Jawa Tengah

Sudah Divaksin, Kasus Polio Di Klaten Tetap Terjadi, Ini Penyebabnya Menurut Kemkes

Senin, 08 Januari 2024 | 07:06 WIB   Reporter: Adi Wikanto
Sudah Divaksin, Kasus Polio Di Klaten Tetap Terjadi, Ini Penyebabnya Menurut Kemkes

ILUSTRASI. Sudah Divaksin, Kasus Polio Di Klaten Tetap Terjadi, Ini Penyebabnya Menurut Kemkes


Kasus Polio Di Klaten - Jakarta. Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio akan digelar serentak di Indonesia mulai 15 Januari 2024. PIN Polio untuk mencegah bertambahnya kasus polio yang belakangan ditemukan di Klaten, Jawa Tengah dan Pamekasan, Jawa Timur. Meskidemikian, penemuan kasus polio di Klaten pun sebenarnya sudah mendapat vaksin. Lalu, apa penyebab kasus polio di Klaten dan Pamekasan?

Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI mendapatkan laporan ditemukannya tiga penyakit kasus lumpuh layu akut (Acute flaccid paralysis/AFP) yang disebabkan oleh Virus Polio Tipe Dua.

Dua kasus polio ditemukan di Klaten, Jawa Tengah dan Pamekasan, Jawa Timur pada Desember 2023. Kemudian satu kasus poliso lainnya ditemukan di Jawa Timur pada 4 Januari 2024.

“Pada bulan Desember 2023 telah ditemukan dua kasus lumpuh layu akut yang disebabkan oleh virus polio dengan kronologis kasus yang berbeda. Satu kasus imunisasi polionya tidak lengkap, satu lagi status imunisasinya lengkap tapi mengalami malnutrisi,” kata dr. Maxi Rein Rondonuwu  selaku Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dalam keterangan resmi.

Kasus polio atau lumpuh layu akut pertama dialami oleh anak perempuan berusia 6 tahun, berdomisili di Klaten, Jawa Tengah, dan berinisial NH. Berdasarkan pengakuan orang tua, NH mengalami lumpuh layu akut pada 20 November 2023 dengan riwayat imunisasi polio tetes (OPV) hanya dua kali.

Kasus lumpuh layu akut kedua dialami oleh anak laki-laki berusia 1 tahun 11 bulan, berdomisili di Jawa Timur, dan berinisial MAF. MAF mengalami lumpuh pada 22 November 2023 dengan riwayat imunisasi lengkap tapi hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ia mengalami malnutrisi.

Berdasarkan hasil pemeriksaan Laboratorium Rujukan Polio Nasional BBLK Surabaya dan hasil sekuensing dari Laboratorium Bio Farma Bandung pada 20 dan 22 Desember 2023, NH dan MAF menunjukkan positif Virus Polio Tipe 2.

Sementara itu, kasus lumpuh layu akut ketiga dialami oleh anak laki-laki berusia 3 tahun 1 bulan, berdomisili di Jawa Timur, dan berinisial MAM. MAM mengalami lumpuh pada 6 Desember 2023 dengan riwayat imunisasi polio tetes 4 kali dan polio suntik (IPV) 1 kali berdasarkan pengakuan orang tua. Selanjutnya, hasil pemeriksaan Laboratorium Rujukan Polio Nasional BBLK Surabaya dan hasil sekuensing dari Laboratorium Bio Farma Bandung pada 4 Januari 2024 menunjukan positif Virus Polio Tipe 2.

Maxi menjelaskan, polio adalah salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Virus Polio dapat menular melalui air yang terkontaminasi dengan tinja yang mengandung Virus Polio.

“Beberapa faktor risiko terjadinya penularan Virus Polio adalah rendahnya cakupan Imunisasi Polio, kondisi kebersihan lingkungan dan perilaku hidup bersih yang kurang baik seperti Buang Air Besar (BAB) sembarangan baik itu di sungai ataupun pada sumber air yang juga digunakan pada kehidupan sehari-hari,” kata dr. Maxi.

dr. Maxi menjelaskan jika Virus Polio tersebut masuk ke dalam tubuh anak yang belum mendapatkan imunisasi polio atau imunisasi polionya tidak lengkap. virus polio akan sangat mudah berkembang biak di dalam saluran pencernaan dan menyerang sistem saraf anak sehingga menyebabkan kelumpuhan.

Mencegah kasus polio di Klaten

Untuk menanggulangi dan memutus transmisi penularan kasus polio di Klaten dan Pamekasan, Kemkes mengimbau masyarakat untuk berperan aktif. Pertama, masyarakat harus memastikan anak-anak mereka memperoleh imunisasi rutin polio lengkap sesuai usia, yaitu 4 kali polio tetes dan 2 kali polio suntik, sebelum usia 1 tahun.

Kedua, memastikan seluruh anak usia 0 sampai 7 tahun di seluruh wilayah provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur serta Kabupaten Sleman Provinsi DIY memperoleh 2 dosis imunisasi polio tetes tambahan pada kegiatan Sub Pekan Imunisasi Nasional (Sub PIN) yang akan dilaksanakan mulai 15 Januari 2024. Ketiga, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk buang air besar (BAB) di jamban dengan septic tank dan cuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah buang air.

Keempat, masyarakat diimbau segera melapor kepada petugas kesehatan atau puskesmas terdekat bila menemukan anak usia di bawah 15 tahun dengan gejala lumpuh layu mendadak.

Diberitakan Kompas.com, PIN Polio tahun 2024 akan berlangsung dua kali. Hal itu sesuai dengan Surat Edaran Menteri Kesehatan Nomor 1051 Tahun 2023 yang diterbitkan pada 29 Desember 2023.

PIN Polio dilakukan dengan memberikan vaksin oral nOPV2 ke seluruh sasaran anak usia 0-7 tahun tanpa memandang status imunisasi sebelumnya. Sub-PIN Polio dilakukan dua putaran dengan putaran pertama pada 15 Januari 2024 dan putaran kedua pada 19 Februari 2024.

Tanda-tanda polio

Kompas.com juga memberikan, kebanyakan orang yang terinfeksi virus polio tidak menunjukkan tanda-tanda apa pun. Sekitar 1 dari 4 orang (atau 25 dari 100) penderita infeksi virus polio akan mengalami tanda-tanda mirip flu yang meliputi:

  • Sakit tenggorokan
  • Demam
  • Kelelahan
  • Mual
  • Sakit kepala
  • Sakit perut.

Tanda-tanda polio seperti ini biasanya berlangsung selama 2 hingga 5 hari, kemudian hilang dengan sendirinya. Sebagian kecil orang yang terinfeksi virus polio akan mengalami gejala lain yang lebih serius yang memengaruhi otak dan sumsum tulang belakang, seperti:

  • Meningitis, yaitu infeksi pada sumsum tulang belakang dan/atau otak yang terjadi pada sekitar 1–5 dari 100 orang dengan infeksi virus polio.
  • Kelumpuhan atau kelemahan pada lengan, kaki, atau keduanya terjadi pada sekitar 1 dari 200 orang hingga 1 dari 2000 orang.

Itulah informasi kasus polio di Klaten. Semoga kasus polio di Klaten tidak meluas.

 

Selanjutnya: Begini Progres Pembangunan IKN Hingga Akhir 2023

Menarik Dibaca: 7 Drama Korea Kriminal Ini Dibintangi Oleh Anggota SNSD, Sudah Nonton Semua?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Adi Wikanto

Terbaru