Jawa Timur

Ratusan Santri Di Sidoarjo Keracunan MBG, Simak Pertolongan Pertama Keracunan Makanan

Rabu, 02 September 2026 | 05:27 WIB
Ratusan Santri Di Sidoarjo Keracunan MBG, Simak Pertolongan Pertama Keracunan Makanan

ILUSTRASI. Ratusan Santri Di Sidoarjo Keracunan MBG, Simak Pertolongan Pertama Keracunan Makanan


Reporter: Adi Wikanto  | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kasus keracunan usai mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi pada September 2026. Terbaru, ratusan santri di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim) keracunan makanan MBG. Simak cara pertolongan pertama mengatasi korban keracunan makanan. 

Sebanyak 293 santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo menjalani penanganan medis di delapan rumah sakit setelah diduga mengalami keracunan usai menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo dr Lakhsmie Herawati Yuwantina mengatakan, ratusan santri tersebut masih mendapatkan perawatan dan observasi untuk memantau perkembangan kondisi kesehatan mereka.

"293 santri dirawat di delapan rumah sakit," kata Lakhsmie kepada wartawan, Selasa (1/9/2026).

Sejumlah rumah sakit yang menerima para santri di antaranya RSUD Notopuro Sidoarjo, RSI Siti Hajar, RS Bhayangkara Pusdik Porong, RS Delta Surya, dan RSU Aisyiyah Siti Fatimah.

Dinkes Sidoarjo masih melakukan pendataan dan pemantauan terhadap kondisi para santri yang tersebar di sejumlah fasilitas kesehatan tersebut. Dari total pasien, delapan santri dilaporkan mengalami kondisi yang lebih berat sehingga masih membutuhkan perawatan dan observasi.

Baca Juga: ​Resmi Berlaku Hari Ini (1/9)! Tarif Transbandara Blok M-Bandara Naik Jadi Rp15.000

Kronologi dugaan keracunan MBG

Kasus dugaan keracunan tersebut terjadi di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, pada Selasa (1/9/2026).

Ratusan santri mulai mengalami keluhan kesehatan beberapa jam setelah menyantap menu MBG. Sejumlah santri dilaporkan mengalami mual, pusing hingga muntah sebelum akhirnya mendapatkan penanganan medis.

Menurut keterangan pendamping Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), menu yang dibagikan terdiri atas nasi putih, telur orak-arik, tumis buncis baby corn, tempe bumbu Bali, dan apel.

Makanan tersebut dikirim sekitar pukul 10.00 WIB dan umumnya dibagikan kepada para santri sekitar pukul 12.00 WIB. Berdasarkan laporan, sebanyak 1.010 porsi MBG dari SPPG Kalitengah disiapkan untuk siswa-siswi MA dan MTs Manbaul Hikam.

Gejala mulai muncul pada sore hingga menjelang malam. Setelah waktu Magrib, sejumlah ambulans berdatangan ke lingkungan pesantren untuk membawa santri yang mengalami keluhan ke rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya.

Salah seorang santri bahkan mengaku sayuran dalam menu MBG terasa kecut. Namun, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami ratusan santri tersebut masih perlu menunggu hasil pemeriksaan dan investigasi lebih lanjut.

Dinkes Sidoarjo hingga kini masih melakukan observasi terhadap para pasien. Dengan demikian, dugaan keracunan makanan tersebut belum dapat dipastikan berasal dari salah satu menu MBG sebelum hasil pemeriksaan kesehatan dan sampel makanan keluar.

 

Tonton: 13.000 Dapur MBG? Begini Penjelasan Resmi Kepala BGN 

Cara mengatasi keracunan makanan

Dilansir dari website Puskesmas Penimbung, Lombok Barat, keracunan makanan sebaiknya memperoleh penanganan secara optimal dari dokter atau layanan kesehatan. Bila seseorang mengalami keracunan makanan, penting untuk mengetahui langkah pertolongan pertama pada keracunan makanan yang bisa dilakukan sebelum mendapatkan penanganan medis:

1. Istirahat dan Hidrasi

Korban keracunan makanan harus beristirahat dan menghindari aktivitas berat. Minum banyak cairan untuk mencegah dehidrasi, terutama jika mengalami muntah atau diare. Cairan yang baik meliputi air, larutan elektrolit atau rehidrasi oral.

2. Hindari Makanan dan Minuman Tertentu

Hindari makanan tertentu, seperti makanan padat, pedas, berminyak sampai dan diare berhenti. Hindari juga minuman berkafein, minuman beralkohol, susu dan minuman asam. Dan carilah makanan yang mudah dicerna dan rendah lemak seperti bubur, kentang atau pisang. Disarankan untuk mengomsumsi air jahe, karena dapat membantu meredakan gejala keracunan yang dialami serta air jahe dapat menenangkan saluran pencernaan.

3. Jangan Memaksa Muntah

Jika korban tidak muntah secara alami, jangan memaksanya untuk muntah karena dapat memperburuk kondisi.

Bila korban muntah secara alami, pastikan untuk menghindarai korban muntah dalam posisi berbaring. Tegakkan badan korban keracunan agar muntah tidak masuk ke saluran pernapasan serta tundukkan kepala untuk mencegah tersedak dan muntah kembali ke tenggorokan.

Tonton: Selat Hormuz Mulai Ditembus! Kapal LNG Jepang Berhasil Lolos di Tengah Perang Iran

4. Hindari Korban Dehidrasi

Segera tingkatkan asupan cairan bila muncul tanda-tanda dehidrasi dari korban keracunan. Biasanya tanda dehidrasi tersebut dapat berupa bibir kering, rasa sangat haus dan jarang buang air kecil.

5. Gunakan Obat yang Tersedia

Obat anti-diare atau anti-mual dapat digunakan untuk meredakan gejala keracunan. Namun akan lebih baik untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum dikonsumsi.

Keracunan makanan atau minuman merupakan salah satu kondisi yang berbahaya. Walaupun sudah dilakukan upaya pertolongan pertama pada korban keracunan makanan, tetap bawa korban ke layanan kesehatan agar mendapatkan penanganan medis profesional yang optimal.

Apalagi bila korban mengalami beberapa kondisi, seperti diare berlangsung lebih dari 48 jam, terdapat darah dalam muntah atau tinja, demam tinggi (di atas 38,5°C atau 101,3°F), muncul gejala dehidrasi parah serta gejala neurologis seperti penglihatan kabur, kelemahan otot atau kesulitan bicara.


 

 

Sebagian artikel telah tayang di https://surabaya.kompas.com/read/2026/09/01/225005778/dugaan-keracunan-mbg-dinkes-sidoarjo-293-santri-dirawat-di-8-rumah-sakit
 

RUU Migas Baru: Jalan Baru Bangkitkan Produksi Minyak Indonesia?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru