Peristiwa

Stok BBM Bali Senin (19/10): 30,13 Juta Liter Pertalite, 11,04 Juta Liter Pertamax

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:27 WIB
Stok BBM Bali Senin (19/10): 30,13 Juta Liter Pertalite, 11,04 Juta Liter Pertamax

ILUSTRASI. Stok Pertalite di Bali mencapai 30,136 juta liter atau cukup untuk 11 hari. dan stok Pertamax sebanyak 11,045 juta liter, untuk 8 hari. (Dok. Pertamina/Pertamina)


Penulis: Chelsea Anastasia  | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gubernur Bali Wayan Koster mengungkapkan posisi stok bahan bakar minyak (BBM) di Bali per 19 Oktober 2026, mulai dari Pertalite, Pertamax, Biosolar, hingga Solar.

Dalam rapat koordinasi di Kantor Pertamina Sanggaran, Senin (19/10/2026), Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra melaporkan stok Pertalite di Bali mencapai 30,136 juta liter atau cukup untuk 11 hari. Sementara itu, stok Pertamax tercatat sebanyak 11,045 juta liter, dengan ketahanan pasokan sekitar 8 hari.

Adapun stok Biosolar mencapai 1,752 juta liter atau cukup untuk 5 hari. Sementara itu, stok Solar tercatat sebanyak 10,356 juta liter, dengan ketahanan pasokan 11 hari.

Baca Juga: Bali Perpanjang Ganjil-Genap untuk Isi BBM hingga 23 Oktober 2026

Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meminta Pertamina menambah pengiriman BBM ke Bali. Langkah ini diperlukan agar ketahanan stok BBM di wilayah tersebut bisa mencapai minimal 15 hari.

"Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memerintahkan kepada Dirut Pertamina dan Dirut Pertamina Patra Niaga agar volume pengiriman BBM ke Bali ditambah sehingga ketersediaan mampu mencukupi minimum sampai 15 hari," ujar Koster dalam keterangan resmi, Selasa (20/10/2026).

Dalam rapat tersebut, Bahlil juga menyampaikan bahwa stok BBM nasional diperkirakan mencukupi kebutuhan selama 16–20 hari ke depan. Karena itu, pasokan ke daerah juga perlu dijaga agar tetap memadai.

Koster mengatakan, Bahlil turut mengingatkan pentingnya menjaga pasokan BBM di Bali sebagai destinasi pariwisata dunia. Gangguan pasokan di wilayah tersebut dikhawatirkan berdampak terhadap citra pariwisata Bali dan Indonesia di mata internasional.

"Oleh karena itu, alokasi BBM ke Bali harus mendapat perhatian serius, memastikan ketersediaan BBM yang cukup, jangan sampai terulang kejadian kelangkaan BBM di Bali," jelasnya.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengatasi persoalan distribusi dan pelayanan BBM. Salah satunya dengan meminta Pertamina mengoperasikan SPBU selama 24 jam, terutama di wilayah Denpasar dan Badung.

Baca Juga: Demo 20 Oktober di Jakarta, Ini Daftar Jalan Berpotensi Macet dan Rute Alternatif

Koster bilang, Pemprov Bali juga menerapkan kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) bagi pegawai pemerintah dan swasta, serta pembelajaran daring untuk semua jenjang pendidikan.

Selain itu, pemerintah daerah telah meminta dukungan personel TNI untuk membantu operasional SPBU. Kepolisian juga diminta mengawal truk tangki BBM dari Depot Manggis dan Sanggaran menuju SPBU, sekaligus menjaga keamanan di lokasi pengisian bahan bakar.

Koster turut menerapkan pembatasan pembelian BBM maksimal 3 liter untuk kendaraan roda dua dan 20 liter untuk kendaraan roda empat. Pemerintah daerah juga memberlakukan sistem ganjil-genap sebagai bagian dari upaya mengendalikan distribusi BBM di Bali.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru