Petani didorong manfaatkan lahan gambut tanpa membakar

Rabu, 15 September 2021 | 14:12 WIB   Reporter: Tendi Mahadi
Petani didorong manfaatkan lahan gambut tanpa membakar

ILUSTRASI. Budidaya padi di lahan gambut.

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Areal gambut merupakan salah satu kawasan yang rawan akan kebakaran hutan dan lahan, oleh karena itu Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) membangun demonstration plot (demplot) paludikultur di Desa Tanjung Putri, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. 

Paludikultur merupakan metode budidaya di lahan gambut tanpa adanya drainase. Praktiknya juga tidak dengan membakar lahan, sehingga lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Selain itu, paludikultur juga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Ketua Kelompok Tani (Poktan) Sumber Rezeki, Ruslan Subakti mengatakan, demplot paludikultur di desanya kini mulai membuahkan hasil. Bahkan petani yang tergabung dalam kegiatan ini mengaku puas dengan hasil panen sayuran yang diperoleh. 

“Masyarakat sangat semangat, terlebih setelah mereka bisa menuai hasilnya. Kini mereka paham jika panen sayuran juga bisa menghasilkan pendapatan, dulunya ketika mereka nanam paling untuk kebutuhan sendiri, namun setelah mengikuti kegiatan ini hasilnya bisa dijual ke pasar, dari situ mereka merasakan keuntungannya dan pendapatan meningkat,” ujar Ruslan dalam keterangannya, Rabu (15/9). 

Lebih lanjut Ruslan membeberkan, tanaman yang dikembangkan dalam demplot paludikultur lahan gambut ini adalah pare, kacang panjang, tomat, cabai dan terong.  “Luas demplot kurang lebih  dua hektare, satu hektare untuk sayuran hortikulturanya dan satu hektare-nya lagi buah-buahan seperti alpukat, mangga, sawo, tapi itu dengan tumpang sari,” pungkasnya. 

Baca Juga: Pertamina siap dorong investasi demi capai target produksi migas di 2030

Dalam mengembangkan demplot paludikultur ini, Ruslan mengaku butuh strategi khusus agar petani tidak kecewa dan hasil yang didapat bisa sesuai target yang diinginkan.  “Kalau kami untuk sayuran, rencana ke depan apa, misal sawi sendok, kita lihat potensi mana yang bagus di pasar, kita ikuti pasar, kalau sayuran kan cepat panen, biasanya sawi 25 hari sudah panen,” ungkapnya. 

Ruslan melihat ada potensi yang cukup besar dari kegiatan ini, sehingga petani di Desa Tanjung Putri pun berharap lahan yang digarap bisa lebih luas lagi sehingga bisa menambah pendapatan mereka. “Petani yang tergabung dalam kegiatan ini sebelumnya kan ada yang berprofesi sebagai nelayan tapi gak ada penghasilan, ada juga petani yang jatuh bangun, jadi mereka yang kurang paham di situ kami kumpulkan. Jadi warga berharap lahan yang akan digarap lebih luas lagi,” harap Ruslan. 

Sementara itu, Kepala Kelompok Kerja (Kapokja) Kalimantan, Jany Tri Raharjo mengatakan kegiatan demplot paludikultur merupakan salah satu upaya BRGM dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat. "Sebab bila gambut basah dapat dimanfaatkan untuk menunjang kehidupannya, pasti masyarakat akan melindunginya," imbuh Jany.

Lebih lanjut, Jany berharap metode pertanian ini diharapkan bisa memberikan hasil optimal dalam memberdayakan lahan gambut, "sehingga bisa menjadi percontohan bagi petani di daerah lain,” pungkas Jany.

Selanjutnya: Lewat program Makmur, Petrokimia Gresik dan PTPN X bangun ekosistem petani tebu

 

Editor: Tendi Mahadi
Terbaru