Jawa Tengah

Investasi China Rp 37 Triliun, KEK Batang akan Dikembangkan Jadi Pusat Industri Hijau

Selasa, 11 Agustus 2026 | 04:00 WIB
Investasi China Rp 37 Triliun, KEK Batang akan Dikembangkan Jadi Pusat Industri Hijau

ILUSTRASI. Investasi China Rp 37 Triliun, KEK Batang akan Dikembangkan Jadi Pusat Industri Hijau


Reporter: Adi Wikanto  | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Semarang. Kerja sama investasi Indonesia-China senilai Rp37,1 triliun menjadi salah satu modal pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, Jawa Tengah, sebagai pusat industri hijau.

Pengembangan kawasan tidak hanya diarahkan untuk menarik investasi baru, tetapi juga mempercepat adopsi teknologi bersih, pemanfaatan energi terbarukan, serta membangun rantai pasok industri yang lebih berkelanjutan.

Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus Edwin Manansang mengatakan, kerja sama Two Countries Twin Parks (TCTP) dapat menjadi katalis bagi pengembangan kawasan industri berkelanjutan di Indonesia.

"Dalam kerja sama tersebut, nilai investasi diperkirakan mencapai Rp37,1 triliun. Selain KEK Industropolis Batang, kerja sama Indonesia-China itu juga mencakup Bintan Industrial Estate dan Aviarna Industrial Estate," ujar Edwin dalam keterangannya, Senin (10/8/2026).

Menurut Edwin, kerja sama TCTP berpotensi mempercepat pengembangan Eco-Industrial Park (EIP) melalui transfer teknologi hijau, simbiosis industri, investasi berkualitas, energi bersih, ekonomi sirkular, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta integrasi rantai pasok internasional.

Tonton: DSSA Lepas 9,63 Miliar Saham Treasuri, Investor Wajib Waspada

KEK Batang siapkan infrastruktur industri hijau

Kepala Bappeda Jawa Tengah Yusmanto mengatakan, KEK Industropolis Batang telah memiliki sejumlah modal awal untuk dikembangkan menjadi kawasan industri hijau.

Salah satunya terlihat dari capaian Greenship Neighborhood Platinum pada tahap desain dan perencanaan kawasan.

Selain itu, kawasan telah memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) untuk mendukung Network Operation Center dan penerangan jalan.

Dari sisi pengelolaan lingkungan, KEK Batang juga memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL) terintegrasi dengan kapasitas 18.000 meter kubik per hari.

Kawasan tersebut juga telah dilengkapi jaringan perpipaan sepanjang sekitar 18 kilometer serta fasilitas pengolahan sampah terpadu berkapasitas 35 ton per hari.

Menurut Yusmanto, pengembangan EIP harus dilakukan secara konsisten dan terukur. Kemajuan kawasan perlu dinilai dari aspek pengelolaan kawasan, lingkungan, sosial, dan ekonomi.

Tonton: BREAKING NEWS! KPK TETAPKAN TERSANGKA PENGADAAN IKLAN DI BANK JABAR

Batang perlu perkuat kesiapan proyek

Wakil Ketua Dewan Pimpinan Nasional APINDO sekaligus perwakilan ISEI Pusat Arief Budiman mengatakan, pengembangan industri hijau membutuhkan kesiapan proyek yang dapat dibuktikan secara terukur.

Menurutnya, data, standar lingkungan, baseline, serta sistem measurement, reporting, and verification (MRV) menjadi komponen penting agar proyek hijau dapat menarik pembiayaan.

Ia mendorong pembentukan fasilitas penyiapan proyek di Batang. Fasilitas tersebut diharapkan dapat memastikan proyek-proyek hijau memiliki kesiapan teknis sekaligus memenuhi persyaratan pembiayaan.

"Batang tidak kekurangan modal, tetapi kekurangan bukti. Karena itu, perlu dibentuk fasilitas penyiapan proyek Batang untuk memastikan proyek-proyek yang dikembangkan bersama memiliki kelayakan teknis sekaligus siap dibiayai," ungkap Arief.

Dengan sistem tersebut, proyek industri hijau di KEK Batang diharapkan tidak berhenti pada komitmen investasi, tetapi dapat dibuktikan melalui indikator lingkungan dan ekonomi yang terukur.

Baca Juga: Klik Rekrutmenpcpmbi.id, Pendaftaran PCPM BI Angkatan 41 Dibuka untuk Lulusan Sarjana

Industri hijau harus berdampak ke masyarakat

Transformasi KEK Industropolis Batang menjadi kawasan industri hijau juga diarahkan untuk memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar.

Pelaksana Tugas Kepala Divisi Operation Services PT Kawasan Industri Terpadu Batang Herjuno Kuncorojakti mengatakan, program tanggung jawab sosial perusahaan di kawasan mencakup pendidikan dan lapangan kerja, komunitas sosial, ekonomi dan UMKM, kesehatan, serta lingkungan.

Di sektor vokasi, KITB menginisiasi pembelajaran bersama dengan 29 SMK di Kabupaten Batang. Program tersebut juga dilengkapi proyek percontohan di empat SMK bersama pemerintah daerah dan mitra industri.

Penguatan ekonomi lokal dilakukan melalui program food truck yang memberikan akses pasar bagi masyarakat di dalam kawasan.

"Pada bidang ekonomi lokal, program food truck membuka akses pasar di dalam kawasan bagi masyarakat dan telah berkembang menjadi tujuh unit aktif," kata Herjuno.

Menurutnya, transformasi menuju EIP perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas masyarakat sekitar.

"Transformasi EIP harus menghubungkan kebutuhan tenant dengan peningkatan kapasitas tenaga kerja, UMKM, dan masyarakat penyangga," tegas Herjuno.

Dengan dukungan investasi Indonesia-China Rp37,1 triliun, infrastruktur hijau, serta penguatan sumber daya manusia dan ekonomi lokal, KEK Industropolis Batang memiliki modal untuk berkembang menjadi salah satu kawasan industri hijau di Indonesia.

Namun, keberhasilan transformasi tersebut akan sangat bergantung pada kemampuan kawasan membuktikan kesiapan proyek, menjalankan standar lingkungan secara konsisten, serta memastikan investasi memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi industri dan masyarakat sekitar.






Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/08/10/172304626/china-investasi-rp-37-t-kek-batang-didorong-jadi-pusat-industri-hijau.


 

Prabowo Kirim Surpres Gubernur BI, Destry Damayanti Jadi Calon Tunggal

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tag

Terbaru