KONTAN.CO.ID - 4 Januari memperingati Hari Braille Sedunia, ketahui makna dan sejarahnya.
Hari Braille Sedunia adalah hari internasional yang dirayakan pada tanggal 4 Januari setiap tahun untuk memperingati kesadaran dan akan pentingnya braille sebagai sarana komunikasi dalam perwujudan penuh hak-hak asasi manusia bagi orang tunanetra.
Mengutip laman Wikipedia, tanggal peringatan 4 Januari ini dipilih oleh Majelis Umum PBB melalui pengumuman pada November 2018, dan menandai hari ulang tahun pencipta sistem penulisan ini yaitu Louis Braille.
Peringatan Hari Braille Sedunia pertama kali diselenggarakan pada tahun 2019.
Untuk mengetahui lebih jauh tentang Braille, berikut sejarah singkatnya.
Baca Juga: BMKG: Prakiraan Cuaca DKI Jakarta 4-12 Jan 2026: Berawan-Hujan RIngan
Sejarah Huruf Braille

Masih dari sumber yang sama, munculnya Braille terinspirasi dari mantan perwira artileri Napoleon yang bernama Kapten Charles Barbier.
Barbier menggunakan sandi berupa garis-garis dan titik-titik timbul untuk memberikan pesan ataupun perintah kepada serdadunya dalam kondisi gelap malam.
Pesan tersebut dibaca dengan cara meraba rangkaian kombinasi garis dan titik yang tersusun menjadi sebuah kalimat.
Sistem demikian kemudian dikenal dengan sebutan night writing atau tulisan malam.
Demi menyesuaikan kebutuhan para tunanetra, Louis Braille mengadakan uji coba garis dan titik timbul Barbier kepada beberapa kawan tunanetra.
Pada kenyataannya, jari-jari tangan mereka lebih peka terhadap titik dibandingkan garis sehingga pada akhirnya huruf-huruf Braille hanya menggunakan kombinasi antara titik dan ruang kosong (spasi).
Baca Juga: Rekomendasi Mall di Bandung Favorit Wisatawan yang Menarik Dikunjungi, Simak Ya!
Sistem tulisan Braille pertama kali digunakan di L’Institution Nationale des Jeunes Aveugles, Paris, dalam rangka mengajar siswa-siswa tunanetra.
Braille juga tidak lepas dari kontroversi. Huruf Braille pernah ditentang oleh Dr. Dufau, seorang asisten direktur L’Institution Nationale des Jeunes Aveugles.
Ia menganggap bahwa sistem baca dan penulisan Braille tidak lazim, sulit untuk meyakinkan masyarakat mengenai kegunaan dari huruf tersebut bagi kaum tunanetra.
Bahkan, ada gerakan anti-Braille yang menyita dan membakar semua buku serta salinan yang ditulis menggunakan huruf Braille.
Terlepas dari semua itu, perkembangan murid-murid tunanetra yang begitu cepat pada akhirnya menjadi bukti bahwa Braille memang dapat diterima.
Baca Juga: Rekomendasi Tempat Makan Bebek Enak di Bandung yang Terkenal Empuk
Menjelang tahun 1847 sistem tulisan tersebut diperbolehkan kembali.
Pada tahun 1851, tulisan Braille kemudian diajukan pada pemerintah Prancis agar diakui secara sah.
Sejak saat itu, huruf Braille mulai berkembang luas hingga mencapai negara-negara lain.
Pada akhir abad ke-19, sistem tulisan ini diakui secara universal dan diberi nama ‘tulisan Braille’.
Pada tahun 1956, Dewan Dunia untuk Kesejahteraan Tunanetra (The World Council for the Welfare of the Blind) menjadikan rumah yang ditinggali Louis Braille sebagai museum.
Rumah sekaligus museum tersebut terletak di Coupvray, 40 km sebelah timur Paris.
Itulah pembahasan terkait Hari Braille Sedunia, makna dan sejarahnya yang diperingati setiap 4 Januari.
Tonton: Indonesia Hentikan Impor Solar 2026: Dampak Swasta & Peran Kilang Pertamina
Selanjutnya: Purbaya Buka Opsi Tarik Sebagian Surplus BI Sebelum Tahun Buku Berakhir
Menarik Dibaca: Cara Mudah Mencari Tambahan Penghasilan untuk Kebutuhan yang Mendesak
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News