KPPIP dorong belanja infrastruktur guna kurangi dampak penurunan tanah di Semarang

Senin, 27 September 2021 | 11:22 WIB   Reporter: Vendy Yhulia Susanto
KPPIP dorong belanja infrastruktur guna kurangi dampak penurunan tanah di Semarang

ILUSTRASI. Banjir di Semarang

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian melalui Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) menegaskan, penurunan permukaan tanah di utara Jawa Tengah, utamanya Kota Semarang, membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Ketua Tim Pelaksana KPPIP Wahyu Utomo menyatakan, Kota Semarang masuk dalam kategori kerentanan menengah. Pasalnya, luas wilayah yang terendam banjir rob akibat penurunan muka tanah mencapai 14,6%. Adapun wilayah tersebut mencakup 18% area permukiman.

Adapun, banjir rob akibat penurunan muka tanah mencapai ketinggian 5 cm – 200 cm.

“Penduduk yang terdampak ini memberikan kontribusi pada kerugian ekonomi hingga Rp 32,2 triliun,” jelas Wahyu dalam keterangan tertulis yang diterima Kontan.co.id, Senin (27/9).

Wahyu yang juga menjabat sebagai Deputi Bidang Koordinasi Pengembangan Wilayah dan Tata Ruang Kemenko Perekonomian menambahkan, permasalahan tersebut membutuhkan identifikasi lebih lanjut terkait penyebab utama yang harus ditanggulangi untuk menemukan solusi yang paling optimal.

“Untuk mengatasi penurunan permukaan tanah juga membutuhkan integrasi antara proyek prioritas di utara Jawa Tengah serta prioritisasi belanja infrastruktur di tingkat pemerintah daerah dan pusat,” terang dia.

Baca Juga: Ini sektor usaha yang kembali sokong penerimaan pajak di tahun 2021

KPPIP mencatat, saat ini terdapat 15 proyek strategis nasional (PSN) yang ada di Jawa Tengah akan memerlukan sinkronisasi untuk dapat memberikan solusi terhadap penurunan muka tanah. Prioritisasi pembangunan proyek infrastruktur di Jawa Tengah bagian utara harus mempertimbangkan signifikansi dalam upaya penyelesaian masalah penurunan muka air tanah dan banjir rob.

Koordinator Project Management Office (PMO) Sektor Jalan dan Jembatan KPPIP, Kenwie Leonardo bilang, lesson learned di Tokyo dan Jakarta. Seperti diketahui, pada tahun 1960, pemerintah Kota Tokyo menghentikan penggunaan air tanahnya sehingga jumlah air tanah meningkat serta diikuti dengan berhentinya laju penurunan permukaan tanah.

Sedangkan, untuk Kota Jakarta sejak tahun 1980 penggunaan air tanah yang masif menyebabkan jumlah air menurun yang diikuti penurunan permukaan tanah hingga kini.

Sebagai salah satu solusi penurunan muka tanah dan penanganan banjir rob, pemerintah membangun Tol Semarang Harbour yang terintegrasi dengan tanggul laut. Jalan Tol ini juga akan memberikan dukungan akses dengan menghubungkan ruas Tol Batang-Semarang, Tol Lingkar Semarang, dan ruas Tol Semarang-Demak sehingga akan mempercepat arus logistik menuju Pelabuhan Tanjung Mas.

“Pembangunan tanggul laut yang terintegrasi saat ini harus mempertimbangkan apakah dapat memberi kontribusi solusi banjir rob dan penurunan muka tanah di Semarang Utara. Selain itu, untuk dapat menarik investor terdapat potensi untuk melakukan bundling dengan pengembangan kawasan di sekitar tanggul laut,” jelas Kenwie.

Editor: Anna Suci Perwitasari
Terbaru