KONTAN.CO.ID - Mengenal apa itu PDB ADHB dan ADHK hingga data terbaru dari BPS. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data PDB Indonesia Terbaru untuk Kuartal I-2026.
Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh BPS (Rilis 5 Mei 2026), kinerja ekonomi Indonesia pada Kuartal I-2026 menunjukkan pertumbuhan yang cukup solid.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyampaikan bahwa:
- PDB ADHB: Rp6.187,2 triliun
- PDB ADHK: Rp3.447,7 triliun
Secara tahunan (year on year), ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tumbuh 5,61% dibandingkan kuartal I-2025. Pertumbuhan ini didorong oleh aktivitas ekonomi domestik yang tetap kuat, termasuk konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, serta investasi.
Lalu, apa sebenarnya PDB ADHB dan ADHK? Cek informasi menarik selengkapnya.
Baca Juga: Jelang Rilis Data PDB oleh BPS, Purbaya Optimis Pertumbuhan Ekonomi 2025 Capai 5,2%
Apa Itu PDB?
Produk Domestik Bruto (PDB) adalah salah satu indikator utama untuk mengukur kinerja ekonomi suatu negara.
Secara sederhana, PDB merupakan total nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu negara selama periode tertentu, biasanya per kuartal atau tahunan.
PDB sering digunakan untuk melihat apakah ekonomi suatu negara sedang tumbuh, stagnan, atau mengalami kontraksi. Semakin tinggi pertumbuhan PDB, umumnya menunjukkan aktivitas ekonomi yang semakin kuat.
Jenis PDB: ADHB dan ADHK
Dalam praktiknya, PDB disajikan dalam dua pendekatan utama, yaitu:
- PDB atas Dasar Harga Berlaku (ADHB): Menggambarkan nilai ekonomi dengan menggunakan harga yang berlaku pada periode tersebut. Angka ini mencerminkan nilai nominal ekonomi.
- PDB atas Dasar Harga Konstan (ADHK): Menggunakan harga pada tahun dasar tertentu, sehingga dapat menunjukkan pertumbuhan ekonomi riil tanpa terpengaruh inflasi.
Perbedaan keduanya penting karena ADHB bisa meningkat hanya karena kenaikan harga, sementara ADHK benar-benar mencerminkan peningkatan volume produksi.
Baca Juga: BPS Rilis KBLI 2025, Perkuat Pencatatan Ekonomi Digital dan Dukung Kepastian Usaha
Fungsi dan Manfaat PDB
PDB memiliki berbagai fungsi penting, di antaranya:
- Mengukur pertumbuhan ekonomi suatu negara
- Menjadi dasar perumusan kebijakan pemerintah
- Membantu investor melihat prospek ekonomi
- Membandingkan kinerja ekonomi antar negara
- Menilai kesejahteraan ekonomi secara umum
Namun, perlu dicatat bahwa PDB tidak sepenuhnya mencerminkan distribusi pendapatan atau tingkat kesejahteraan masyarakat secara merata.
Baca Juga: Jelang Rilis Data PDB Kuartal I, Sejumlah Ekonom Memrediksi Ekonomi Tumbuh di Atas 5%
Apa Arti Pertumbuhan 5,61%?
Angka pertumbuhan 5,61% menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia masih berada dalam jalur ekspansi yang sehat. Dalam konteks global yang sering penuh ketidakpastian, angka ini tergolong stabil dan kompetitif.
Pertumbuhan ini juga menandakan bahwa daya beli masyarakat relatif terjaga dan aktivitas bisnis terus berjalan dengan baik.
PDB adalah indikator penting untuk memahami kondisi ekonomi suatu negara. Dengan melihat data terbaru dari BPS, ekonomi Indonesia pada awal tahun 2026 masih menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan 5,61% secara tahunan.
Ke depan, menjaga stabilitas ekonomi domestik akan menjadi kunci agar pertumbuhan ini tetap berlanjut dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Demikian informasi menarik mengenai PDB ADHB dan ADHK hingga data terbaru dari BPS.
Tonton: PLN Usung Skema Tender Giga One, Pengusaha Listrik Sambut Proyek PLTS Jumbo 1,22 GW
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News