KONTAN.CO.ID - Seorang pasien yang terinfeksi super flu dan menjalani perawatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung dilaporkan meninggal dunia.
Meski demikian, pihak rumah sakit belum dapat memastikan apakah kematian pasien tersebut disebabkan langsung oleh super flu atau faktor lain. Sebab, pasien tersebut diketahui memiliki riwayat penyakit penyerta atau komorbid yang cukup berat.
“Satu pasien yang masuk ruang intensif dinyatakan meninggal dunia karena disertai komorbid lain, seperti stroke, gagal jantung, dan infeksi yang menyebabkan gagal ginjal," kata Ketua Tim Pinere RSHS dr. Yovita Hartantri, dikutip dari Kompas.com, Kamis (8/1/2026).
"Jadi, apakah kematiannya langsung disebabkan oleh virus, kami belum bisa menyatakan, karena pasien memang memiliki banyak komorbid,” tambahnya.
Sebelumnya, tercatat ada 10 pasien yang terkonfirmasi terinfeksi influenza A (H3N2) subclade K dan menjalani perawatan di RSHS Bandung.
Dari jumlah tersebut, dua pasien mengalami kondisi berat, sementara delapan pasien lainnya berada dalam kondisi ringan hingga sedang dan masih menjalani perawatan serta pemantauan medis.
Lantas, apakah pasien dengan riwayat komorbid memiliki risiko lebih tinggi?
Baca Juga: Mengenal Gedung Sate hingga Villa Isola: Ikon Historis Bandung
Pasien dengan komorbid lebih berisiko super flu?
Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman menjelaskan, orang dengan penyakit penyerta atau komorbid memiliki risiko jauh lebih tinggi mengalami keparahan hingga kematian akibat infeksi influenza.
“Ya, orang dengan komorbid tentu lebih berisiko untuk mengalami keparahan maupun kematian akibat infeksi influenza,” ujarnya kepada Kompas.com, Sabtu (10/1/2026).
Menurutnya, risiko tersebut tidak hanya berlaku pada kasus “super flu” atau influenza subklade tertentu, tetapi juga pada influenza musiman secara umum, bahkan pada penyakit infeksi seperti Covid-19. Hal ini disebabkan oleh kondisi tubuh penyandang komorbid yang lebih rentan mengalami komplikasi berat.
“Orang dengan komorbid akan mengalami gejala influenza yang lebih berat dan berisiko mengalami komplikasi, bukan hanya pneumonia, tetapi juga gagal napas, sepsis, hingga kematian,” jelasnya.
Dicky memaparkan, secara biologis dan klinis terdapat beberapa mekanisme utama yang membuat pasien dengan komorbid lebih rentan.
Pertama, respons imun yang terganggu. Penyakit seperti diabetes, jantung, gagal ginjal, kanker, hingga obesitas dapat menyebabkan sistem kekebalan tubuh tidak bekerja optimal.
“Obesitas itu termasuk penyakit. Kondisi-kondisi ini membuat respons imun tidak optimal, sehingga virus influenza bisa bereplikasi lebih cepat dan lebih sulit dikendalikan oleh tubuh,” katanya.
Baca Juga: Jakarta Selatan Beda Sendiri: Ada Hujan Petir Lebih Cepat dari Wilayah Lain