Embung Doho Bantu Petani Hadapi Kemarau, UMKM Ikut Tumbuh

Jumat, 09 Oktober 2026 | 09:59 WIB
Embung Doho Bantu Petani Hadapi Kemarau, UMKM Ikut Tumbuh

ILUSTRASI. Perwakilan Coca Cola Foundation bersama perwakilan Kabupaten Wonogiri dan Yayasan Obor Tani di Embung Doho Wonogiri (DOK/Coca Cola Foundation).


Reporter: Alya Fathinah  | Editor: Alya Fathinah

KONTAN.CO.ID - WONOGIRI. Keterbatasan air membuat petani di Desa Doho, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah kesulitan menanam saat musim kemarau. Kondisi ini mulai berubah setelah Embung Doho dibangun pada 2017 dan diresmikan pada 2018.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Harmoni Desa Doho Sudarmin mengatakan, sebelum ada embung, sebagian lahan pertanian tidak dapat ditanami saat kemarau karena kekurangan air.

"Kalau sebelum ada embung, kemarau itu sudah enggak ada air," kata Sudarmin kepada media pada Rabu (7/10).

Keberadaan embung membuat petani memiliki tambahan pasokan air untuk mengairi lahan. Petani juga dapat menyesuaikan jenis tanaman ketika pasokan air terbatas, seperti menanam jagung dan kacang-kacangan yang membutuhkan lebih sedikit air dibandingkan padi.

Kepala Desa Doho Agus Suhartono mengatakan, ketersediaan air tersebut turut memungkinkan petani menambah musim tanam. 

"Kalau sebelumnya sebagian lahan hanya ditanami dua kali dalam setahun, kini bisa mencapai tiga kali, tergantung ketersediaan air," ujarnya.

Baca Juga: Master Meter Bantu Masyarakat Solo Akses Air Bersih, Begini Skemanya

Ia memperkirakan, hasil panen juga mengalami peningkatan sekitar 30%. Sebelum adanya embung, hasil panen yang sekitar 15 karung dapat meningkat menjadi 20 hingga 30 karung.

Embung Doho memiliki kapasitas sekitar 15.872 meter kubik dengan kedalaman sekitar empat meter. Sumber utamanya berasal dari air hujan dengan curah hujan sekitar 2.800 milimeter per tahun.

Untuk menjaga ketersediaan air, pemerintah desa juga membangun sumur bor yang kemudian dipompa menuju saluran irigasi. Pengoperasian pompa turut didukung panel surya yang dipasang sejak 2019.

Saat ini terdapat empat panel surya dengan kapasitas masing-masing 585 watt. Menurut Sudarmin, penggunaan tenaga surya membantu menekan biaya operasional pompa dibandingkan sebelumnya.

"Yang kemarin kita beli pulsa, sekarang sudah ada tenaga matahari yang masuk jadi pembelian pulsa tidak terlalu mahal," kata Sudarmin.

Dalam pengembangan terbaru, Coca-Cola Foundation Indonesia juga mendukung peningkatan infrastruktur di Embung Doho, termasuk sistem pompa bertenaga surya serta pengembangan area UMKM menjadi pusat kuliner.

Baca Juga: Jangan Dibuang Kumpulkan di Sini, Botol PET Bekas Kini Bisa Punya Kehidupan Kedua 

Pusat kuliner tersebut dilengkapi sistem pemanenan dan penyaringan air hujan untuk penggunaan nonkonsumsi serta pengelolaan air limbah.

Selain membantu sektor pertanian, kawasan Embung Doho berkembang menjadi lokasi olahraga dan bumi perkemahan. Aktivitas tersebut kemudian membuka peluang bagi UMKM untuk berjualan ketika ada kegiatan dengan jumlah peserta besar.

Sudarmin mengatakan dalam kegiatan perkemahan dengan sekitar 700 peserta, jumlah UMKM yang berjualan dapat mencapai 62-65 pelaku usaha.

Pendapatan pedagang pun bervariasi. Dalam kegiatan selama tiga hari, ada pedagang yang memperoleh sekitar Rp 2.000.000 hingga Rp 3.000.000. 

Meski demikian, pemerintah desa mengakui dampak ekonomi dari kawasan wisata tersebut belum terlalu signifikan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru