Peringati Hari Kartini, RLU Tingkatkan Peran Kelompok Wanita Tani

Jumat, 22 April 2022 | 07:51 WIB
Peringati Hari Kartini, RLU Tingkatkan Peran Kelompok Wanita Tani

ILUSTRASI. RLU melibatkan tenaga kerja wanita dalam pengelolaan program konservasi seluas 25% dari luas area konsesi di Jambi. KONTAN/Baihaki/26/9/2010


Reporter: Dikky Setiawan  | Editor: Dikky Setiawan

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. PT Royal Lestari Utama (RLU) terus memperkuat peran wanita di sekitar kawasan hutan. Perusahaan karet alam yang beroperasi di Jambi dan Kalimantan Timur ini, telah membentuk empat kelompok wanita tani yang melibatkan lebih 68 petani.

Yasmine Sagita, Direktur Sustainability, Corporate Affairs, dan HR PT Royal Lestari Utama, mengatakan, peningkatan kapasitas, yang memberikan akses terhadap kelompok wanita untuk pengembangan diri, merupakan hal yang sangat penting. 

Hal itu, terutama dalam memberikan kaum wanita akses yang setara untuk menyampaikan berbagai masukan dan ide-ide, pemberian pelatihan untuk turut berpartisipasi dalam membentuk masyarakat tangguh dan inklusif untuk penghidupan yang berkelanjutan. 

Yasmine menegaskan, pembinaan yang dilakukan RLU melalui pola agroforestry berhasil membuat keterampilan, produktivitas tanaman karet dan pengetahuan dalam menunjang kemandirian pangan para wanita tani bertambah. 

Baca Juga: Provinsi Jambi tempat percontohan kehutanan sosial

"Kaum perempuan terbukti berperan nyata dalam peningkatan pendapatan keluarga kelompok tani kemitraaan kehutanan hingga 30%," kata Yasmine dalam keterangan resminya, Jumat (22/4).   

Secara kultural, menurut Yasmine, kaum perempuan di Jambi khususnya di sekitar kawasan hutan, berperan aktif dalam menunjang ekonomi rumah tangga. Ini termasuk, dalam mengelola lahan pertanian dan kebun. 

Melalui program Community Partnership Program (CPP), RLU melalui dua anak usahanya yaitu PT Lestari Asri Jaya (LAJ) dan PT Wanamukti Wisesa mendorong perempuan untuk berperan menunjang kehidupan keluarganya dalam mengelola perkebunan karet.

Dan, lewat empat kelompok tani wanita yang telah terbentuk, RLU melakukan berbagai kegiatan pembinaan. Mulai dari teknik menyadap (menderes) pohon karet, dan memproduksi pupuk organik.

Baca Juga: Neraca Perdagangan Maret 2022 Catat Surplus, Berikut Komoditas Penopangnya

Selain itu, mengembangkan pola agroforestry dengan tanaman usia pendek seperti sayur mayur dan jahe, serta perikanan dan lain lain. Kaum perempuan juga dibina agar lebih aktif dalam proses pemasaran dan mengembangkan produk pertanian.  

Para anggota wanita tani mendapatkan pelatihan peningkatan kapasitas untuk penguatan kelembagaan kelompok dan tata kelola serta pelatihan kewirausahaan. RLU juga memberikan kesempatan kerja dan memberdayakan mereka di tengah masyarakat sekitar.

Saat ini, RLU memiliki tenaga kerja wanita sebanyak 34% dari total jumlah karyawan, melebihi target 30% bagi partisipasi perempuan. Hingga tahun 2021, RLU telah menyerap lebih dari 900 pekerja wanita yang bekerja secara harian di Jambi.

Mitigasi konflik

RLU melibatkan tenaga kerja wanita dalam pengelolaan program konservasi seluas 25% dari luas area konsesi di Jambi yang sekaligus berperan sebagai kawasan penyangga sisi selatan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). 

Mereka terlibat dalam upaya mitigasi konflik satwa di areal konservasi. Perempuan juga terlibat aktif dalam pembibitan 30 jenis bibit tanaman hutan untuk mengembalikan ekosistem areal konservasi.  

Selain itu, RLU juga menyalurkan berbagai bantuan sarana pertanian, termasuk memberikan bibit jahe merah kepada wanita tani binaan untuk dibudidayakan di sekitar pekarangan rumah maupun areal kebun karetnya.

"Kami juga bekerjasama dengan UN Women dan Tropical Landscape Finance Facility (TLFF) untuk melakukan penelitian tentang perempuan di konsesi PT  RLU di Jambi," imbuh Yasmine. 

Baca Juga: Dapat Restu Presiden Jokowi, PTPN Group Siap Go Public Tahun Ini

Pada Oktober 2021 lalu, RLU juga telah meluncurkan program Women Protection Plan (WPP) dan Women Support Group (WSG) Kawan Wanita (Kanita). 

Karmila Parakkasi, GM Sustainability dan Compliance RLU sekaligus Ketua program WPP dan WSG mengatakan, program ini bertujuan memberikan support system kepada karyawan wanita sebagai sarana dalam menyampaikan masukan dan ide-ide.

Selain itu, juga keluhan dan memberikan mereka akses dalam berbagi pengetahuan dan pengembangan perempuan. "Kami bermitra dengan TLFF dengan pakar gender sebagai Penasihat kami, yaitu Nani Saptariani," ujar Karmila.

Nani Saptariani, Social & Gender Expert pada TLFF berpendapat, pemberdayaan perempuan adalah investasi penting bagi dunia usaha. Pasalnya, berdasarkan penelitian, saat menjadi pemimpin, wanita mampu meningkatkan profit tinggi bagi perusahaannya. 

Baca Juga: Meski Harga Komoditas Melonjak, Pemerintah Yakin Inflasi Tetap Terjaga 3% di 2022

"Seringkali perempuan dianggap kurang pintar. Padahal tidak begitu, kondisi itu terjadi karena peluang bagi perempuan tidak dibuka secara adil. Ini terjadi di industry pada umumnya," ungkap Nani.

Karena itu, Nani menyambut positif langkah RLU untuk menginiasi Program WPP, dimana pembahasannya dilakukan intensif dalam dua tahun terakhir. "Sudah banyak progresnya di tengah kendala adanya pandemi Covid-19," kata dia.

Apalagi, lanjut Nani, RLU mengembangkan kebijakan whistle blower untuk zero tolerance pada kekerasan dan pelecehan serta memberikan given mechanism untuk kasus-kasus khusus pada perempuan. 

RLU juga terus membangun kelompok diskusi mengenai WPP. Pemberian pengetahuan soal WPP diberikan kepada semua karyawan, baik laki-laki dan perempuan. 

"Program WPP yang dilakukan RLU merupakan sebuah kemajuan di dunia industri dan ini diharapkan juga dilakukan pada semua industri yang sejenis," tutup Nani. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Halaman   1 2 Tampilkan Semua

Terbaru