Jawa Timur

Sejarah dan profil Kota Surabaya

Jumat, 09 Oktober 2020 | 15:14 WIB   Penulis: Virdita Ratriani
Sejarah dan profil Kota Surabaya

ILUSTRASI. Atlantis Land Surabaya. Dok: Instagram Atlantis Land Surabaya.

KONTAN.CO.ID - Wali Kota Surabaya marah dengan demonstran yang merusak kota, Kamis (8/10/2020). Daripada membicarakan kerusakan akibat demo, yuk kita mengenal kota Surabaya.

Surabaya adalah kota terbesar kedua di Indonesia yang terletak di Provinsi Jawa Timur.  Kota ini dipimpin oleh seorang Wali Kota perempuan yang sangat terkenal yakni Tri Rismaharini. 

Dikutip dari pemberitaan Kompas.com (8/10/2020), Risma sempat menghadang sekelompok pemuda yang ditangkap polisi saat aksi menolak UU Omnibus Law di Surabaya, Kamis (8/10/2020) malam. 

Risma memarahi mereka karena merusak fasilitas umum di Surabaya. Lantas, seperti apa sejarah Kota Surabaya? 

Baca Juga: Wapres sebut pemerintah dorong pengusaha Nahdliyin optimalkan teknologi digital

Sejarah Kota Surabaya


PATUNG SUROBOYO. Sejarah Surabaya

Dirangkum dari laman resmi Pemerintah Kota Surabaya, Surabaya adalah kota terbesar dan tertua di Indonesia, dengan total luas 330,45 km2 dan jumlah penduduk lebih dari 3 juta orang di malam hari dan lebih dari 5 juta orang di jam kerja. 

Nama Surabaya pun muncul dalam Nagarakretagama, pidato Raja Hayamwuruk dari Kerajaan Majapahit yang ditulis pada daun lontar di 1365. Sejarawan juga percaya bahwa armada Kubilai Khan dipukuli di sekitar area pelabuhan Surabaya di 1293.

Pada 31 Mei 1293, terdapat pertempuran di mana Raden Wijaya yang merupakan pendiri dan raja pertama Kerajaan Majapahit mampu mengalahkan pasukan Mongol. 

Kemudian, Raden Wijaya menjadi raja pertama Kerajaan Majapahit pada 10 November 1293. Akibat kekalahan tersebut, pasukan Mongol terpaksa mundur ke laut dalam kejaran pasukan Majapahit dan meninggalkan tanah Jawa kembali ke China.

Baca Juga: Marah besar ke pendemo, Risma: Saya setengah mati bangun kota ini, kamu hancurin

Kedatangan pasukan Mongol ke Jawa awalnya untuk menyerang Kerajaan Singasari lantaran Raja Singasari yakni Kertanegara menyiksa utusan Mongol. Peristiwa tersebut kemudian dijadikan sebagai tanggal berdirinya Kota Surabaya. 

Sementara, nama Surabaya, sesuai dengan etimologinya, berasal dari kata Sura ata Suro dan Baya atau Boyo, dalam bahasa Jawa. Suro adalah jenis ikan hiu, sedang boyo adalah istilah bahasa jawa untuk buaya. 

Menurut mitos, dua hewan ini adalah binatang paling kuat yang juga menjadi simbol kota Surabaya sampai saat ini. Pendapat lain mengatakan, bahwa nama Surabaya juga diambil dari istilah Sura Ing Baya, yang berarti "berani menghadapi bahaya".

Baca Juga: Positif Covid-19, anggota DPR Fraksi Gerindra Soepriyatno meninggal dunia

Profil Kota Surabaya


JEMBATAN SUROBOYO. Sejarah Surabaya.

Surabaya terletak di timur laut Pulau Jawa. Surabaya merupakan pelabuhan laut dengan Pelabuhan Tanjung Perak sebagai pelabuhan utama. Pelabuhan Tanjung Perak berfungsi sebagai hub atau pusat untuk pengiriman antar pulau di wilayah Indonesia Timur.

Selain itu, bersama dengan Lamongan di barat laut, Gresik di barat, Bangkalan di timur laut, Sidoarjo di selatan, Mojokerto dan Jombang di barat daya menjadi kesatuan yang dinamakan Gerbang Kertosusila, seperti Jabodetabek di Jakarta dan sekitarnya.

Surabaya juga dipenuhi dengan kantor dan pusat bisnis. Perekonomian Surabaya juga dipengaruhi oleh pertumbuhan baru dalam industri asing dan beberapa segmen industri yang akan terus berkembang, terutama dalam hal properti, dimana gedung pencakar langit, mall, plaza, apartemen dan hotel berbintang akan terus terbangun setiap tahunnya.

Surabaya juga dikenal sebagai kota pahlawan, gelar itu diberikan terkait dengan semangat heroik dan memperingati pertempuran surabaya pada tanggal 10 November 1945. Orang-orang dari etnis yang berbeda yang datang dari bagian timur Indonesia (seperti Madura, Bali, dll) telah mengunjungi dan tinggal di Surabaya. 

Selain dua kelompok etnis yang disebutkan di atas, orang-orang Cina, Arab, dan India keturunan juga mendiami kota bersama dengan masyarakat Surabaya asli (Jawa), membuat Surabaya menjadi kota multi-etnis dan multi-agama.

Selanjutnya: ​Sejarah sepak bola Indonesia dan berdirinya PSSI

 

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Virdita Ratriani
Terbaru