UMKM

Omzet warteg di Jabodetabek anjlok 50% imbas corona

Minggu, 29 Maret 2020 | 21:29 WIB   Reporter: Ratih Waseso
Omzet warteg di Jabodetabek anjlok 50% imbas corona

ILUSTRASI. Konsumen melakukan pembayaran dengan fitur quik response code (QR code) di salah satu Warteg di Jakarta, Jumat (14/9). KONTAN/Carolus Agus Waluyo.

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pandemi Covid-19 juga menghantam para pelaku usaha warung tegal atau biasa disebut warteg. Ketua Komunitas Warung Nusantara (Kowantara) Mukroni menyampaikan saat ini para anggota Kowantara mayoritas alami penurunan lebih dari 50%.

Biasanya sebelum adanya wabah Covid-19 rata-rata pengusaha warteg memperoleh penghasilan Rp 1 juta - Rp 2 juta untuk warteg dengan skala kecil. Adapun warteg dengan skala besar mampu dapatkan omzet hingga Rp 5 juta per hari.

Kowantara sendiri memiliki koperasi yang ada di Jakarta dengan anggota terdaftar 6.000 pelaku usaha warteg dan ada 1.000 angota aktif. Sedangkan untuk anggota komunitas Kowantara sendiri berjumlah 40.000 anggota dengan cakupan wilayah Jabodetabek.

Dari total anggota Kowantara se Jabodetabek, ada sekitar 25% sudah tutup untuk sementara lantaran wabah Covid-19.

Baca Juga: Menjajal Konsep Warung Tegal Gaya Milenial

"Ada tiga hal yang dihadapi pelaku usaha warteg. Pertama, daya beli turun, kedua omzet turun dan ketiga barang-barang pada naik," tutur Mukroni saat dihubungi Kontan.co.id, Minggu (29/3).

Baca Juga: Menjadikan warung makan melek digital lewat Wahyoo

Tak hanya omzet penjualan offline saja yang turun, penjualan secara online pun diakui Mukroni juga alami hal yang sama. Penjualan secara online juga turun 50% dari biasanya.

Baca Juga: Kisah Sayudi membangun kerajaan Warteg Kharisma Bahari

"Online saja turun, kenapa? Mungkin orang sekarang lebih milih masak sendiri. Kebanyakan yang pakai online itukan karyawan nah karyawan sekarang libur dan ada yang pulang kampung, ada mahasiswa juga libur. Lalu driver ojol biasanya makan di kami, karena orderan sepi jadi mereka juga sepi," ungkap Mukroni.

Mukroni meminta agar pemerintah mengeluarkan solusi di tengah adanya wabah bagi para pelaku usaha termasuk pengusaha warteg. Ia meminta adanya bantuan seperti keringanan pembayaran biaya listrik atau sewa lokasi hingga pinjaman modal.

"Pemerintah harus atasi kalau misal karantina wilayah. Kami disini hidup kontrak, bayar listrik lalu sewa tapi sekarang tidak ada pendapatan, mau pulang kampung tidak bisa karena kebijakan tidak boleh. Serba susah sebagai pengusaha urban dengan kondisi sekarang. Kondisi sudah miris dan paling tidak harus ada solusi,” harapnya.

Beruntung, menurut Mukroni sudah ada satu lembaga yang memberi bantuan. Bantuan tersebut berupa donasi dengan menyediakan nasi bungkus bagi para driver ojek online yang bekerjasama dengan warteg Kowantara.

Editor: Markus Sumartomjon
Terbaru