KONTAN.CO.ID - Jakarta. Masyarakat di sekitar Ibu Kota Jakarta semakin menggemari menggunakan transportasi massal KRL Commuter Line Jabodetabek. Hingga akhir tahun 2025, jumlah penumpang KRL naik tiga kali lipat dibandiingkan 15 tahun lalu. Menariknya, kini penumpang KRL Jabodetabek bisa bayar tiket menggunakan botol plastik bekas.
Jumlah pengguna KAI Commuter menembus lebih dari 400 juta orang sepanjang 2025. Angka tersebut melonjak lebih dari tiga kali lipat dibandingkan jumlah pengguna pada 2010 yang mencapai sekitar 127 juta orang.
“Kepercayaan masyarakat terus meningkat. Tercatat 127 juta pengguna di tahun 2010, kini melonjak hingga melampaui 400 juta pengguna sepanjang tahun 2025,” kata Direktur Utama KAI Commuter Purnomo Sidi dalam keterangannya, Selasa (15/9/2026).
Saat ini, KAI Commuter melayani rata-rata sekitar 1,4 juta pengguna setiap hari.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini 15 September 2026, Suhu Capai 35°C
Botol plastik bekas untuk bayar tiket KRL
Kini, pengguna KRL Commuter Line Jabodetabek kini bisa mendapatkan poin yang dapat ditukarkan menjadi saldo untuk membayar tiket. Caranya, cukup memasukkan botol plastik bekas ke mesin Reverse Vending Machine (RVM) yang disediakan KAI Commuter.
Program ini menjadi bagian dari upaya KAI Commuter mengurangi sampah plastik sekaligus mendorong partisipasi pengguna dalam menjaga lingkungan.
Direktur Utama KAI Commuter Purnomo Sidi mengatakan, pengguna akan memperoleh poin dari setiap botol plastik yang dimasukkan ke mesin RVM.
“Pengguna akan mendapatkan poin 100 untuk setiap botol plastik yang bisa ditukarkan dengan saldo melalui KMT untuk pembayaran tiket Commuter Line,” kata Purnomo dalam keterangannya, Senin (14/9/2026).
Melalui program tersebut, setiap botol plastik yang memenuhi ketentuan dan dimasukkan ke RVM akan memberikan 100 poin kepada pengguna.
Poin yang terkumpul selanjutnya dapat ditukarkan menjadi saldo melalui Kartu Multi Trip (KMT). Saldo tersebut bisa digunakan untuk kebutuhan pembayaran tiket Commuter Line.
Program RVM KAI Commuter diterapkan di lima stasiun Commuter Line Jabodetabek.
Kehadiran mesin ini menjadi bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) serta komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan.
KAI Commuter mendorong agar botol plastik yang dihasilkan pengguna selama menggunakan layanan kereta tidak hanya berakhir sebagai sampah, tetapi juga diarahkan untuk masuk ke proses pengelolaan dan daur ulang.
Baca Juga: Sinergi Pemkot Denpasar dan Forkopimda Dorong Pemulihan Korban Gempa Manggarai NTT
Program keberlanjutan KAI Commuter
KAI Commuter menilai pengelolaan sampah plastik menjadi bagian penting dalam pengembangan transportasi publik yang ramah lingkungan.
Selain program RVM, perusahaan juga menjalankan program daur ulang seragam dinas bekas yang dikumpulkan dari para pegawai.
Material seragam tersebut kemudian diolah menjadi kain batik khas KAI Commuter bertema “Batik Laras Budaya Commuter”.
Desain batik ini merepresentasikan perpaduan budaya Indonesia dengan mobilitas pengguna Commuter Line yang berasal dari berbagai generasi dan latar belakang.
Konsep tersebut menggambarkan masyarakat yang berbeda, tetapi tetap dapat bergerak secara selaras dalam satu perjalanan.
Program keberlanjutan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan KAI Commuter dalam memperingati HUT ke-18 perusahaan.
Dengan jumlah pengguna yang besar, pengelolaan sampah dan penerapan prinsip keberlanjutan dinilai menjadi bagian penting dalam pengembangan transportasi publik ke depan.
Melalui program RVM dan pengolahan material bekas, KAI Commuter berupaya mengajak pengguna berkontribusi dalam menjaga lingkungan sekaligus memperoleh manfaat berupa saldo untuk perjalanan Commuter Line.
Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/09/15/101000026/botol-plastik-bekas-bisa-jadi-saldo-tiket-krl-ini-cara-mendapatkannya?source=terkini_artikel.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News