Jabodetabek

Aplikasi Nafas, pengukur kualitas udara secara real time di Jabodetabek

Jumat, 25 September 2020 | 09:54 WIB   Reporter: Venny Suryanto
Aplikasi Nafas, pengukur kualitas udara secara real time di Jabodetabek

ILUSTRASI. Aplikasi Nafas dapat mengukur kualitas udara secara real time

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemprov DKI bersama dengan Bloomberg Philanthropies dan Vital Strategies meluncurkan kerjasama berupa Aksi Menuju Udara Bersih Jakarta. Salah satu inisiatif yang dilakukan adalah dengan memperbesar jaringan pemantauan kualitas udara di Jakarta. 

Inisiatif itu didorong dengan peluncuran aplikasi kualitas udara lokal yang telah diluncurkan dengan nama Nafas. Aplikasi tersebut telah memasang setiap sensor yang nantinya dapat memberikan data kualitas udara real-time bagi pengguna. 

Aplikasi pengukur kualitas udara tersebut disebut Nafas. Aplikasi buatan Nafasaria Pte.Ltd ini sudah tersedia di Android dan iOS. Dengan jaringan sensor yang mencakup lebih dari 45 lokasi di Jabodetabek, nafas telah memiliki jumlah sensor PM2.5 terbesar di kota. 

“Data yang benar-benar lokal sangat penting untuk mengetahui kualitas udara di sekitar mereka. Hal inilah yang membuat kami merancang nafas untuk terhubung ke total 45 jaringan sensor PM2.5 kami sendiri di Jabodetabek.” ungkap Nathan Roestandy, co-founder & Chief Executive Officer Nafas dalam keterangan resmi yang diterima Kontan.co.id, Kamis (24/9). 

Baca Juga: Bagi yang mampu, Pemprov DKI akan sediakan tempat isolasi mandiri berbayar di hotel

Sebagai aplikasi kualitas udara lokal yang telah diluncurkan pada minggu ini, Nafas juga telah memasang 27 sensor kualitas udara di berbagai titik DKI Jakarta. 

Setiap sensor itu nantinya dapat memberikan data kualitas udara real-time bagi pengguna melalui aplikasi. Adapun aplikasi pemantauan kualitas udara ini juga dapat memberikan data kualitas udara di kota lain seperti di Bogor, Tangerang, Tangerang Selatan, Bekasi dan Depok.

Piotr Jakubowski, mantan Chief Marketing Officer Gojek sekaligus co-founder & Chief Growth Officer nafas mengatakan sensor pada aplikasi ini telah di gunakan lebih dari 400 pemerintah lokal di seluruh Eropa termasuk Inggris, Belanda, Norwegia, Polandia, Italia, Jerman, Belgia dan lain-lain.

“Sehingga aplikasi ini bisa memberikan kualitas udara dan dapat dipakai pemerintah maupun publik,” pungkas dia.

 

Selanjutnya: Pemprov DKI gandeng 26 rumah sakit swasta untuk tangani Covid-19

 

Editor: Anna Suci Perwitasari


Terbaru