Jabodetabek

Gubernur DKI Anies sebut saat PSBB ketat, 50% warga Ibukota diam di rumah

Kamis, 24 September 2020 | 19:50 WIB   Reporter: Titis Nurdiana
Gubernur DKI Anies sebut saat PSBB ketat, 50% warga Ibukota diam di rumah

ILUSTRASI. Gubernur DKI Anies Baswedan menyebut selama PSBB ketat, sebanyak 50 persen warga DKI memutuskan untuk diam di rumah. Ini membantu menekan penularan Covid-19. REUTERS/Yuddy Cahya Budiman

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kembali memperpanjang masa pembatasan sosial berskala besar  (PSBB) ketat hingga tanggal 10 Oktober.

Jumlah kasus corona atau Covid-19 di daerah penyangga wilayah Ibukota yang masih tinggi menjadi salah satu sebab.  Kasus positif corona di  sekitar wilayah Jakarta sangat berpengaruh terhadap pandemi di Ibu Kota.

Dalam paparan, Kamis (24/9),  Gubernur DKI Anies Baswedan, saat PSBB ketat berlaku di Jakarta yakni tanggal 14-27 September, warga Jakarta patuh untuk berada di rumah saja alias stay at home.  Dari total penduduk Jakarta, sebanyak 50 persen memilih di rumah saja. 

Efek dari keputusan berdiam di rumah atau stay at home ada pelandaian kasus positif corona di DKI Jakarta dengan peningkatan jumlah penduduk yang diam di rumah.

Ini nampak  dalam kurva persentase penduduk Jakarta yang berada di rumah saja dengan estimasi kasus baru hingga tanggal 23 September.  

"Ini berdampak positif dengan melandainya penularan virus," kata Anies. 

Studi yang dilakukan oleh Masyarakat Universitas Indonesia,sSemakin tinggi pergerakan penduduk, penularan virus juga akan semakin tinggi, begitu juga sebaliknya.

 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia menyebut jika 60 persen dari warga Jakarta diam di rumah, maka penularan wabah bisa ditekan.

"Tim memperhitungkan, diperlukan minimal 60 persen penduduk diam di rumah saja agar penularan wabah melandai dan mulai berkurang," jelasnya.

Sekadar mengingatkan, setelah menjalankan PSBB transisi hingga 5 kali perpanjangan, Anies memutuskan untuk memberlakukan PSBB ketat pada 14-27 September 2020. Keputusan ini diambil setelah melihat data kasus corona tinggi dan  rumah sakit khusus pasien corona juga hampir penuh.

 

 

 

Editor: Titis Nurdiana


Terbaru