KONTAN.CO.ID - SURAKARTA. Keterbatasan akses air bersih masih menjadi persoalan bagi sebagian masyarakat perkotaan.
Kendala legalitas lahan hingga biaya pemasangan sambungan menjadi hambatan, terutama bagi warga berpenghasilan rendah yang tinggal di kawasan padat penduduk.
Salah satu upaya untuk mengatasi persoalan tersebut dilakukan melalui Program Master Meter di Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Program ini memungkinkan masyarakat memperoleh akses air bersih melalui jaringan perpipaan kolektif yang dikelola kelompok warga.
Manajer Air Limbah PDAM Toya Wening Kota Solo Bayu Tunggul mengatakan, skema Master Meter menjadi alternatif bagi masyarakat yang belum bisa mendapatkan sambungan air secara reguler, antara lain karena status tanah tempat tinggalnya belum memenuhi persyaratan.
Di kawasan Margorejo, Kelurahan Gilingan, misalnya, sebagian rumah warga berdiri di atas lahan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI). Kondisi tersebut membuat pemasangan sambungan air reguler terkendala persyaratan legalitas lahan.
Baca Juga: Siswa SMA Adu Ide Inovatif, dari Solusi Air Bersih hingga Energi Berkelanjutan
Menurut Bayu, alternatif yang selama ini tersedia berupa hidran umum mengharuskan warga mengambil air dari tempat penampungan yang letaknya berdekatan dengan toilet umum. Padahal, akses air minum aman idealnya tersedia hingga ke dalam rumah melalui jaringan perpipaan.
"Untuk Master Meter ini berbeda dengan sambungan reguler, salah satunya dari sisi legalitas," ujar Bayu kepada media pada Kamis (8/10).
Dalam sistem Master Meter, PDAM menyediakan jaringan utama dan meteran induk. Selanjutnya, jaringan dari meteran induk hingga sambungan ke rumah warga dibangun dan dikelola oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM).
Fasilitator Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP) untuk Program Master Meter, Ilham Syaiful Huda, menjelaskan, pembagian tanggung jawab tersebut menjadi bagian penting dalam keberlanjutan program.
PDAM bertanggung jawab atas jaringan hingga meteran induk, sedangkan KSM menangani jaringan distribusi menuju rumah warga, termasuk pencatatan pemakaian, pemeliharaan pipa, dan penanganan kebocoran pada jaringan yang menjadi tanggung jawabnya.
Program Master Meter di Gilingan mulai berjalan sekitar Oktober 2025 dan telah menjangkau sekitar 50 kepala keluarga (KK).
Baca Juga: Jangan Dibuang Kumpulkan di Sini, Botol PET Bekas Kini Bisa Punya Kehidupan Kedua
Sekretaris KSM Mardi Rahayu Katariksa Dani Putra mengatakan, warga mulai merasakan manfaat program tersebut, terutama ketika sejumlah sumur warga mengalami penurunan debit air pada musim kemarau.
Menurut Dani, sebelum program berjalan, masyarakat juga menghadapi persoalan kualitas air dan keterbatasan fasilitas sanitasi.
Ia menambahkan, pada awal pelaksanaan, tidak semua warga langsung percaya terhadap program tersebut. Namun, setelah melihat manfaatnya, semakin banyak warga yang tertarik mendapatkan sambungan air serupa.
Saat ini, warga yang telah menjadi pelanggan membayar tagihan sekitar Rp 4.000 per meter kubik. Sehingga tagihan rata-rata Rp 25.000 hingga Rp 40.000 per bulan, bergantung pada pemakaian. KSM juga menyisihkan dana untuk mengantisipasi kebutuhan perbaikan jaringan dan penggantian peralatan.
Ilham mengatakan, pendampingan kepada masyarakat tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada peningkatan kemampuan warga dalam mengelola sistem secara mandiri.
KSM dibekali pengetahuan mengenai pencatatan meter, pengelolaan keuangan, pemeliharaan jaringan, hingga penyusunan prosedur operasional standar.
Baca Juga: Run & Rise 2026: Saat Ribuan Langkah Berlari untuk Air Bersih Anak Indonesia
Manajer Air Limbah PDAM Toya Wening Kota Solo Bayu Tunggul menyebutkan, perluasan sambungan masih dimungkinkan selama kapasitas jaringan mencukupi.
Namun, penambahan pelanggan perlu mempertimbangkan kemampuan pasokan air dan kesiapan pengelola di tingkat masyarakat.
Program Master Meter tersebut merupakan bagian dari kolaborasi Coca-Cola Foundation Indonesia dengan PDAM Toya Wening, LPTP, dan masyarakat setempat.
Ketua Coca-Cola Foundation Indonesia Triyono Prijosoesilo mengatakan, program tersebut dirancang tidak hanya untuk menyediakan infrastruktur, tetapi juga membangun kemandirian masyarakat dalam mengelola akses air bersih.
Setelah program akses air bersih berjalan, kolaborasi di Gilingan juga diperluas ke pengelolaan sampah berbasis komunitas bersama Resik Plus. Inisiatif ini mencakup pengolahan sampah organik menjadi kompos serta pemilahan sampah anorganik yang masih memiliki nilai jual.
Upaya tersebut diharapkan membantu warga mengelola persoalan lingkungan secara lebih mandiri, sejalan dengan peningkatan akses air bersih di kawasan permukiman padat penduduk.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News