kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45769,82   10,44   1.37%
  • EMAS915.000 -0,44%
  • RD.SAHAM -0.01%
  • RD.CAMPURAN 0.00%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.03%

Harga BBM dalam negeri dinilai manipulatif, kenapa?


Kamis, 28 Mei 2020 / 21:44 WIB
Harga BBM dalam negeri dinilai manipulatif, kenapa?
ILUSTRASI. Petugas mengisi bahan bakar minyak pada kendaraan di SPBU Pertamina, Pondok Indah, Jakarta Selatan, Selasa (28/4). Pertamina memprediksi konsumsi BBM pada bulan Ramadan tahun ini akan berada di kisaran 110.034 kiloliter per hari atau turun 20% dibandingka

Sumber: TribunNews.com | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga bahan bakar minyak di dalam negeri dinilai manipulatif  karena lebih mahal dari seharusnya. Akibatnya, terjadi ekonomi biaya tinggi dan harga barang lebih mahal sehingga beban masyarakat makin berat menghadapi dampak Covid-19.

Bambang Haryo Soekartono, mantan anggota Komisi VI DPR periode 2014-2019 dari Fraksi Gerindra, mengungkapkan salah satu indikasi manipulasi harga BBM itu terlihat dari mahalnya harga solar di dalam negeri dibandingkan dengan bunker di pelabuhan Singapura.

Mengutip data bunker-ex.com per 21 Mei 2020, paparnya, harga bunker minyak diesel atau solar jenis MGO (HSD) di pelabuhan Singapura tercatat US$264 per 1.200 liter. Ini berarti harga solar nonsubsidi di pelabuhan transhipment terbesar di Asia Tenggara itu hanya Rp3.300 per liter (asumsi kurs Rp15.000 per dollar AS).

Baca Juga: Usai Ombudsman ketemu Pertamina, pupus harapan harga BBM turun

“Harga itu lebih rendah dari harga solar nonsubsidi (HSD) di Indonesia sebesar Rp7.300 per liter (harga awal Mei 2020), bahkan masih lebih rendah dibandingkan harga solar subsidi di Indonesia yang masih Rp5.150 per liter sehingga pelabuhan internasional di Indonesia tidak bisa bersaing dengan pelabuhan Singapura karena harga bankernya 2 sampai 3 kali lipat yang berlaku di pelabuhan internasional Indonesia. Padahal jargon Pak Presiden Jokowi adalah dunia maritim harus bisa bersaing secara global,” ungkap Bambang Haryo.

Mengacu dari data itu, Ketua Masyarakat Transportasi (MTI) Jatim ini yakin harga solar nonsubsidi di dalam negeri seharusnya tidak boleh lebih dari Rp4.300 per liter meskipun sudah dibebani pajak 4% dan ongkos angkut menggunakan asumsi biaya logistik termahal di dunia yakni 26% sampai ke pelosok.

“Maka solar nonsubsidi harus dijual di bawah Rp4.300 per liter, sedangkan harga solar subsidi di Indonesia seharusnya maksimal tidak lebih dari Rp3.300 per liter,” ujarnya.

Melihat fakta tersebut, Bambang Haryo mempertanyakan sikap pemerintah yang tidak menggubris tuntutan berbagai kalangan agar segera menurunkan harga BBM, terutama solar yang sangat dibutuhkan oleh sektor industri, transportasi publik, perikanan dan maritim, serta UMKM termasuk restoran dan pariwisata yang menunjang pertumbuhan ekonomi secara nasional.


Tag


TERBARU

[X]
×