Tim Damkar Jepang Pun Kesulitan Padamkan Kebakaran Hutan Di Kalimantan

Jumat, 18 September 2026 | 04:00 WIB
Tim Damkar Jepang Pun Kesulitan Padamkan Kebakaran Hutan Di Kalimantan

ILUSTRASI. Kabut asap pekat menghambat operasi pemadaman karhutla Kalbar oleh Jepang. Tiga helikopter batal terbang karena jarak pandang rendah.


Reporter: Adi Wikanto  | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Pontianak. Operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat menghadapi kendala cuaca. Kabut asap pekat membuat tim pemadam kebakaran asal Jepang membatalkan seluruh penerbangan operasi pemadaman pada Kamis (17/9/2026).

Bantuan Jepang yang dikerahkan untuk menangani karhutla di Indonesia mencakup tiga helikopter milik Pasukan Bela Diri Jepang. Namun, kondisi jarak pandang yang memburuk menghambat pelaksanaan penyiraman air dari udara atau water-bombing.

Jarak pandang di lokasi dilaporkan berada di bawah batas aman, yakni kurang dari tiga kilometer. Kondisi tersebut membuat penerbangan helikopter tidak dapat dilaksanakan.

Baca Juga: Viral! WNA Diduga Makan Penyu Di Raja Ampat, Kenali Dampak Negatifnya

Operasi Water-Bombing Jepang Tertunda

Petugas humas misi Jepang, Takeshi Koga, mengatakan bantuan yang dikirim dari negaranya telah menghadapi kendala cuaca sejak awal kedatangan. "Semuanya dibatalkan karena jarak pandang buruk," kata Koga, seperti dilaporkan AFP.

Operasi penyiraman air dari udara sebelumnya direncanakan berlangsung pada Minggu (13/9/2026). Namun, karena jarak pandang rendah, pelaksanaannya ditunda hingga Rabu (16/9/2026).

Kondisi kabut asap yang kembali memburuk pada Kamis (17/9/2026) membuat seluruh penerbangan pemadaman hari itu dibatalkan.

Baca Juga: Membludak, Banyak RS Di Bogor Dipenuhi Pasien Rawat Jalan, Ini Penjelasan Dinkes

350 Personel Jepang Dikerahkan ke Kalbar

Sebanyak 350 personel Pasukan Bela Diri Jepang tiba di Kalimantan Barat pada pekan sebelumnya. Mereka membawa tiga helikopter untuk membantu Indonesia menangani karhutla.

Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah yang terdampak parah oleh kebakaran hutan dan lahan dalam beberapa pekan terakhir.

Kehadiran tim Jepang merupakan bagian dari bantuan penanganan karhutla, khususnya melalui operasi pemadaman dari udara.

Namun, pelaksanaan misi tersebut bergantung pada kondisi cuaca dan jarak pandang yang memenuhi persyaratan keselamatan penerbangan.

Tonton: AS Akui Punya Senjata di Luar Angkasa, China dan Rusia Jadi Sorotan

Kabut Asap Meluas ke Negara Tetangga

Karhutla di Kalimantan dan Sumatera telah berlangsung selama berminggu-minggu. Asap dari kebakaran tidak hanya menyelimuti sejumlah wilayah Indonesia, tetapi juga dilaporkan berdampak ke negara-negara tetangga.

Wilayah yang disebut terdampak kabut asap antara lain Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Filipina, dan diduga Vietnam.

Fenomena kebakaran hutan dan lahan di Indonesia kerap terjadi pada musim kemarau, terutama sekitar Juli hingga Oktober.

Pada tahun ini, dampak karhutla dilaporkan semakin luas. Kondisi tersebut dikaitkan dengan cuaca kering, fenomena El Nino, perubahan iklim, degradasi hutan, serta praktik pembukaan lahan dengan cara membakar.

Luas Karhutla Indonesia Capai Ratusan Ribu Hektare

Data pemerintah Indonesia dalam bahan laporan mencatat luas lahan terbakar mencapai lebih dari 202.000 hektare sepanjang Januari hingga Juli 2026.

Sementara itu, proyek pemantauan Nusantara Atlas mencatat estimasi yang lebih tinggi, yakni mendekati 300.000 hektare untuk periode yang sama.

Nusantara Atlas juga memperkirakan total luas lahan terdampak karhutla hingga Agustus 2026 telah mencapai hampir 896.000 hektare.

Perbedaan angka tersebut menunjukkan adanya perbedaan sumber data dan metode pengukuran. Karena itu, angka luas kebakaran perlu dibaca berdasarkan periode dan metodologi masing-masing lembaga.

Faktor Cuaca dan Perubahan Iklim

Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari kondisi kemarau, praktik pembukaan lahan, hingga perubahan kondisi iklim.

Fenomena El Nino dapat meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah, yang pada gilirannya memperbesar potensi kebakaran dan menyulitkan upaya pemadaman.

Selain faktor cuaca, degradasi hutan selama bertahun-tahun dan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar juga menjadi perhatian dalam pembahasan karhutla.

Operasi pemadaman dari udara menjadi salah satu upaya untuk mengatasi kebakaran di wilayah yang sulit dijangkau dari darat. Namun, pelaksanaannya tetap memerlukan kondisi penerbangan yang aman, termasuk jarak pandang yang memadai.




Sumber: https://www.kompas.com/global/read/2026/09/17/173500170/damkar-jepang-kesulitan-padamkan-karhutla-indonesia-asap-terlalu-pekat. 





 

Kabut Tebal Selimuti Ho Chi Minh, Asap Kebakaran Indonesia Jadi Sorotan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tag

Terbaru