Daratan Baru Muncul Usai Erupsi Gunung Anak Krakatau, Benarkah Cucu Krakatau?

Kamis, 24 September 2026 | 04:20 WIB
Daratan Baru Muncul Usai Erupsi Gunung Anak Krakatau, Benarkah Cucu Krakatau?

ILUSTRASI. Daratan baru 30,3 hektare muncul di Anak Krakatau. Simak penjelasan petugas soal material erupsi dan kemungkinan gunung api baru.


Reporter: Adi Wikanto  | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Lampung. Erupsi Gunung Anak Krakatau pada September 2026 memunculkan daratan baru. Apakah daratan baru ini adalah cucu Krakatau?

Daratan baru muncul di sekitar Gunung Anak Krakatau (GAK), tepatnya di antara Pulau Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung, Lampung Selatan. Daratan tersebut diperkirakan memiliki luas sekitar 30,3 hektare dan disebut terbentuk dari akumulasi material vulkanik hasil aktivitas erupsi.

Kemunculan daratan baru ini dikonfirmasi oleh Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno, saat dikonfirmasi pada Rabu (23/9/2026).

Menurut Suwarno, material yang membentuk daratan baru berasal dari letusan Gunung Anak Krakatau dan telah terakumulasi di kawasan sekitar gunung api. Proses pembentukannya berkaitan dengan peningkatan aktivitas vulkanik yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.

Baca Juga: Tim Damkar Jepang Pun Kesulitan Padamkan Kebakaran Hutan Di Kalimantan

Bukan Berarti Gunung Api Baru atau "Cucu" Krakatau

Kemunculan daratan baru di sekitar Gunung Anak Krakatau menimbulkan spekulasi mengenai kemungkinan terbentuknya gunung api baru yang disebut sebagai "cucu" Krakatau.

Namun, Suwarno menegaskan bahwa belum ada dasar untuk menyimpulkan daratan tersebut merupakan cikal bakal gunung api baru. Kemunculan material vulkanik di permukaan tidak secara otomatis menunjukkan adanya saluran magma baru di lokasi tersebut. 

Menurut Suwarno, Gunung Anak Krakatau tetap memiliki sistem saluran magma di bawah permukaan. Kendati demikian, arah pergerakan magma tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan kemunculan daratan baru.
"Kalau masalah akan keluar cucunya, belum kita ketahui," kata Suwarno. 

Ia juga menjelaskan bahwa magma dapat mencari celah untuk keluar ke permukaan. Akan tetapi, kondisi bawah permukaan bumi belum dapat diketahui secara pasti dari fenomena yang terlihat di permukaan. 

Baca Juga: Penumpang KRL Jabodetabek Naik 3x Lipat, Botol Plastik Bisa untuk Bayar Tiket KMT

Aktivitas Gunung Anak Krakatau Masih Dipantau

Suwarno menyampaikan bahwa belum diketahui apakah terdapat magma yang bergerak menuju daratan baru tersebut. Material pembentuk daratan diperkirakan masih berkaitan dengan saluran utama Gunung Anak Krakatau, sementara kemungkinan terbentuknya pusat erupsi baru belum dapat dipastikan. 

Sebelumnya, status Gunung Anak Krakatau dilaporkan turun dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) pada Senin (21/9/2026) pukul 18.30 WIB. Penurunan status dilakukan setelah evaluasi menunjukkan adanya penurunan aktivitas erupsi, kegempaan, dan deformasi. 

Meski status gunung api turun, masyarakat tetap diminta mematuhi rekomendasi keselamatan. Pada Level II, terdapat rekomendasi untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif. 

Kemunculan daratan baru seluas sekitar 30,3 hektare tersebut menjadi bagian dari perubahan bentang alam di kawasan Gunung Anak Krakatau. Sementara itu, kemungkinan perkembangan aktivitas vulkanik di lokasi tersebut masih memerlukan pemantauan lebih lanjut.







Sumber: https://regional.kompas.com/read/2026/09/23/110429278/daratan-baru-seluas-303-hektare-muncul-di-dekat-anak-krakatau-ini?page=all#page2. 


 

BREAKING NEWS! UPDATE ARAH KEBIJAKAN MONTER, BI TAHAN SUKU BUNGA

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tag

Terbaru