Jawa Tengah

Ancaman Gunung Merapi meletus, masyarakat balik lagi ke pengungsian

Selasa, 05 Januari 2021 | 14:58 WIB   Reporter: kompas.com
Ancaman Gunung Merapi meletus, masyarakat balik lagi ke pengungsian

ILUSTRASI. ilustrasi. Ancaman Gunung Merapi meletus, masyarakat balik lagi ke pengungsian. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/rwa.


KONTAN.CO.ID - Klaten. Gunung Merapi kembali menunjukkan tanda-tanda akan meletus. Walhasil, masyarakat kembali mengungsi karena khawatir Gunung Merapi meletus setiap saat.

Sebelumnya, Gunung Merapi sudah memperlihatkan tanda-tanda akan meletus sejak awal November 2020 lalu.  Masyarakat yang berada di zona berbahaya Gunung Merapi meletus pun sudah mengungsi.

Namun hingga penghujung 2020 Gunung Merapi tidak jadi meletus dan sebagian masyarakat yang mengungsi pun kembali ke rumahnya. Kini masyarakat yang khawatir dengan ancaman Gunung Merapi meletus kembali ke tempat evakuasi.

Salah satunya di Balerante, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah. Masyarakat kembali mengungsi menyusul aktivitas Gunung Merapi mengalami peningkatan dalam dua hari terakhir.

Baca juga: Kasus corona terus bertambah, konsumsi 7 buah ini untuk meningkatkan daya tahan tubuh

Ancaman Gunung Merapi meletus kembali muncul setelah gunung di perbatasan Jawa Tengah-Daerah Istimewa Yogyakarta sempat mengeluarkan lava pijar. "Iya, sebagian pengungsi sempat pada pulang. Tapi saat ini sudah kembali turun lagi ke pengungsian karena aktivitas Merapi ada peningkatan," kata Kepala Desa Balerante, Sukono saat dihubungi Kompas.com, Selasa (5/1/2021).

Sukono menyebut, jumlah warga yang mengungsi di tempat pengungsian sementara Balerante ada sebanyak 227 orang merupakan kelompok rentan. Mereka berasal dari empat dusun, yakni Dusun Ngipiksari, Dusun Sambungrejo, Dusun Sukorejo dan Dusun Gondang.

Sukono juga mengatakan untuk hewan ternak milik pengungsi sementara masih berada di kandang komunal tak jauh dari lokasi tempat evakuasi sementara. "Kemarin sebagian hewan ternak ada yang dibawa ke atas (pulang) dan belum dibawa turun lagi. Jumlahnya tidak banyak. Ada juga yang dijual," ungkap dia.

Mengenai hewan ternak yang dijual, ungkap Sukono, dimungkinkan karena warga sudah tidak mempunyai pemasukan sehingga hasil penjualan untuk mencukupi kehidupan sehari-hari. "Di pengungsian tidak bisa untuk aktivitas mencari uang. Sementara harus mengeluarkan uang karena anaknya jajan, dan lainnya. Akhirnya yang tidak punya pilihan harus menjual hewan ternaknya," katanya.

Editor: Adi Wikanto


Terbaru