Santri Meninggal Diduga Dianiaya, Ini Profil Ponpes Gontor yang Berdiri Sejak 1926

Selasa, 06 September 2022 | 14:01 WIB   Reporter: Adi Wikanto
Santri Meninggal Diduga Dianiaya, Ini Profil Ponpes Gontor yang Berdiri Sejak 1926

ILUSTRASI. Santri Meninggal Diduga Dianiaya, Ini Profil Ponpes Gontor yang Berdiri Sejak 1926


KONTAN.CO.ID - Jakarta. Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor (PPMD) atau Ponpes Gontor tengah menjadi sorotan akibat kasus kematian seorang santri. Berikut profil Ponpes Gontor.

Rasa duka mendalam dialami Soimah, seorang ibu asal Palembang, Sumatera Selatan. Ia kehilangan buah hatinya berinisial AM yang sedang sekolah di Pondok Pesantren Moderen Darussalam Gontor.

Dilansir dari Kompas.com, Soimah mengatakan, awalnya mendapat kabar dari ponpes bahwa anaknya meninggal karena kelelahan saat mengikuti Perkemahan Kamis Jumat (Perkajum). Kabar tersebut didapatkan Soimah dari Ustad Agus, pengasuh Gontor 1 pada Senin (22/8/2022) sekitar pukul 10.20 Wib.

“Akhirnya almarhum tiba di Palembang pada Selasa siang, 23 Agustus 2022, diantar oleh pihak Gontor 1 dipimpin ustad Agus. Itu pun saya tidak tahu siapa ustad Agus itu, hanya sebagai perwakilan,” tulis Soimah dalam surat terbuka yang dia buat dan telah dikonfirmasi Kompas.com, Senin (5/9/2022).

Namun, Soimah mendapatkan laporan dari Wali Santri Pondok Pesantren Moderen Darussalam Gontor lain yang menyebutkan bahwa AM bukan meninggal karena kelelahan. Pihak keluarga akhirnya meminta peti jenazah AM dibuka.

Keluarga melihat kondisi korban bukanlah meninggal akibat kelelahan, tetapi diduga akibat kekerasan. “Sungguh sebagai ibu saya tidak kuat melihat kondisi mayat anak saya demikian begitu juga dengan keluarga. Amarah tak terbendung, kenapa laporan yang disampaikan berbeda dengan kenyataan yang diterima. Karena tidak sesuai, kami akhirnya menghubungi pihak forensik dan pihak rumah sakit sudah siap melakukan otopsi,” jelasnya.

Baca Juga: Waketum Dewan Masjid Kunjungi Gontor Bahas Perkembangan Umat Islam

Setelah didesak, pihak Pesantren Gontor 1 yang mengantarkan jenazah AM, mengakui bahwa AM menjadi korban kekerasan. “Saya pun tidak bisa membendung rasa penyesalan saya telah menitipkan anak saya di sebuah pondok pesantren yang nota bene nomor satu di Indonesia,” ungkapnya.

Usai mendapatkan pengakuan dari pihak pondok pesantren Gontor, Soimah memutuskan untuk tidak jadi melakukan otopsi karena tidak ingin tubuh putranya tersebut "diobarak-abrik".

Ponpes Gontor minta maaf

Melalui keterangan resmi, pihak Ponpes Gontor melalui Juru bicaranya Noor Syahid, menyampaikan permohonan maaf sekaligus menyatakan dukacita atas wafatnya AM. “Kami sangat menyesalkan terjadinya peristiwa yang berujung pada wafatnya almarhum. Dan sebagai pondok pesantren yang concern terhadap pendidikan karakter anak, tentu kita semua berharap agar peristiwa seperti ini tidak terjadi lagi di kemudian hari,” kata Noor Syahid, lewat keteranga tertulis.

Ponpes Gontor juga meminta maaf kepada orangtua dan keluarga korban bila dalam proses pengantaran jenazah dianggap tidak jelas dan terbuka. Noor menjelaskan, berdasarkan temuan tim pengasuhan santri, pihaknya menemukan adanya dugaan penganiayaan yang menyebabkan AM meninggal.

Menyikapi hal itu, pihak ponpes Gontor langsung bertindak dengan menindak atau menghukum mereka yang terlibat dugaan penganiayaan tersebut. Menurut Noor, pada hari yang sama ketika korban meninggal, Pondok Pesantren Moderen Darussalam Gontor Ponorogo langsung mengeluarkan pelaku dari ponpes secara permanen dan langsung mengantarkan mereka kepada orangtua mereka masing-masing.

“Pada prinsipnya kami, Pondok Modem Darussalam Gontor tidak memberikan toleransi segala aksi kekerasan di dalam lingkungan pesantren, apa pun bentuknya, termasuk dalam kasus almarhum AM ini,” jelas Noor Syahid.

Poin terakhir, Pondok Pesantren Moderen Darussalam Gontor Ponorogo siap untuk mengikuti segala bentuk upaya penegakan hukum terkait peristiwa wafatnya almarhum AM ini.

Profil Ponpes Gontor

Ponpes Gontor salah satu pondok pesantren yang terletak di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Ponpes Gontor ini terkenal dengan penerapan disiplin, penguasaan bahasa asing (Arab dan Inggris), kaderisasi dan jaringan alumni yang sangat kuat.

Ponpes Gontor berdiri pada 20 September 1926. Pendiri Ponpes Gontor adalah KH Ahmad Sahal, KH Zainudin Fananie, KH Imam Zarkasyi.

Mengutip Wikipedia dan situs resmi Gontor.ac.id, cikal bakal Pondok Modern Darussalam Gontor bermula pada abad ke-18, saat Kyai Ageng Hasan Besari mendirikan Pondok Tegalsari di Desa Jetis Ponorogo Jawa Timur (10 KM ke arah selatan kota Ponorogo).

Pondok Tegalsari sangat termasyhur pada masanya, sehingga didatangi ribuan santri dari berbagai daerah di pelosok nusantara. Kepemimpinan Pondok Tegalsari berlangsung selama enam generasi.

Berbekal 40 santri yang dibawa dari Pondok Tegalsari, Kyai RM Sulaiman Djamaluddin bersama istrinya mendirikan Pondok Gontor Lama di sebuah tempat yang terletak ± 3 kilometer sebelah timur Tegalsari dan 11 kilometer ke arah tenggara dari kota Ponorogo. Pada saat itu, Gontor masih merupakan hutan dan kerap kali dijadikan persembunyian perampok, penjahat, dan penyamun.

Kepemimpinan Ponpes Gontor Lama berlangsung selama tiga generasi:

  • Generasi 1: Kyai RM Sulaiman Djamaluddin (pendiri Pondok Gontor Lama)
  • Generasi 2: Kyai Archam Anom Besari (putra Kyai RM Sulaiman)
  • Generasi 3: Kyai Santoso Anom Besari (putra Kyai Archam Anom Besari)

Kepemimpinan Ponpes Gontor Lama pun akhirnya berakhir. Di kemudian hari, tiga dari tujuh putra-putri Kyai Santoso Anom Besari menghidupkan kembali Pondok Gontor Lama dengan memperbarui dan meningkatkan sistem serta kurikulumnya.

Setelah menuntut ilmu di berbagai pesantren tradisional dan lembaga modern, tiga orang putra Kyai Santoso Anom akhirnya kembali ke Gontor dan pada tanggal 20 September 1926 bertepatan dengan 12 Rabiul Awwal 1345, dalam peringatan Maulid Nabi SAW, mereka mengikrarkan berdirinya Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG).

Ketiganya dikenal dengan sebutan Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, yaitu:

  • KH Ahmad Sahal (1901–1977)
  • KH Zainudin Fananie (1908–1967)
  • KH Imam Zarkasyi (1910–1985)

Pada tanggal 12 Oktober 1958 bertepatan dengan 28 Rabi’ul Awwal 1378, Trimurti mewakafkan PMDG kepada Umat Islam. Sebuah pengorbanan kepemilikan pribadi demi kemaslahatan umat.

Pihak penerima amanat diwakili oleh 15 anggota alumni Gontor (IKPM) yang kemudian menjadi Badan Wakaf PMDG.

Sejak saat itu, ponpes Gontor terus berkembang. Kini ponpes Gontor memiliki sekitar 2.500 santri dari berbagai wilayah di Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Adi Wikanto

Terbaru