Umum

Gunung Semeru meletus, luncurkan awan panas hingga 4,5 km, masyarakat diminta waspada

Sabtu, 16 Januari 2021 | 20:35 WIB   Reporter: Titis Nurdiana
Gunung Semeru meletus, luncurkan awan panas hingga 4,5 km, masyarakat diminta waspada

ILUSTRASI. Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur kembali meletus, luncurkan awan panas hingga 4,5 KM, masyarakat diminta waspada. ANTARA FOTO/Umarul Faruq/rwa.

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Gunung Semeru kembali meletus, Sabtu (16/1) pukul 17.48 WIB. Letusan Gunung Semeru yang berlokas di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur bahkan masih terjadi hingga saat ini. 

Gunung Semeru meluncurkan awan panas dengan jarak luncur sekitar 4,5 meter.

Dari twiter resmi, Bupati Lumajang Thoriqul Haq mengabarkan erupsi Gunung Semeru  ini.

Gunung Semeru mengeluarkan awan panas. Dengan jarak 4.5 kilometer. Daerah sekitar Sumber Mujur dan Curah Koboan, saat ini menjadi titik guguran awan panas," ujar Bupati Thoriqul dikutip dari Twitternya Sabtu (16/1/2021).

Kabar meletusnya Gunung Semeru juga disampaikan oleh Badan Nasional Penanganggulangan Bencana (BNPB) Indonesia. Lewat Twitter resminya, BNPB juga menyebutkan bahwa telah terjadi awan panas guguran (APG) Gunung Semeru dengan jarak luncur kurang lebih 4,5 KM pada Sabtu (16/1) pkl 17.24 WIB. 

 

 

Mengutip kompas.com, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kasbani menyatakan, guguran awan panas terjadi sampai dengan pukul 18.35.

"Terjadi Awan panas guguran Gunung Semeru pukul 17:24 s/d 18:35 WIB dg amplitudo maksimum 22 mm durasi 4.287 detik," kata Kasbani, Sabtu. 

Kasbani juga menegaskan bahwa Gunung Semeru saat ini  berada pada status level II alias waspada.

PVMBG terus melakukan evaluasi lebih lanjut. 

Bagi masyarakat di sekitar Desa Sumber Mujur serta Desa Curah Koboan dan sekitarnya, diimbau waspada dalam menghadapi potensi bencana yang dapat ditimbulkan. 

Khususnya masyarakat di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Curah Kobokan juga harus waspada dalam menghadapi intensitas curah hujan yang tinggi lantaran bisa memicu terjadinya banjir lahar dingin. 

 

Editor: Titis Nurdiana


Terbaru