kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45689,38   17,24   2.56%
  • EMAS917.000 0,11%
  • RD.SAHAM 0.54%
  • RD.CAMPURAN 0.26%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.10%

Masalah sampah dan lingkungan jadi tantangan berat bisnis hotel di Bali


Selasa, 14 Januari 2020 / 16:59 WIB
Masalah sampah dan lingkungan jadi tantangan berat bisnis hotel di Bali
ILUSTRASI. A local resident walks along a section of Matahari Terbit beach covered in plastic and other debris washed ashore by seasonal winds near Sanur, Bali, Indonesia April 11, 2018. REUTERS/Johannes P. Christo TPX IMAGES OF THE DAY

Sumber: Kompas.com | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Akankah Bali masih menjadi destinasi wisata dunia tahun 2020 ini? Pertanyaan ini makin menyeruak tatkala bisnis perhotelan di kawasan yang berjuluk Pulau Dewata ini menunjukkan perlambatan.

Menurut riset Colliers International Indonesia, perlambatan tersebut disebabkan masalah sampah plastik, dan masalah lingkungan seperti macet, abrasi pantai, dan kriminalitas.

"Kendala ini yang membuat bisnis perhotelan tahun 2019 melambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2020 ini pun, tantangannya tak kalah berat," ujar Senior Associate Director Colliers International Indonesia, Ferry Salanto.

Bali, dan Indonesia secara umum menjadi sorotan terkait masalah sampah, dan lingkungan. Hal ini menyusul penghentian impor sampah plastik oleh China.

Baca Juga: Kunjungan wisatawan mancanegara turun pada November 2019

Dan Bali merupakan salah satu daerah di Indonesia yang mendapat sorotan paling tajam karena merupakan ikon pariwisata. Banyak wisatawan mancanegara yang mengeluhkan sampah plastik serta menurunnya kualitas lingkungan di Bali. 

Selain sampah plastik, dan lingkungan, tantangan lain yang dihadapi Bali cukup berat dan sangat beragam. Tantangan pertama adalah menurunnya pasar domestik sebagai dampak dari tingginya harga tiket pesawat.

Kedua menurunnya jumlah tamu dari China semenjak penertiban praktek zero dollar tourism dan sebagai dampak dari perang dagang. Turis China cenderung untuk tidak bepergian ke luar negeri, terutama Bali. Hal ini juga diperkuat oleh riset Founder & CEO Hotel Investment Strategies LLC Ross Woods.

Dia menuturkan, kunjungan turis China ke Pulau Dewata menurun dari sekitar 1,4 juta pada tahun 2018 menjadi 1,17 juta pada 2019 atau sebesar 14%. Penurunan kedatangan warga Negeri Tirai Bambu tersebut akan terus berlanjut pada tahun ini dengan angka prediksi 1,113 juta atau merosot 4,9%.

Baca Juga: Bali Hai sebut momentum natal dan tahun baru berpotensi mendongkrak penjualan

Tantangan ketiga, Program 10 Bali Baru yang gencar dikampanyekan pemerintah, secara tidak langsung telah memengaruhi angka kunjungan wisatawan ke Bali. Tak mengherankan jika survei Agoda 2019 menempatkan Bali di urutan kedua sebagai destinasi wisata domestik setelah Jakarta. 

Namun demikian, posisi Bali masih di atas Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Singapura, Malang, Semarang, dan Kuala Lumpur. "Perbaikan mutu, dan kualitas pariwisata di Bali harus segera dilakukan jika ingin menarik wisatawan dan mempertahankan ikon sebagai destinasi wisata dunia," kata Ferry.

Lepas dari itu, Colliers memprediksi tahun ini okupansi perhotelan di Bali bakal berada di angka rata-rata 80 persen dengan tarif rata-rata 120 dollar AS atau ekuivalen Rp 1,6 juta per malam. (Hilda B Alexander)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Bisnis Hotel Bali Hadapi Tantangan Berat, Sampah dan Lingkungan",

 


Tag

TERBARU

[X]
×