Jawa Tengah

Imbas Konflik AS-Iran, Ekspor Jateng Berpotensi Turun Sekitar US$ 300 Juta

Senin, 06 April 2026 | 22:22 WIB
Imbas Konflik AS-Iran, Ekspor Jateng Berpotensi Turun Sekitar US$ 300 Juta

ILUSTRASI. Nilai ekspor dan impor Jawa Timur (ANTARA FOTO/MOCH ASIM)


Reporter: kompas.com  | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dampak konflik antara Amerika Serikat dan Iran mulai memukul sektor perdagangan luar negeri Jawa Tengah. 

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Tengah mencatat terjadinya penurunan nilai ekspor sebesar 7,23 persen pada bulan ini dibandingkan bulan sebelumnya. 

Kepala Disperindag Jawa Tengah, July Emmylia, mengungkapkan bahwa nilai penurunan ekspor tersebut diperkirakan mencapai angka 300 juta dollar AS. 

Sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) menjadi komoditas yang paling terdampak dalam guncangan geopolitik ini. 

Baca Juga: Jakarta Masih Dilanda Pancaroba hingga 9 April, Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang

“Kalau ekspor, baru bulan ini terasa dampaknya. Sekarang sudah mulai terdampak sekitar 7,23 persen akibat perang itu,” ujar July saat ditemui di Kantor DPRD Jateng, Senin (6/4/2026). 

Sektor Tekstil Paling Terdampak 

July menjelaskan, penurunan ini dipicu oleh gangguan distribusi global serta merosotnya permintaan dari pasar utama. 

Mengingat Amerika Serikat dan kawasan Timur Tengah merupakan tujuan utama produk unggulan Jawa Tengah, kendala pengiriman logistik membuat volume ekspor menyusut signifikan. 

“Mayoritas ekspor kita ke Amerika. Kemudian ke Timur Tengah juga mulai terdampak, terutama tekstil,” beber July.

Meski demikian, July mencatat adanya anomali positif pada ekspor ke Arab Saudi. 

Berdasarkan data Surat Keterangan Asal (SKA) yang diterbitkan Disperindag, permintaan dari wilayah tersebut justru meningkat, khususnya untuk kebutuhan pangan jemaah haji. 

Dorong Diversifikasi dan "Green Industry" 

Sebagai langkah antisipasi jangka panjang, Disperindag Jawa Tengah kini mendorong pelaku industri untuk melakukan diversifikasi pasar, terutama membidik kawasan Eropa. Namun, July mengingatkan bahwa pasar Eropa memiliki standar lingkungan yang sangat ketat. 

“Kami dorong pelaku industri bertransformasi ke green industry. Kalau sudah memiliki sertifikasi terkait, maka akan lebih mudah masuk ke pasar Eropa,” katanya.

Terkait insentif bagi pelaku industri yang terdampak, Disperindag menyatakan belum memberikan kebijakan khusus karena hal tersebut merupakan kewenangan pemerintah pusat. 

Saat ini, fokus utama Disperindag adalah menjaga stabilitas harga dan stok bahan pokok penting (bapokting) di Jawa Tengah dari dampak konflik global, termasuk mengantisipasi kenaikan harga BBM. 

“Kalau BBM naik, pasti semua ikut naik karena berdampak pada distribusi. Saya yakin Jawa Tengah masih dianggap primadona di pasar dunia. Apalagi jika transformasi ke green industry berhasil, itu akan menutup dampak yang ada,” pungkas July.

Baca Juga: Tanggal Merah April 2026 Masih Tersisa? Ini Info yang Harus Anda Ketahui

Sumber: https://regional.kompas.com/read/2026/04/06/210610178/imbas-perang-as-iran-ekspor-jawa-tengah-turun-723-persen-senilai-300-juta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru