Awas! Tren Pengguna Vape Di Jakarta Meningkat, Ini Bahaya Asap Vape untuk Kesehatan

Kamis, 02 Juli 2026 | 04:20 WIB
Awas! Tren Pengguna Vape Di Jakarta Meningkat, Ini Bahaya Asap Vape untuk Kesehatan

ILUSTRASI. Awas! Tren Pengguna Vape Di Jakarta Meningkat, Ini Bahaya Asap Vape untuk Kesehatan


Reporter: Adi Wikanto  | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Tren penggunaan rokok eletrik atau vape di DKI Jakarta terus meningkat. Padahal, vape juga berbahaya untuk kesehatan. Berikut dampak negatif penggunaan vape.

Persentase pengguna rokok elektrik atau vape di DKI Jakarta masih tergolong kecil. Namun tren penggunaan vape di kalangan anak muda mulai menjadi perhatian. 

Dilansir dari Kompas.com, data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta menunjukkan sebagian besar penduduk berusia 15 tahun ke atas tidak menggunakan vape. Namun, terdapat kelompok masyarakat yang menggunakannya setiap hari maupun sesekali.

BPS: Lebih dari 98% Warga Jakarta Tidak Menggunakan Vape

Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto, mengatakan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025 menunjukkan sebanyak 98,35% penduduk DKI Jakarta berusia 15 tahun ke atas mengaku tidak menggunakan vape dalam satu bulan terakhir.

Sementara itu, pengguna vape terbagi dalam dua kategori, yakni:

  • Pengguna harian: 0,62%
  • Pengguna tidak setiap hari: 0,85%

Meski angkanya relatif kecil, distribusi pengguna berbeda di setiap wilayah administrasi Jakarta.

Baca Juga: Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau Jaga Daya Beli Pekerja

Jakarta Selatan Jadi Wilayah dengan Pengguna Vape Harian Tertinggi

Berdasarkan data BPS, Jakarta Selatan mencatat persentase pengguna vape harian tertinggi dibanding wilayah lain di Ibu Kota.

Rinciannya sebagai berikut:

Wilayah Pengguna Harian Pengguna Tidak Setiap Hari
Jakarta Selatan 0,91% -
Jakarta Utara 0,74% -
Jakarta Timur - 1,40% (tertinggi)

Menurut Kadarmanto, tingginya angka di Jakarta Selatan menarik perhatian karena kawasan tersebut dikenal sebagai pusat aktivitas anak muda, kawasan kuliner, kafe, dan gaya hidup urban yang membuat penggunaan vape semakin mudah diterima dalam kehidupan sehari-hari.

Tonton: Mulai 1 Juli, Pedagang di Shopee dan Tokopedia Kena PPh 0,5%

Dinkes DKI: Anggapan Vape Lebih Aman adalah Persepsi yang Keliru

Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap vape sebagai alternatif yang aman dibandingkan rokok konvensional.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menegaskan promosi yang menyebut rokok elektrik lebih aman berpotensi menyesatkan masyarakat.

"Rokok elektrik atau vape sering dipromosikan sebagai alternatif yang lebih aman dibanding rokok konvensional. Namun, klaim ini menyesatkan dan perlu diluruskan," ujar Ani.

Menurutnya, vape tetap mengandung nikotin yang bersifat adiktif sehingga dapat menyebabkan ketergantungan. Bahkan, paparan nikotin dari vape pada beberapa produk dapat menyamai atau melebihi rokok konvensional.

Vape Mengandung Berbagai Zat Berbahaya

Selain nikotin, aerosol yang dihasilkan vape mengandung sejumlah bahan kimia yang berpotensi membahayakan kesehatan, di antaranya:

  • Formaldehida (formalin)
  • Partikel logam
  • Akrolein
  • Silika
  • Asetaldehida

Menurut Dinas Kesehatan DKI Jakarta, paparan zat-zat tersebut dapat merusak jaringan paru-paru dan sebagian di antaranya bersifat karsinogenik atau dapat memicu kanker. 

Tonton: KAI Terus Berinovasi, Loyalitas Pelanggan Tetap Terjaga

Bahaya asap vape

Dilansir dari website Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, bahaya asap vape bisa menimbulkan berbagai penyakit. Berikut bahaya asap vape untuk kesehatan:

Vape sebabkan paru-paru bocor

Bahaya asap vape yang pertama adalah menyebabkan paru-paru bocor. Dalam satu kasus di Amerika Serikat pada remaja usia 18 tahun, dilaporkan telah mengalami paru-paru bocor hingga memerlukan pemasangan selang di dada. Pasien itu memiliki riwayat penggunaan vaping selama 1,5 tahun.

Vape dapat menyebabkan pnemuonia

Bahaya asap vape yang kedua adalah menyebabkan pnemuonia. Bahaya asap vape ini dialami seorang pasien laki-laki usia 18 tahun di Indonesia.

Ia memiliki keluhan sesak napas dan batuk-batuk sejak 3 minggu. Muncul demam di awal, dan batuk disertai sedikit bercak darah. Dia tidak memiliki riwayat tuberkulosis (TB) dan asma, namun pasien diketahui menggunakan vape dalam 3 bulan. Pasien akhirnya didiagnosis mengalami penumonia atau radang paru.

Tonton: Wapres Gibran Punya Harta Rp 27,9 Miliar di LHKPN Terbaru

Vape dapat menyebabkan asma

Bahaya asap vape yang ketiga adalah menyebabkan asma. Dalam studi tahun 2019 di Amerika Serikat pada 32.000 orang dewasa dengan penyakit paru menemukan, rokok elektronik meningkatkan risiko penyakit paru termasuk asma 30 persen lebih besar, dibandingkan yang tidak pernah merokok maupun tidak pernah menggunakan vape. Risiko asma lebih besar apabila ia menjadi perokok konvensional dan rokok elektronik.

Risiko vape dengan kanker paru

Bahaya asap vape yang keempat adalah kanker paru. Penelitian tahun 2019 di Taiwan yang dipublikasikan di PNAS pada mencit di laboratorium menunjukkan, bahaya vape rokok atau rokok elektronik dapat meningkatkan risiko kanker paru.

Hasilnya adalah sembilan dari 40 mencit atau 22,5 persen yang terpapar asap rokok elektronik dengan kandungan nikotin selama 54 minggu timbul kanker paru jenis adenokarsinoma.

Risiko vape menyebabkan Evali

Bahaya asap vape yang kelima adalah menyebabkan evali. Evali adalah penyakit paru-paru yang diakibatkan oleh konsumsi rokok elektrik atau vape.

Evali tercatat pernah terjadi di Amerika, yang mana paru-paru pasien mengalami kerusakan akut setelah ia mengonsumsi vape rokok selama beberapa minggu. Pasien juga memerlukan perawatan di ICU, dan memakai ventilator.

 

 

Sebagian artikel berasal dari: https://megapolitan.kompas.com/read/2026/07/01/16500621/bps-catat-jakarta-selatan-tertinggi-pengguna-vape-harian-tren-anak-muda?page=all#page2.


 

KPK Bongkar Jual Beli Jabatan di Kabupaten Kuantan Singingi Riau, Ada Jatah SUV Rp 2,5 Miliar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tag

Terbaru