Kemendikbudristek: Kenduri Sko Upaya Pemajuan Kebudaayan Melayu Nusantara

Selasa, 17 Mei 2022 | 09:28 WIB   Reporter: Tendi Mahadi
Kemendikbudristek: Kenduri Sko Upaya Pemajuan Kebudaayan Melayu Nusantara

ILUSTRASI. Bendera merah putih berkibar saat terjadinya Halo Matahari di Kayu Aro Barat, Kerinci, Jambi, Jumat (28/8/2020). ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/wsj.


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Kemendikbudristek mendukung Pemerintah Kabupaten Kerinci dan Pemerintah Provinsi Jambi dalam penyelenggaraan perhelatan Kenduri Sko pada 12-14 Mei lalu. Kenduri Sko merupakan bagian dari upaya pemajuan kebudayaan Melayu Nusantara. Sebelumnya, ajang tradisi adat masyarakat Suku Kerinci ini sempat tertunda akibat kondisi pandemi Covid-19. 

Direktur Perfilman, Musik, dan Media Kemendikbudristek Ahmad Mahendra mengatakan bahwa segala tradisi masyarakat yang bertujuan guna melindungi dan melestarikan orisinalitas kebudayaan nasional patut dijaga. “Kenduri Sko merupakan upaya pemajuan budaya Melayu Nusantara. Kita semua patut berbangga dengan kekayaan budaya bangsa sendiri dengan cara melestarikan orisinalitasnya,” ujar Mahendra dalam keterangannya, Selasa (17/5).

Diketahui, terdapat jejak beradaban di sepanjang Sungai Batanghari yang terhubung dari timur Sumatera, termasuk Kabupaten Kerinci sampai ke Percandian Muarajambi. Karenanya, penyelenggaraan Kenduri Sko kali ini pun menjadi tanda mengawali dimulainya rangkaian Kenduri Swarnabhumi, yakni tradisi susur budaya Melayu di Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari.

Mahendra memaparkan, dalam rutinitas pelaksanaan Kenduri Sko terdapat cermin cara berperilaku masyarakat Indonesia yang menjadi budaya sampai sekarang yaitu gotong royong. “Ruh kebudayaan gotong royong tersebut jangan sampai pernah hilang sebab enggan melestarikan tradisi adat yang telah ada sejak masa lampau,” katanya.

Baca Juga: Gempa Tektonik Magnitudo 4.9 Guncang Gorontalo

Dalam penyelenggaraan Kenduri Sko ini, Pucuk Depati Talam Tanjung Tanah Said Hanafi menyematkan gelar adat Depati Talam Rajo Batuah kepada Hilmar Farid yang diwakili Ahmad Mahendra.

Pemberian gelar adat itu, dikemukakan Mahendra, menjadi kebanggan karena membuktikan jika tradisi budaya Melayu Nusantara dari masa lalu masih terjaga meski zaman terus berkembang. “Gelar adat ini suatu kehormatan. Budaya Melayu Nusantara tidak hilang, sebaliknya tetap jadi kebanggaan yang dijaga,” ucap Mahendra.

Sementara itu, Pucuk Depati Talam Tanjung Tanah Said Hanafi menuturkan, dalam Kenduri Sko terdapat kewajiban bagi masyarakat untuk menghormati aturan adat. “Tradisi Kenduri Sko adalah perlambang adat dan azas yang harus terus dipegang teguh oleh seluruh masyarakat di sini. Apalagi peninggalan Melayu Nusantara telah dikenal tinggi dan maju,” kata Said.

Kenduri Sko memiliki dua seremoni utama yang merupakan ciri budayanya yakni penurunan dan penyucian naskah maupun benda pusaka serta pengukuhan gelar adat kepada seseorang dari lembaga adat.

Penyelenggaraan Kenduri Sko dimulai dengan prosesi adat meminta izin kepada leluhur dan penyembelihan kerbau. Lalu pada hari berikutnya, dilaksanakan gotong royong menyiapkan makanan untuk kenduri dan ritual penurunan sekaligus penyucian pusaka. Kemudian hari terakhir berlangsung adat mangarak Sko, pengukuhan pemangku adat dan ditutup dengan pagelaran seni budaya lokal.

Baca Juga: Jasa Marga (JSMR) Rekonstruksi Flexible Pavement di Ruas Jalan Tol Jakarta-Cikampek

Istilah Sko berasal dari kata saka yang diartikan keluarga atau leluhur dari pihak ibu. Sko secara adat terdiri dari tanah dan gelar yang dapat diberikan ibu kepada saudara laki-lakinya. 

Salah satu pusaka peninggalan Melayu Nusantara Jambi ialah naskah Kitab Undang-undang Tanjung Tanah yang diperkirakan sudah ada sejak abad 14 dan diperkirakan tertua di dunia. Saat ini naskah disimpan oleh Tetua Adat Pucuk Depati Talam Tanjung Tanah. Naskah hanya dikeluarkan setiap 5 tahun sekali ketika penurunan dan pencucian pusaka dalam ritual Kenduri Sko.

Naskah Kitab Undang-undang Tanjung Tanah berisi hukum-hukum adat serta penjelasan daerah-daerah asli di sepanjang sungai Batanghari. “Semestinya kami mengadakan kenduri ini tahun 2020, namun karena pandemi terpaksa ditunda hingga tahun ini,” pungkas Said.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi

Terbaru