Mengenal Sultan Thaha Syaifuddin, Pemimpin Perjuangan Rakyat Jambi

Senin, 29 Agustus 2022 | 09:59 WIB   Reporter: Tendi Mahadi
Mengenal Sultan Thaha Syaifuddin, Pemimpin Perjuangan Rakyat Jambi

ILUSTRASI. Makam Sultan Thaha Syaifuddin.


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekspedisi Sungai Batanghari bagian dari Kenduri Swarnabhumi yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) memasuki etape kedua yakni Kabupaten Tebo di Provinsi Jambi.

Bertetangga dengan Dharmasraya, Kabupaten Tebo dikenal sebagai salah satu sentra perdagangan di daerah aliran sungai (DAS) Batanghari. Berbagai peninggalan berupa Candi, bangunan peninggalan belanda, produk kuliner, kain batik maupun tarian menunjukkan pentingnya wilayah Tebo di masa lalu.

Destinasi yang cukup terkenal di Kota Tebo adalah Taman Tanggo Rajo. Sebuah taman di pusat Kota Tebo dimana Sultan Thaha Syaifuddin dimakamkan. Tak jauh dari taman, terdapat sebuah bangunan mirip benteng peninggalan Belanda menandakan sengitnya perlawanan rakyat Jambi saat itu.

Sejarah menuturkan perlawanan diinisiasi oleh ayah Sultan Thaha yakni Sultan Muhammad Fakhruddin yang menolak menjadi penguasa boneka yang dikendalikan oleh Belanda. Kemudian diteruskan oleh puteranya, Sultan Thaha yang naik tahta pada usia 39 tahun.

Baca Juga: BMKG Beri Peringatan Dini Cuaca Hari Ini Hujan Lebat, Status Daerah Ini Siaga Bencana

Namun, lambat laun, Kesultanan Jambi terus terdesak. Sultan Thaha yang bernama asli Raden Toha Jayaningrat bersama pengikutnya terpaksa meninggalkan pusat pemerintahan Kesultanan Jambi di kawasan Tanah Pilih, Kota Jambi dan menuju ke pedalaman Sungai Batanghari.

Menurut Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Tebo, Mardiansyah, Sungai Batanghari menjadi pusat perjuangan Sultan Thaha dan rakyat Jambi yang mengandalkan transportasi air sebagai penopang operasi gerilya.  

Setelah melancarkan perlawanan pada penjajah hampir 50 tahun lamanya sebelum akhirnya gugur dalam serangan mendadak di Tebo pada 26 April 1904.

Tim ekspedisi Sungai Batanghari Kemendikbudristek menyempatkan untuk ziarah je makam Pahlawan Nasional tersebut. Area makam tepat berada di tengah-tengah taman di bawah sebuah bangunan pendopo yang cukup luas. Untuk masuk dan berziarah ke makam, tidak dikenakan biaya atau gratis. 

Mardiansyah mengungkapkan bahwa Kota Tebo sejak dahulu dikenal dg Kota Sejarah karena banyaknya peninggalan-peninggalan zaman dahulu. “Kemudian terdapat banyak ragam budaya salah satunya adalah makan nasi ibat setiap ada acara-acara resmi negeri,” kata Mardiansyah dalam keterangannya, Senin (29/8).

Baca Juga: Kemenparekraf: Implementasi PP 24 Tahun 2022 Masih dalam Kajian

Beberapa peninggalan Candi dari Kabupaten Tebo diantaranya situs Candi Tuo Suman dan Situs Candi Gedong Teluk Kuali. Kemudian beberapa bangunan benteng peninggalan Belanda berada di kawasan Tanggo Rajo kota Tebo.

Selain itu, Kabupaten Tebo juga adalah salah satu pusat perdagangan. Menurut Puteri Jambi 2022 Cindy Novela, hal ini dibuktikan dengan keberadaan pasar apung Tanggo Rajo. Sungai Batanghari digunakan oleh masyarakat untuk kepentingan transportasi baik ekonomi maupun militer. 

“Kebutuhan masyarakat dipenuhi dari sungai. Pada dasarnya Sungai Batanghari memang sumber peradaban dan kehidupan masyarakat Tebo,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi

Terbaru