Jurus Pemprov Bali Bangun Ekonomi Ramah Lingkungan

Rabu, 16 Maret 2022 | 18:38 WIB   Reporter: Lailatul Anisah
Jurus Pemprov Bali Bangun Ekonomi Ramah Lingkungan

ILUSTRASI. pembangunan ekonomi Bali selalu mempertimbangkan nilai nilai kearifan lokal dan ramah lingkungan.


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perekonomian Bali mengandalkan dari sektor pariwisata. Maka itu, pembangunan ekonomi Bali selalu mempertimbangkan nilai nilai kearifan lokal dan ramah lingkungan.

Gubernur Bali Wayan Koster menerapkan, salah satu referensi yang dipakai dalam membangun Bali adalah wejangan leluhur atau tetua Bali tentang cara hidup orang Bali di alam semesta ini.

“Wejanganya adalah cara hidup yang menyatu dengan alam, menjaga kelestarian lingkungan hidup untuk menjaga kelangsungan kehidupan. Dengan memandang manusia adalah alam itu sendiri, manusia harus sejalan dan seirama dengan alam, hidup yang menghidupi. Hidup harus menghormati alam. Alam ibarat orang tua. Oleh karena itu hidup harus mengasihi alam” ujar Wayan dalam Kompas Talk bersama Greenpeace, Rabu (16/3).

Ia mengatakan, perekonomian Bali dibangun dengan konsep ekonomi yang dibangun dengan menerapkan nilai nilai kearifan lokal Sad Kertih atau enam kebijaksanaan sumber utama kesejahteraan manusia.

Enam kebijaksanaan yang dimaksud. Yakni, pertama, Jana Kerti yang berarti upaya untuk menegakkan kesucian atau keseimbangan diri kita sendiri. Kedua, Jagat Kerti berarti upaya untuk menjaga kesucian atau keharmonisan hubungan antara semua makhluk.

Baca Juga: Bebas Pergi Wisata Tanpa Tes PCR dan Karantina, Industri Perhotelan Sumringah

Ketiga, Samudera Kerti berarti upaya untuk menjaga kesucian atau kelestarian pantai dan lautan. Keempat, Wana Kerti berarti upaya untuk menjaga kesucian atau kelestarian hutan dan pegunungan.

Kelima, Danu Kerti berarti upaya untuk menjaga kesucian atau kelestarian sumber-sumber air tawar seperti danau, berbagai sumber mata air dan sungai. Dan keenam, Atma Kerti berarti upaya untuk menegakkan kesucian jiwa-jiwa yang telah meninggalkan dunia material ini.

“Saya tidak menggunakan teori dari manapun, maka dari itu saya tidak mau terjebak dengan ekonomi hijau, biru, kuning apapun itu. Tapi yang saya kembangkan adalah ekonomi Bali yang berdasarkan nilai kearifan lokal bali. ” tambah Wayan.

Wayan menambahkan, untuk membangun perekonomian Bali berdasarkan nilai kearifan lokal, Bali memberlakukan regulasi sebagai ekosistem untuk mengembangkan ekonomi ramah liungkungan Bali.

Salah satu dari berberapa yang sudah berjalan yaitu kaitanya degan ramah lingkungan Bali melakukan kebiajakan pembatasan sampah plastik sekali pakai yang diatur dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 97 tahun 2018.

“Jadi, di Bali sudah melakukan ini di hotel restoran, pasar swalayan, tidak ada kresek, pipet , dan steorofom. Saat ini pun Bali sedang mengusahakan pemberhentian botol plastik satu kali pakai,” imbuh wayan.

Baca Juga: Pembatasan Dilonggarkan, Ekonomi dan Pariwisata Bali Bisa Segera Bangkit

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Khomarul Hidayat

Terbaru