KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Marthella Rivera Roidatua Sirait mengambil keputusan besar dalam hidupnya saat memilih menanggalkan seragam Aparatur Sipil Negara (ASN) demi membangun Koneksi Indonesia Inklusif (Konekin).
Keputusannya melepaskan status peneliti di salah satu kementerian pada tahun 2022 ini bukan tanpa alasan, melainkan sebuah panggilan untuk menciptakan ekosistem yang lebih adil bagi penyandang disabilitas di Indonesia.
Kisah Marthella bersama isu disabilitas bermula jauh sebelum ia menjadi ASN. Saat bertugas dalam program Indonesia Mengajar di Maluku Tenggara Barat (sekarang Kepulauan Tanimbar) tahun 2013, ia bertemu dengan tiga siswa berkebutuhan khusus.
Pengalaman tersebut menjadi pembuka mata (eye-opener) Marthella mengenai minimnya literasi dan kuatnya stigma terhadap disabilitas, terutama di daerah terpencil.
"Saya sadar isu ini butuh banyak penggerak. Karena latar belakang S1 saya Hubungan Internasional tidak nyambung, saya daftar beasiswa LPDP untuk ambil S2 di University of Birmingham, UK, dengan konsentrasi kebijakan sosial dan disabilitas," ujarnya dikutip dari program Insthink Kementerian UMKM, Jumat (23/1/2026).
Sepulangnya dari Inggris, Marthella mendirikan Konekin pada tahun 2018 sebagai sebuah startup sociopreneur. Nama Konekin sendiri diambil dari bahasa sehari-hari yakni koneksikan, dengan visi menjadi agregator yang menghubungkan berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) untuk pemberdayaan disabilitas.
Baca Juga: Keterlibatan Peneliti Disabilitas Masih Minim, SAPDA Dorong Kebijakan Afirmatif
Model bisnis yang dijalankan Konekin berfokus pada dua pilar utama, edukasi dan pemberdayaan. Marthella percaya, untuk membuat seseorang berdaya, kapasitasnya harus ditingkatkan terlebih dahulu. Oleh karena itu, Konekin menyediakan program pelatihan bagi teman-teman disabilitas melalui program bernama Bersiap.
Di sisi lain, Konekin menyasar pasar korporasi lewat layanan fee for service berupa corporate training. Hal ini sejalan dengan mandat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 yang mewajibkan perusahaan swasta mempekerjakan minimal 1% penyandang disabilitas, sementara BUMN dan pemerintah sebesar 2%.
"Banyak perusahaan bingung bagaimana memulai. Konekin hadir untuk melatih perusahaan agar siap menerima karyawan disabilitas, mulai dari membenahi SOP, asesmen aksesibilitas kantor, hingga membantu mencari talentanya. Kami menangani proses ini secara end to end," jelas Marthella.
Menariknya, Marthella yang merupakan non-disabilitas sempat menghadapi tantangan tersendiri dalam meyakinkan komunitas disabilitas. Namun, sebuah fakta terungkap sesaat sebelum ayahnya berpulang, di mana sang ayah ternyata adalah seorang disabilitas fisik dengan kaki yang berbeda panjang 10 cm, sebuah rahasia yang disimpan rapat selama 30 tahun. Hal ini semakin mempertebal keyakinannya bahwa ia memang dipanggil di jalan ini.
Selain pelatihan kerja, Konekin aktif mempromosikan produk-produk UMKM karya teman disabilitas, mulai dari kopi, kaos, hingga camilan. Marthella sangat ketat dalam proses kurasi produk. Ia menegaskan, konsumen harus membeli produk tersebut karena kualitasnya yang kompetitif, bukan karena rasa kasihan.
"Kami ingin mengubah stigma. Kami sering membawa sampel produk disabilitas ke klien korporasi untuk menunjukkan bahwa mereka mampu menghasilkan karya berkualitas pro. Kalau mereka bisa bikin desain atau produk sebagus ini, artinya mereka layak di-hire sebagai tenaga profesional," tegasnya.
Target Konekin ke depan adalah terus memperluas jangkauan inklusi di dunia kerja, terutama untuk ragam disabilitas yang stigmanya masih sangat berat, seperti disabilitas mental.
Marthella berkomitmen untuk terus mengikis ketakutan perusahaan melalui edukasi bahwa dengan akomodasi yang layak, penyandang disabilitas mental pun bisa sangat produktif.
Melalui Konekin, Marthella ingin memastikan bahwa tidak ada satu pun talenta Indonesia yang tertinggal (no one left behind) hanya karena keterbatasan fisik atau mental. Inklusi, baginya, adalah tentang memberikan kesempatan yang setara untuk berkarya dan berdaya bagi seluruh anak bangsa.
Baca Juga: 3.000 Pramuka Disabilitas Ikuti Literasi Keuangan, Wamenkeu: Ini Landasan Pembangunan
Selanjutnya: IHSG Melemah 1,37% Selama Sepekan, Ini Sentimen Pemberatnya
Menarik Dibaca: Ternyata Ini 6 Alasan Sering Lapar saat Cuaca Dingin, Apa Saja ya?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News