KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Strategi digitalisasi dan pendampingan bisnis menjadi kunci ekspansi UMKM ke pasar global.
Hal ini tercermin dari Batik Tulis Lasem Gunung Kendil asal Rembang, Jawa Tengah, yang berhasil memperluas pasar hingga mancanegara setelah bergabung dengan Rumah BUMN (RB) Rembang.
Corporate Secretary PT Semen Indonesia Tbk (SIG), Vita Mahreyni, menegaskan bahwa penguatan kapasitas bisnis dan pemanfaatan platform digital menjadi fokus utama perusahaan dalam mendorong UMKM naik kelas.
"SIG berkomitmen mendampingi UMKM agar mampu menjalankan usaha secara profesional dan memanfaatkan platform digital sehingga produknya bisa menjangkau pasar nasional hingga global," ujarnya dalam ketearngannya, Selasa (5/5/2026).
Menurut Vita, keberhasilan UMKM binaan tidak hanya berdampak pada peningkatan skala usaha, tetapi juga membuka lapangan kerja dan memperkuat ekonomi daerah.
Ia menilai, model pendampingan terintegrasi—mulai dari pelatihan manajemen, pemasaran digital, hingga akses pameran—menjadi faktor pembeda dalam mendorong daya saing UMKM.
Salah satu contoh konkret datang dari pelaku usaha Batik Tulis Lasem Gunung Kendil, Hawien Wilopo. Usahanya kini mampu menjual sekitar 150 produk batik setiap bulan dengan omzet mencapai Rp20 juta.
Produk tersebut tidak hanya terserap pasar domestik, tetapi juga diminati pembeli dari berbagai negara seperti Jerman, Belgia, Italia, Korea, dan Jepang.
Baca Juga: Danareksa Buka Akses UMKM Lokal Tembus Pasar Global
Ekspansi pasar ini ditopang oleh optimalisasi kanal digital serta eksposur melalui berbagai ajang pameran nasional dan internasional. Beberapa di antaranya termasuk Festival Tong Tong di Belanda, side event G20 di Bali, hingga pameran Inacraft di Jakarta.
Kehadiran di forum tersebut memperluas jejaring sekaligus meningkatkan visibilitas produk di pasar global.
Dari sisi operasional, pertumbuhan permintaan turut mendorong peningkatan kapasitas produksi. Saat ini, usaha tersebut mempekerjakan tujuh karyawan tetap dan melibatkan masyarakat sekitar saat permintaan meningkat.
Produk yang ditawarkan memiliki rentang harga cukup luas, dari Rp 200.000 hingga Rp 7 juta untuk kain batik, serta Rp 600.000 hingga Rp 800.000 untuk pakaian jadi—menunjukkan adanya segmentasi pasar dari menengah hingga premium.
Hawien menyebut, digitalisasi menjadi titik balik usahanya setelah terpukul pandemi Covid-19. “Keputusan bergabung dengan RB Rembang jadi titik kebangkitan usaha saya,” ujarnya singkat.
Baca Juga: Alibaba Luncurkan Trade Assurance Bantu UMKM Tembus Pasar Global
Selain aspek bisnis, keberhasilan ini juga memperkuat posisi batik sebagai produk budaya bernilai ekonomi tinggi. Pendampingan yang tepat dinilai mampu mengubah usaha berbasis keterampilan tradisional menjadi bisnis berorientasi pasar global.
Sebagai catatan, RB Rembang memberikan berbagai fasilitas bagi UMKM, mulai dari pelatihan manajemen, pemasaran digital, hingga keikutsertaan dalam pameran. Program ini menjadi bagian dari strategi SIG dalam membangun ekosistem UMKM yang berkelanjutan dan berdaya saing tinggi.
Di sisi lain, perjalanan Hawien sendiri dimulai dari hobi menggambar sejak kecil hingga akhirnya terjun ke dunia batik pada 2012.
Meski tanpa latar belakang formal di bidang tersebut, ia berhasil mengembangkan motif modern tanpa meninggalkan pakem tradisional—yang kini menjadi daya tarik utama produknya di pasar global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News