kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45755,12   29,29   4.04%
  • EMAS920.000 0,66%
  • RD.SAHAM 0.55%
  • RD.CAMPURAN 0.20%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Perhatian, jalur Lembang Bandung terpantau macet parah


Jumat, 27 Desember 2019 / 16:21 WIB
Perhatian, jalur Lembang Bandung terpantau macet parah
ILUSTRASI. Suasana antrean pengendara yang melintas di kawasan Kota Bandung, Jawa Barat, ANTARA FOTO/Novrian Arbi/foc.

Sumber: Kompas.com | Editor: Yoyok

KONTAN.CO.ID - BANDUNG. Kemacetan parah terjadi di jalur Lembang, Kawasan Bandung Utara (KBU), Jumat (27/12). Pantauan Kompas.com, kendaraan mulai mengular dari Jalan Setiabudi, tepatnya di depan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) hingga Lembang. 

Laju kendaraan mobil hanya 10 km per jam. Bahkan di beberapa titik, benar-benar tidak bergerak. Kendaraan yang leluasa bergerak hanya motor dengan mengambil arah berlawanan. Kendaraan dari Bandung ke Lembang baru terurai di depan The Great Asia Afrika, Lembang. 

Baca Juga: Libur natal 2019, kendaraan di tol Cikampek melonjak hingga 90%

Sejak pembukaan awal Desember 2019, lokasi wisata swafoto bernuansa negara-negara Asia dan Afrika ini menyumbangkan kemacetan. Begitupun dari arah sebaliknya. Laju kendaraan dari arah Lembang tersendat hingga depan The Great Asia Afrika (TGAA). 

“Lahan parkirnya sempit, jadi susah parkir. Terus karena tempat liburannya baru, jadinya diburu banyak orang,” ujar salah satu pengunjung, Farhan Apsari kepada kompas.com, Jumat (27/12). 

Public Relation TGAA, Intania Setiati mengakui sempitnya parkir di TGAA. Karena itu pihaknya melibatkan masyarakat dan desa untuk penyediaan kantong parkir. “Kami melibatkan masyarakat, desa, dan kepolisian,” ujar Intania. 

Selain TGAA, ada sejumlah tempat wisata di Lembang yang diburu wisatawan. Seperti Farmhouse, Maribaya, atau hanya sekadar makan di sejumlah restoran di Lembang. Kemacetan ini pun dimanfaatkan warga sekitar. 

Baca Juga: Resolusi Tahun Baru 2020 Warren Buffett: Menemukan gajah baru

Banyak yang menjual makanan atau minuman dengan cara berjalan kaki dan menawarkannya kepada penumpang mobil. Makanan yang dijual berupa gorengan, keripik, atau air mineral dan beberapa jenis minuman manis. Sejumlah penumpang pun membelinya. Bahkan ada yang sengaja turun dari mobilnya dan berjalan kaki ke gerobak penjual gorengan. 

Selain ingin memakan gorengan, hal itu dilakukan karena bosan di dalam mobil. “Sudah lebih dari satu jam baru gerak dikit. Lokasinya masih beberapa kilo lagi. Turun ajalah, sekalian jajan. Lumayan buat ganjel dan ngusir bosan,” ungkap Rere, wisatawan dari Jakarta. (Reni Susanti)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Libur Natal, Jalur Lembang Bandung Macet Parah"



TERBARU

[X]
×