KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Himpunan Alumni Tanah IPB (Himpunan Alumni Tanah IPB/HATI) menggagas pengembangan proyek karbon di sektor pertanian sebagai peluang ekonomi baru sekaligus instrumen transisi menuju pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim.
Inisiatif ini diarahkan agar pertanian tidak hanya produktif, tetapi juga bernilai tambah melalui pasar karbon yang kredibel.
“Pertanian Indonesia berada di persimpangan: menjadi korban perubahan iklim atau pelaku utama mitigasi melalui proyek karbon yang berkeadilan,” kata Ketua HATI Agustinus Toko Susetio dalam siaran pers, Senin (2/3/3036).
Gagasan tersebut mengemuka dalam seminar “Pengembangan Carbon Project di Sektor Pertanian” di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, Dramaga, Bogor, Sabtu (28/2), yang menjadi bagian dari road to Seminar Nasional 2026.
Baca Juga: Menteri KLH Dorong Nilai Ekonomi Karbon Mengalir ke Masyarakat Desa
Forum ini mempertemukan akademisi, perencana pembangunan, lembaga riset, pelaku pasar karbon global, hingga pengembang proyek untuk mengonsolidasikan arah pengembangan proyek karbon pertanian.
HATI menekankan perlunya proyek yang bankable, berintegritas, dan berpihak pada petani. Fokus utamanya mencakup tata kelola transparan, sistem pengukuran–pelaporan–verifikasi (MRV) yang kredibel, serta skema pembagian manfaat yang adil agar proyek menarik bagi investor dan berdaya saing internasional.
Perwakilan IPB University menegaskan peran kampus dalam memastikan transisi ekonomi hijau berbasis sains. Landasan ilmiah ilmu tanah dinilai krusial karena tanah merupakan carbon sink jangka panjang yang harus diukur dan dilaporkan secara akurat.
Dari sisi kebijakan, pembicara kunci menilai proyek karbon pertanian dapat menjembatani agenda penurunan emisi dan ketahanan pangan nasional. Namun, keberhasilan mensyaratkan kesiapan regulasi, teknologi, serta penguatan kelembagaan petani agar memenuhi tuntutan pasar karbon global seperti additionality dan pencegahan double counting.
Baca Juga: Bocoran dari Kertanegara: Stimulus Ekonomi Baru Siap Dirilis Mulai Pekan Ini
Diskusi juga menyoroti tantangan biaya MRV, risiko alih fungsi lahan, serta kebutuhan agregasi petani untuk menekan biaya dan meningkatkan skala ekonomi. Kesimpulannya, potensi ekonomi karbon pertanian Indonesia besar, tetapi hanya akan terwujud jika proyek dibangun berbasis sains, berintegritas tinggi, dan melindungi petani sebagai aktor utama.
HATI menyebut forum ini sebagai langkah awal menuju Seminar Nasional 2026 yang ditargetkan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang lebih terstruktur dan implementatif bagi pengembangan ekonomi karbon pertanian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News