Nusantara

Maudu Lompoa dan Bungo Lado, tradisi Maulid Nabi di Sumbar dan Sulsel

Kamis, 29 Oktober 2020 | 14:35 WIB   Penulis: Virdita Ratriani
Maudu Lompoa dan Bungo Lado, tradisi Maulid Nabi di Sumbar dan Sulsel

KONTAN.CO.ID - Momen kelahiran Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiul Awwal diperingati oleh Muslim di seluruh dunia termasuk Indonesia dengan perayaan Maulid. 

Tradisi Maulid Nabi di masing-masing daerah di Indonesia pun berbeda. Seperti di Yogyakarta dan Solo terdapat tradisi grebeg maulud, di Madura dengan tradisi muludhe, dan di Garut ada tradisi ngelungsur pusaka. 

Selain itu, di luar Jawa pun juga memiliki tradisi Maulid Nabi yang berbeda-beda. Di Sulawesi Selatan memiliki tradisi Maudu Lompoa untuk merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. 

Sementara di Padang Pariaman, Sumatera Barat juga memiliki tradisi Bungo Lado. 

Baca Juga: Libur panjang, 147.000 kendaraan sudah tinggalkan Jakarta

Tradisi Maudu Lompoa di Sulawesi Selatan

Dirangkum dari laman NU online, Maudu Lompoa berarti Maulid Besar atau lebih dikenal sebagai puncak peringatan maulid. 

Dalam perayaan ini, warga mengarak replika perahu Pinisi yang dihias beraneka ragam kain sarung dan dipamerkan di tepi sungai. 

Setelah dipamerkan, replika perahu sepanjang lima meter tersebut diangkat dan diarak warga keliling desa. 

Salah satu daerah yang terkenal dalam perayaan ini ialah Desa Cikoang, Kecamatan Laikang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. 

Baca Juga: Satgas Covid-19 rekomendasikan aktivitas yang bisa dilakukan saat libur panjang nanti

Sepanjang acara, tabuhan gendang atau seni musik Gandra Bulo khas masyarakat lokal terus terdengar. Di dalam perahu, disimpan makanan nasi ketan khas Makassar atau biasa disebut Songkolo dan dihias telur berwarna-warni.

Sajian makanan ini melambangkan bahtera yang membawa berkah bagi masyarakat Cikoang. Setelah prosesi arak selesai, makanan ini dipersembahkan dalam puncak Maudu Lompoa di Baruga, yang dipimpin oleh pemimpin ritual yang biasa disebut Sayye. 

Secara historis, perayaan Maudu Lompoa ini melambangkan sejarah masuknya agama Islam di wilayah selatan pulau Sulawesi yang dibawa oleh pedagang-pedagang Arab. 

Peringatan Maudu Lompoa ini juga menjadikan Cikoang, yang berjarak 80 kilometer dari Makassar menjadi tujuan wisata budaya yang menarik bagi wisatawan.

Baca Juga: Pertamina pastikan pasokan BBM dan LPG tercukupi selama libur panjang pekan ini

Tradisi Bungo Lado di Padang Pariaman


Bungo Lado, tradisi Maulid Nabi di Padang Pariaman

Di Sumatra Barat tepatnya di Padang Pariaman dikenal tradisi bungo lado.

Dirangkum dari laman Indonesia.go.id, secara etimologi, bungo lado berasal dari bahasa Minang. Bungo artinya bunga, lado artinya lada atau cabe. Secara denotasi bermakna bunga cabe. 

Tapi konotasi bungo lado ialah “pohon uang”. Tradisi perayaan Maulid Nabi ini dilakukan dengan cara membuat semacam pohon hias yang dihiasi oleh uang-uang kertas.

Perayaan dikoordinir oleh kapalo mudo atau ketua para pemuda. Lazimnya dilakukan oleh ketua Karang Taruna.

Baca Juga: 133 Kantor cabang Bank Mandiri masih beroperasi saat libur cuti bersama

Kapalo mudo mengordinir masyarakat desa yang hendak mendonasikan uang mereka untuk perayaan tradisi Bungo Lado. Uang-uang tersebut dikumpulkan di tempat-tempat keramaian atau strategis seperti pos ronda hingga warung milik warga.

Setelah uang terkumpul, kapalo mudo berkoordinasi dengan perwakilan masyarakat untuk mencari dan menghias ranting-ranting pohon menjadi pohon uang. 

Uang yang terkumpul bisa mencapai jutaan bahkan puluhan juta rupiah. Selanjutnya, bungo lado diarak menuju salah satu masjid atau surau. 

Uang tersebut disumbangkan untuk surau guna menambah dana kegiatan keagamaan. Selain bungo lado, prosesi arakan juga disertai tersajinya makanan khas bernama jamba, yang dimasak oleh masyarakat desa.

Selanjutnya: ​Keunikan Pulau Bungin, pulau terpadat di Indonesia

 

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Virdita Ratriani
Terbaru