Batak.

Baca Juga: 6 Makanan Khas Natal di Berbagai Negara Ini Bisa Jadi Inspirasi Sajian Keluarga Anda

Kain Endek Bali

Pulau Dewata Bali memiliki segudang karya seni dan budaya yang membuat mata dunia terkagum-kagum. 

Keindahan alam hingga kebudayaan Bali sudah sangat terkenal di seluruh dunia. Tidak heran jika Bali menjadi magnet wisata yang mendatangkan ratusan bahkan ribuan wisatawan mancanegara setiap tahunnya. 

Kata Endek berasal dari kata "endek" atau "ngendek" yang memiliki arti diam atau warna yang tidak berubah. 

Saat pembuatan kain Endek, benang yang diikat dan dicelupkan pada pewarna. Warna pada benang tersebut tidak berubah atau tidak pudar. 

Kain Endek Bali memiliki motif yang beragam yang dikenakan di acara-acara tertentu. Contohnya seperti motif encak saji dan patra yang digunakan pada saat upacara keagamaan. 

Sedangkan motif lain seperti bunga atau tokoh pewayangan digunakan saat di kehidupan sehari-hari atau saat kegiatan sosial. 

Kain Lurik Yogyakarta

Masyarakat Jawa memiliki beragam kain tradisional, salah satunya adalah Lurik. Lurik merupakan kata bahasa Jawa yang berarti lorek atau garis-garis. 

Motif utama kain ini biasanya adalah garis-garis baik vertikal maupun horizontal. Asal dari kain Lurik adalah Yogyakarta. Bahan utama pembuatan kain khas Jawa ini adalah serat kapas, serat kayu, serat sutera, atau serat sintetis. 

Saat ini banyak orang yang menggunakan kain Lurik di acara modern, namun kain ini juga sering digunakan saat upacara adat.  

Kain Lurik khas Jawa biasanya dikenakan saat acara mitoni dan labuhan. Saat ini banyak busana sehari-hari di berbagai daerah yang terbuat dari kain tradisional Indonesia ini. 

Kain Songket Minangkabau

Songket asal Minangkabau memiliki sejarah yang panjang. Kain tradisional Indonesia ini berasal dari Kerajaan Sriwijaya. Melalui Kerajaan Melayu kain dikembangkan hingga masuk ke ranah Minang. 

Kain Songket diyakini diciptakan sebagai media ekspresi karena dahulu masyarakat mengekspresikan perasaannya ke dalam sehelai songket. 

Kain tradisional Songket biasa dikenakan di berbagai upacara adat, mulai dari upacara adat tingkat tinggi seperti upacara Pengangkatan Pemimpin Adat (Batagak Pangulu) maupun upacara pernikahan. 

Motif Songket Minangkabau yang paling terkenal adalah motif Kaluak Paku dan Pucuak Rabuang.

Baca Juga: Cara Membuat Kartu Kuning buat Melamar Pekerjaan, Penting bagi Pencari Kerja

Kain Songket Palembang

Selain Songket Minangkabau, kain Songket tradisional juga bisa ditemukan di Palembang. Songket Palembang merupakan salah satu Warisan Budaya Tak Benda Indonesia yang diresmikan pada tahun 2013. 

Kain Songket Palembang memiliki makna yang filosofis yaitu melambangkan kejayaan, kemakmuran, dan keberanian. Songket berasal dari kata sungkit yang berarti mengait. 

Kain tradisional khas Palembang ini memiliki beberapa jenis seperti Songket Tabur, Sungket Limar, Songket Lepus, Songket Bunga, dan lain-lain. 

Masyarakat Palembang umumnya memakai kain songket saat ritual adat seperti perkawinan, upacara cukur rambut bayi, atau dikenakan oleh penari Gending Sriwijaya.

Selanjutnya: Cek Harga Emas Siang Ini di Pegadaian, Jumat 24 Desember 2021

Editor: Tiyas Septiana
Terbaru