KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta Rano Karno mengatakan, banjir di Jakarta sebenarnya sudah bisa diprediksi. Namun, ia menegaskan bahwa tinggi genangan air tetap sulit dipastikan karena sangat bergantung pada curah hujan.
“Tadi saya sudah sampaikan, kita sudah prediksi banjir akan terjadi. Cuma tingkat ketinggiannya berapa itu kita enggak tahu karena itu adalah curah hujan,” ujar Rano usai mengunjungi pengungsi banjir di Masjid Jami Al-Fudhola, Kelurahan Kedaung Kaliangke, Cengkareng, Jakarta Barat, Jumat (23/1/2026).
Rano menuturkan, Pemprov DKI Jakarta telah melakukan berbagai langkah antisipasi sejak awal. Ia juga menerima laporan bahwa jajaran Dinas Sumber Daya Air (SDA) telah bekerja hingga dini hari untuk menangani banjir.
“Artinya, semua kita sudah mengantisipasi. Saya sangat tahu dan mendengar laporan dari (Dinas) SDA dengan semua tim yang di wilayah ini, mereka bekerja sampai jam 3 pagi. Itu adalah kenyataan,” tegasnya.
Baca Juga: Pintu Air Katulampa Siaga III, Tinggi Muka Air Sempat Capai 110 Sentimeter
Menurut Rano, upaya penanganan banjir tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Ia menilai, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat perlu terus diperkuat.
Rano juga menyinggung kunjungannya bersama Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung ke sejumlah lokasi pengungsian pada hari yang sama.
Ia menyebut, langkah antisipasi banjir sudah dirancang sejak awal. “Alhamdulillah, saya bersama Pak Gubernur hari ini (mengunjungi) di beberapa tempat. Barangkali memang teman-teman baru melihat kehadiran kita di tengah masyarakat hari ini. Tapi sebetulnya kami ini sudah mendesain apa yang akan kita lakukan apabila terjadi banjir seperti ini,” jelasnya.
Ungkap solusi banjir Jakarta
Rano Karno menegaskan, penanganan banjir Jakarta harus dilakukan dengan pendekatan jangka panjang. Salah satu upaya yang dinilai penting adalah normalisasi sungai.
“Memang ini harus dikerjakan secara panjang, enggak bisa dalam waktu 5 tahun, enggak mungkin. Kita baru akan rencana cukup besar yaitu melakukan normalisasi misalnya (Sungai) Ciliwung, Kali Krukut,” kata Rano.
Ia mencontohkan kondisi Kali Krukut yang mengalami penyempitan signifikan sehingga berkontribusi terhadap banjir yang hampir terjadi setiap tahun.
“Kemang itu setiap tahun pasti banjir. Dulu Kali Krukut luasnya 20 meter. Itu sekarang yang namanya Kem Chicks saja belakangnya cuma 3 meter. Itu realita yang terjadi,” jelasnya.
Meski demikian, Rano mengakui bahwa tantangan terbesar dalam normalisasi sungai bukan hanya soal lahan, tetapi juga penerimaan masyarakat.
“Kalau normalisasi, yang paling berat bukan masalah pembebasan lahannya, tapi sosialisasi ke masyarakatnya. Mau enggak kita tinggal di rumah susun? Karena wilayah ini harus kita betulin,” ujar Rano.
Ia menegaskan, langkah tersebut menjadi pilihan yang harus diambil demi perbaikan lingkungan dan pengendalian banjir ke depan.
“Mau enggak mau harus seperti itu. Itu realita. Makanya kami turun tadi, kita diskusi di atas, ada diskusi, ada kebutuhan yang harus kita lakukan ya itu kita evaluasi,” tutup Rano.
Baca Juga: Bukan di Jakarta Atau Bandung! Ini SMP Paling Berprestasi di Indonesia 2026
Sumber: https://megapolitan.kompas.com/read/2026/01/23/18192321/rano-karno-ungkap-alasan-banjir-jakarta-sulit-dipastikan-tingginya.
Selanjutnya: OJK Cabut Izin Usaha Perusahaan Pembiayaan PT Varia Intra Finance
Menarik Dibaca: Ternyata Ini 6 Alasan Sering Lapar saat Cuaca Dingin, Apa Saja ya?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News