kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45770,96   1,15   0.15%
  • EMAS930.000 0,22%
  • RD.SAHAM -0.09%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.02%

Sekitar 19.000 ternak babi di wilayah NTT mati akibat penyakit flu babi Afrika


Rabu, 17 Juni 2020 / 15:27 WIB
Sekitar 19.000 ternak babi di wilayah NTT mati akibat penyakit flu babi Afrika
ILUSTRASI. Peternakan babi. KONTAN/Daniel Prabowo/28/04/2009

Sumber: Kompas.com | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - KUPANG. Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT Dani Suhadi mengatakan, sekitar 19.000 ternak babi di wilayah itu mati akibat penyakit flu babi Afrika (ASF). Jumlah itu tercatat sejak awal Februari sampai pertengahan Juni 2020. 

Belasan ribu ternak yang mati itu tersebar di sejumlah kota atau kabupaten di NTT. Seperti Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu, Malaka, Sabu Raijua, Rote Ndao, Alor, Sumba Barat, dan Sumba Barat Daya. 

Baca Juga: Kinerja Emiten Saham di BEI Masih Bakal Lesu di Kuartal II-2020

"Khusus untuk Kota dan Kabupaten di daratan Pulau Timor, penyebab matinya babi yakni akibat virus AFS, sedangkan wilayah lainnya, belum diketahui persis, tapi dilihat dari penampakan klinis dugaannya AFS," kata Dani saat dihubungi Kompas.com, Rabu (17/6/2020). 

Pemprov NTT belum mengetahui penyebab kematian ternak babi di Pulau Sumba. Sampel organ ternak yang mati belum dikirim ke Laboratorium Veteriner Medan karena pembatasan penerbangan akibat pandemi Covid-19. Menurut Dani, tak ada kasus kematian ternak babi di kabupaten dan kota yang berada di Pulau Flores dan Pulau Lembata. 

Baca Juga: Ini sektor prioritas yang akan dibuka lebih dulu saat new normal

Dani menjelaskan, angka kematian ternak babi mulai menurun sejak akhir Mei hingga Juni. Penurunan diduga terjadi karena pembatasan kegiatan selama pandemi Covid-19. "Puncaknya itu di April lalu dan sekarang sudah mulai menurun. Khusus di Kota Kupang sudah turun sehingga aktivitas untuk kegiatan beternak babi mulai kembali normal," ujar dia. 

Dani menyebut, belum adanya vaksin dari virus flu babi Afrika membuat Pemprov NTT dan peternak kewalahan menghadapinya. Virus AFS itu, lanjut Dani, sangat ganas dengan tingkat penularan yang cepat. Sehingga, ternak bisa mati jika tak ditangani dengan cepat.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "19.000 Ternak Babi Mati akibat Virus ASF di NTT"




TERBARU

[X]
×