kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45796,59   20,69   2.67%
  • EMAS934.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.78%
  • RD.CAMPURAN 0.40%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.06%

Menengok mesin QR-EDC produksi Bandung, tingkat TKDN mencapai lebih dari 40%


Rabu, 27 November 2019 / 15:53 WIB
Menengok mesin QR-EDC produksi Bandung, tingkat TKDN mencapai lebih dari 40%
ILUSTRASI. Kementerian Perindustrian mengapresiasi peluncuran perdana mesin Quick Response Electronic Data Capture (QR-EDC) yang diproduksi oleh PT. Tata Sarana Mandiri (TSM).

Sumber: Kompas.com | Editor: Yoyok

KONTAN.CO.ID - BANDUNG. Untuk pertama kalinya, Indonesia memproduksi mesin QR-EDC. Mesin ini diklaim menjadi yang pertama di dunia dalam penggunaan teknologi dual screen. 

“Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) produk ini di atas 40%. Ini tentunya sangat membantu pengurangan impor,” ujar Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih di Bandung, Rabu (27/11). 

Baca Juga: MRT Jakarta berencana IPO tahun 2022

Gati mengatakan, harganya pun terjangkau sekitar Rp 1 juta. Berbeda dengan harga impor yang sedikitnya harus merogoh kocek 200 dollar AS. 

“Mesinnya dinamakan TSM QR-EDC. Ini merupakan mesin EDC pertama di dunia yang memiliki teknologi dual screen yang berguna untuk menampilkan menu aplikasi dan kode QR pembayaran, disertai dengan dua kamera depan untuk memindai kode QR dari pelanggan,” tuturnya. 

Perangkat ini merupakan hasil rancangan dan pengembangan TSM bekerjasama dengan PT Hana Master Jaya. Arah pengembangan teknologi dalam mesin QR-EDC ini berdasarkan analisa mendalam mengenai kebutuhan dan tren dunia pembayaran digital yang akan beranjak dari cash/card-based menjadi cash/card-less. 

Baca Juga: LinkAja fasilitasi pembayaran digital di Pasar Peterongan, Semarang

Hadapi revolusi industri 4.0 

Hal tersebut tentunya akan membantu IKM. Apalagi ke depan, segala jenis pembayaran akan semakin cash less. 

“Di tengah masa revolusi industri 4.0 yang merupakan era digitalisasi, IKM dan UMKM yang jumlahnya 99 persen dari total jumlah usaha di Indonesia ini harus mendapat stimulant dan perhatian khusus untuk dapat bersaing dan mengembangkan usahanya,” tuturnya. 

Teknologi ini diharapkan dapat membantu mendigitalisasi sistem transaksi UMKM di Indonesia. Tentunya ini juga peluang untuk mempermudah proses transaksi bagi para IKM di daerah wisata yang sering dikunjungi wisatawan maupun yang berada di wilayah sentra sentra industri kecil. 

Baca Juga: Inklusi Keuangan dan Budaya Non-Tunai

CEO PT Tata Sarana Mandiri, Yovita Bellina Lim mengatakan, penggunaan komponen lokal dalam mesin ini masih di angka 40%. Hal ini karena ada sejumlah komponen elektronik yang harus diimpor. 

Untuk itu ia berharap pemerintah memberikan banyak kemudahan agar investor bisa mengembangkan komponen elektronik itu di Indonesia. “Kalau bicara target, kami menyasar 60 juta-65 juta UMKM yang ada di Indonesia,” katanya. (Reni Susanti)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Tekan Impor, Indonesia Produksi Sendiri Mesin QR-EDC",



TERBARU

[X]
×