KONTAN.CO.ID - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa sejumlah wilayah di Indonesia rawan terhadap fenomena sinkhole atau lubang runtuhan tanah.
Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, mengatakan sinkhole kerap terjadi di kawasan yang tersusun oleh lapisan batugamping atau bentang alam karst. Fenomena ini merupakan proses alami yang berlangsung dalam jangka waktu panjang akibat pelarutan batuan di bawah permukaan tanah, dikutip dari laman resmi BRIN, Rabu (14/1/2026).
Menurut Adrin, proses terbentuknya sinkhole diawali oleh air hujan yang bersifat asam karena menyerap karbon dioksida (CO2) dari udara dan permukaan tanah. Air tersebut kemudian meresap ke dalam tanah dan melarutkan batuan yang mudah larut, terutama batugamping.
“Air hujan ini meresap ke dalam tanah dan melarutkan batuan yang mudah larut, terutama batugamping, sehingga membentuk rekahan dan rongga di bawah permukaan,” jelas Adrin.
Seiring waktu, aliran air permukaan dan air tanah yang terus melewati rekahan tersebut menyebabkan rongga semakin membesar. Kondisi ini melemahkan lapisan penyangga di atasnya.
Ketika hujan lebat terjadi, lapisan penutup rongga menjadi semakin tipis hingga akhirnya tidak mampu menahan beban di atasnya.
“Saat itulah lapisan atap runtuh secara tiba-tiba dan terbentuk lubang di permukaan tanah yang kita kenal sebagai sinkhole,” ujar Adrin.
Lantas, mana saja wilayah Indonesia yang rawan sinkhole?
Baca Juga: Dorong Pengembangan Ekowisata, IFG Tanam 5.000 Bibit Mangrove di Muara Beting
Wilayah Indonesia yang rawan sinkhole
Adrin menyebutkan, fenomena sinkhole relatif sering dijumpai di Indonesia, terutama di wilayah dengan lapisan batugamping yang tebal di bawah permukaan tanah. Beberapa daerah yang dikenal rawan, termasuk Gunungkidul, Pacitan, dan Maros.
Ia menambahkan, salah satu tantangan terbesar dalam mitigasi sinkhole adalah sulitnya mendeteksi tanda-tanda awal kemunculannya. Proses pembentukan rongga terjadi secara perlahan di bawah permukaan tanah, sehingga tidak mudah dikenali secara kasat mata.
Meski demikian, keberadaan rongga batugamping sebenarnya dapat dideteksi melalui survei geofisika.
“Metode seperti gayaberat, georadar, dan geolistrik dapat digunakan untuk memetakan sebaran, kedalaman, dan ukuran rongga di bawah tanah," kata Adrin.
"Metode ini memberikan gambaran kondisi bawah permukaan sehingga potensi sinkhole bisa diantisipasi lebih dini,” tambahnya.
Air di dalam sinkhole bukan air "sakti"
Terkait kualitas air yang kerap ditemukan di dalam sinkhole, Adrin menegaskan bahwa air tersebut umumnya berasal dari air hujan dan air bawah tanah. Karena itu, kelayakannya untuk dikonsumsi tidak bisa disimpulkan secara langsung.
“Air harus melalui analisis kimia terlebih dahulu, meliputi kejernihan, warna, bau, rasa, pH, kandungan bakteri berbahaya seperti E. coli, serta logam berat, sesuai standar kesehatan dalam Peraturan Menteri Kesehatan,” ujarnya.
Adrin juga mengingatkan bahwa kawasan permukiman yang berdiri di atas lapisan batugamping memiliki risiko lebih tinggi mengalami sinkhole. Adapun, salah satu tanda awal yang perlu diwaspadai adalah hilangnya aliran air permukaan secara tiba-tiba.
Baca Juga: Pramono: Stasiun Harmoni MRT Akan Jadi TOD Paling Ramai di Pusat Jakarta
“Jika aliran air mendadak menghilang, bisa jadi air masuk ke rongga bawah tanah. Kondisi ini perlu segera diinvestigasi karena berpotensi memicu runtuhan,” katanya.