Pramono Anung: Jakarta Bidik Top 50 Kota Global Dunia 2029

Jumat, 06 Februari 2026 | 02:50 WIB
Pramono Anung: Jakarta Bidik Top 50 Kota Global Dunia 2029

ILUSTRASI. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung membeberkan komitmen membawa Jakarta ke posisi 50 kota global 2029. (DOK/Bank DKI)


Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie  | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk membawa Jakarta menembus 50 besar kota global dunia pada tahun 2029. Target ambisius ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang Jakarta dalam memperkuat daya saing di tingkat internasional.

Komitmen tersebut disampaikan Pramono saat menghadiri peluncuran Indonesia City Investment Accelerator (ICIA) dalam rangkaian Indonesia Economic Summit (IES) di Hotel Shangri-La Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Mengutip InfoPublik.id, saat ini, peringkat Jakarta berada di posisi ke-71 kota global dunia, meningkat dari peringkat ke-74 pada periode sebelumnya. Pramono optimistis, dengan berbagai kebijakan strategis yang tengah dijalankan, Jakarta mampu menembus peringkat di atas 60 pada 2026 sebagai pijakan menuju target 50 besar kota global.

“Saya berharap pada tahun ini Jakarta bisa berada di atas peringkat 60 sebagai bagian dari target besar masuk 50 kota global dunia pada 2029,” ujar Pramono.

Pramono menuturkan, pembangunan Jakarta bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu penguatan infrastruktur berkelanjutan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penciptaan ekosistem bisnis yang transparan dan terbuka. Menurutnya, ekosistem bisnis yang sehat menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan investor dan komunitas internasional.

“Kita ingin masyarakat internasional dan para investor memiliki confidence dan trust terhadap Jakarta. Tanpa kepercayaan, pembangunan dan investasi tidak akan berjalan optimal,” tegasnya.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Jakarta Tahun 2025 Lebih Baik Dari Nasional

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, kinerja ekonomi Jakarta tetap menunjukkan ketahanan. Pada triwulan III 2025, ekonomi Jakarta tumbuh sebesar 4,96% secara tahunan. Capaian ini mencerminkan stabilitas ekonomi Jakarta di tengah tekanan global dan kompleksitas tantangan perkotaan.

Realisasi investasi Jakarta juga mencatatkan tren positif. Sepanjang 2025, investasi kumulatif mencapai US$ 16,9 miliar atau meningkat sekitar 12% dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini menunjukkan tingginya tingkat kepercayaan dunia usaha terhadap iklim investasi di Jakarta.

“Di tengah kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian, realisasi investasi Jakarta justru meningkat. Ini menandakan kepercayaan terhadap Jakarta masih sangat tinggi,” kata Pramono.

Untuk menopang pertumbuhan jangka panjang, Pemprov DKI Jakarta terus memperkuat sistem transportasi publik melalui perluasan jaringan MRT dan LRT, serta pengembangan layanan Transjakarta hingga kawasan Bodetabek. Penguatan konektivitas ini turut mendorong peningkatan peringkat Jakarta ke posisi ke-17 dari 50 kota dunia dalam sistem transportasi publik versi survei Time Out 2025.

“Transportasi publik adalah tulang punggung kota global. Peringkat ini menjadi bukti bahwa arah kebijakan yang kami ambil sudah berada di jalur yang tepat,” ungkapnya.

Tonton: Arief Hidayat: Putusan Batas Usia Capres Cawapres Jadi Titik Awal Indonesia Tidak Baik-baik Saja

Selain transportasi, Pemprov DKI Jakarta juga mengembangkan kawasan berbasis Transit Oriented Development (TOD) seperti Blok M Hub, serta memperluas akses hunian layak melalui program perumahan dan peningkatan kapasitas rumah susun.

Di sektor investasi, Pemprov DKI Jakarta meluncurkan Jakarta Investment Master Plan 2025–2045, menyederhanakan 44 jenis perizinan usaha, serta memberikan insentif bagi investor yang berorientasi pada keberlanjutan. Berbagai inisiatif promosi seperti Jakarta Investment Festival dan Investment Project Ready-to-Offer juga terus diperkuat.

Pemprov DKI Jakarta turut memperkenalkan Jakarta Collaboration Fund sebagai mekanisme pembiayaan inovatif untuk mendukung pembangunan daerah tanpa membebani anggaran.

Jakarta Collaboration Fund bukan sekadar instrumen pembiayaan, tetapi fondasi ketahanan fiskal Jakarta agar mampu menjalankan inisiatif strategis secara lebih mandiri,” jelas Pramono.

Melalui forum Indonesia Economic Summit, Pramono berharap terjalin kolaborasi konkret antara pemerintah, sektor swasta, dan mitra pembangunan untuk mempercepat terwujudnya ekosistem investasi perkotaan yang berkelanjutan.

“Kami berharap forum ini menghasilkan kerja sama nyata bagi Jakarta dan Indonesia, demi membangun kota global yang berdaya saing dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Selanjutnya: Mengejutkan! Indonesia 902 Kali Disebut Dokumen Epstein, Ada Apa?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tag

Terbaru