Jawa Barat

Ancaman Gempa Besar Di Bandung, Dedi Mulyadi Siapkan Pusat Komando Darurat di Cirebon

Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:55 WIB
Ancaman Gempa Besar Di Bandung, Dedi Mulyadi Siapkan Pusat Komando Darurat di Cirebon

ILUSTRASI. Ancaman Gempa Besar Di Bandung, Dedi Mulyadi Siapkan Pusat Komando Darurat di Cirebon


Reporter: Adi Wikanto  | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Bandung. Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) menyiapkan skenario penanganan darurat untuk mengantisipasi potensi gempa bumi akibat aktivitas Sesar Lembang. Persiapan mencakup jalur evakuasi, kendaraan operasional, logistik, sistem komunikasi, hingga rencana pemindahan pusat pemerintahan sementara ke Cirebon jika aktivitas pemerintahan di Bandung terganggu.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meminta seluruh perangkat daerah memetakan kebutuhan penanganan bencana sejak dini. Langkah tersebut diperlukan agar mobilisasi personel, peralatan, dan bantuan dapat dilakukan dengan cepat ketika gempa terjadi.

“Jadi, dari sekarang skenarionya sudah kita hitung. Kalau terjadi Sesar Lembang, mobilisasi ke mana, jalurnya lewat mana, berapa truk yang dibutuhkan, logistiknya apa, dan teknologi informasi apa yang disiapkan,” ujar Dedi dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Senin (12/10/2026).

Menurut Dedi, setiap organisasi perangkat daerah (OPD) harus mengetahui kebutuhan yang menjadi tanggung jawabnya, mulai dari jumlah kendaraan, peralatan pendukung, hingga lokasi penyimpanan logistik.

Kebutuhan dasar masyarakat terdampak juga menjadi perhatian, terutama ketersediaan bahan pangan dan air bersih. Pemprov Jabar turut memperhitungkan kebutuhan mobil tangki air untuk mengantisipasi kemungkinan terputusnya pasokan air akibat kerusakan infrastruktur.

“Kalau membutuhkan banyak truk, maka dinas teknis sekarang harus menyiapkan,” kata Dedi.

Baca Juga: Kapan BSU Kemnaker 2026 Cair? Cek Selengkapnya di Sini

Cirebon disiapkan sebagai pusat pemerintahan alternatif

Selain penanganan langsung di lokasi bencana, Pemprov Jabar mempertimbangkan Cirebon sebagai pusat pemerintahan alternatif apabila gempa menyebabkan aktivitas pemerintahan di Kota Bandung terganggu.

Untuk mendukung rencana tersebut, pemerintah daerah akan memastikan kesiapan sarana dan prasarana, termasuk peralatan kerja, jaringan komunikasi, kendaraan operasional, dan logistik.

Pemprov Jabar juga akan memetakan akses jalan dari Bandung menuju wilayah lain, termasuk Cirebon. Pemetaan ini diperlukan untuk menentukan jalur yang masih dapat digunakan apabila gempa merusak jalan atau menghambat mobilitas kendaraan.

Dedi meminta perangkat daerah yang menangani infrastruktur ikut memperhitungkan kebutuhan jalur evakuasi dan akses distribusi bantuan dalam perencanaan pembangunan jalan.

Dengan persiapan tersebut, pemerintah berharap mobilisasi bantuan dan koordinasi antarinstansi tetap dapat berjalan apabila sejumlah akses utama mengalami gangguan.

Baca Juga: Gubernur Pramono Siapkan 4 Kawasan Tematik Jakarta, Pasar Baru Ala Korea Mulai 2027

Pemprov Jabar evaluasi kebutuhan alat pemantau gempa

Kesiapsiagaan menghadapi Sesar Lembang juga mencakup sistem pemantauan aktivitas gempa dan penyampaian informasi kepada masyarakat.

Dalam pemaparan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terdapat enam sensor khusus yang dipasang di sisi utara dan selatan Sesar Lembang. Pemprov Jabar menilai jumlah serta persebaran alat tersebut perlu dikaji untuk menentukan apakah diperlukan penambahan perangkat pemantauan.

Dedi meminta kebutuhan mitigasi dihitung secara terperinci, termasuk jumlah peralatan, lokasi pemasangan, dan anggaran yang diperlukan.

“Semua perangkat mitigasi yang diperlukan harus disiapkan dalam kondisi siap,” ucap Dedi.

Menurut BMKG, hingga kini belum ada teknologi yang mampu memprediksi secara akurat tanggal dan waktu terjadinya gempa bumi. Karena itu, pemantauan aktivitas seismik, penyebaran informasi kebencanaan, dan kesiapan respons darurat menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko serta dampak gempa.

Dedi juga menekankan bahwa hasil kajian kebencanaan harus diterapkan sebagai pedoman pembangunan daerah, bukan sekadar menjadi dokumen perencanaan.

Tonton: Saham Haji Isam Dijaminkan ke BMRI, Alarm Risiko Mulai Berbunyi?

Sesar Lembang berpotensi memicu gempa kuat

Sesar Lembang merupakan sesar aktif sepanjang sekitar 29 kilometer yang membentang di utara Bandung dan terbagi menjadi enam segmen.

Badan Geologi pada Februari 2026 menyebutkan, pergerakan seluruh segmen dalam satu kejadian berpotensi menghasilkan gempa dengan magnitudo 6,8 hingga 7.

Sementara itu, kajian BMKG pada Oktober 2025 menyebutkan bahwa dua segmen aktif, yakni Cimeta dan Cipogor, berpotensi menghasilkan gempa maksimum magnitudo 5,5 berdasarkan skenario yang digunakan.

Perbedaan angka tersebut berkaitan dengan segmen dan skenario pergerakan yang dianalisis. Angka magnitudo tersebut merupakan estimasi potensi, bukan prediksi bahwa gempa dengan kekuatan tertentu akan terjadi pada waktu dekat.

Dengan potensi risiko tersebut, kesiapan jalur evakuasi, ketersediaan logistik, sistem komunikasi, dan keberlangsungan pemerintahan menjadi bagian penting dari mitigasi bencana di Jawa Barat.







Sumber: https://bandung.kompas.com/read/2026/10/12/232033478/skenario-gempa-besar-sesar-lembang-dedi-mulyadi-siapkan-cirebon-jadi-pusat?page=all#page2


 

MotoGP Mandalika 2026, Berkah Ekonomi bagi Ekonomi Lokal

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru