KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Wilayah Sumatera terus memastikan kualitas pembangunan hunian tetap (huntap) bagi masyarakat terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan hunian yang dibangun memenuhi standar kualitas, aman, dan layak ditempati oleh masyarakat. Pembangunan huntap menjadi bagian penting dari upaya pemulihan pascabencana, sekaligus mendukung masyarakat agar dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.
Saat meninjau pembangunan hunian tetap (huntap) di Kampung Wonosobo, Kecamatan Wih Pesam, Ketua Tim Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Wilayah Aceh, Imran, menekankan pentingnya kualitas fondasi dalam proses pembangunan. “Fondasi harus betul-betul kuat, harus betul-betul bagus,” ujar Imran dalam keterangannya dikutip Minggu (18/10/2026).
Baca Juga: Respons Menteri PU Setelah Viral Warga Patungan Perbaiki Jalan Emang-Emang di Aceh
Menurut dia, kekuatan fondasi menjadi salah satu faktor utama yang menentukan kekokohan bangunan. Karena itu, pemadatan tanah dan penyiapan lahan perlu dilakukan dengan baik agar rumah berdiri di atas permukaan yang stabil.
Apalagi, huntap tersebut menggunakan sistem konstruksi dengan sambungan baut. Dengan memperhatikan kualitas fondasi sejak awal, pembangunan diharapkan menghasilkan hunian yang kokoh, aman, dan layak ditempati masyarakat terdampak bencana.
Sebanyak 64 unit hunian tetap (huntap) tipe 36 dibangun di Kampung Wonosobo, Bener Meriah, dengan anggaran sekitar Rp 16,6 miliar yang bersumber dari APBN melalui kementerian terkait. Untuk mendukung proyek tersebut, Pemerintah Kabupaten Bener Meriah menyediakan lahan seluas sekitar 1,4 hektare sebagai kawasan hunian komunal.
Pembangunan huntap tidak hanya mencakup rumah, tetapi juga prasarana pendukung. Jalan lingkungan, drainase, jaringan air bersih, dan listrik perlu disiapkan agar hunian dapat digunakan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari warga. Aspek keamanan lokasi juga menjadi perhatian, mengingat sejumlah wilayah di Bener Meriah memiliki potensi risiko bencana.
Project Manager PT Silumba Lumba Bintang Sempurna, Tampak Ginting, menyatakan kesiapan untuk menambah tenaga kerja sesuai kebutuhan. Pengaturan jumlah pekerja dan waktu kerja akan disesuaikan dengan tahapan konstruksi serta kondisi cuaca.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Dorong Upaya Pemulihan Pasca Banjir Bandang di Kabupaten Solok
Percepatan pembangunan menjadi salah satu fokus pemerintah dan pelaksana proyek. Meski demikian, penyelesaian pekerjaan tetap perlu memperhatikan standar konstruksi dan kesiapan fasilitas pendukung agar rumah yang dibangun benar-benar layak dihuni.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Bener Meriah menyampaikan bahwa pembangunan 64 unit hunian komunal tersebut telah dimulai. Penyediaan lahan menjadi salah satu bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap proyek yang didanai APBN itu.
Bagi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana, pembangunan huntap menjadi bagian penting dari pemulihan jangka panjang. Karena itu, keberhasilan proyek tidak hanya diukur dari jumlah rumah yang selesai dibangun, tetapi juga dari keamanan bangunan dan kelengkapan fasilitas di lingkungan hunian.
Kualitas fondasi, keamanan lokasi, serta ketersediaan air bersih, listrik, jalan, dan drainase menjadi faktor penting untuk memastikan kawasan tersebut siap ditempati.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News