Saat sidak gudang Bulog di Surakarta, Mentan klaim stok melimpah

Senin, 30 September 2019 | 12:21 WIB   Reporter: Noverius Laoli
Saat sidak gudang Bulog di Surakarta, Mentan klaim stok melimpah

ILUSTRASI. Saat sidak gudang Bulog di Surakarta, Mentan klaim stok melimpah

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman melakukan inspeksi langsung stok beras di Gudang Beras Bulog (GBB) Telukan Divre Surakarta, dan stoknya berlimpah. Amran dan rombongan menyaksikan gudang Bulog penuh terisi beras 4.500 Ton dan gudang sudah tidak cukup menampung beras lagi sehingga harus pinjam pakai gudang.

"Pertama-tama saya harus apresiasi seluruh petani Indonesia, Kementerian Pertanian, Bulog, dan jajaran pemerintan daerah Jawa Tengah. kami ucapkan terima kasih karena pagi ini stok beras kita melimpah " ungkap Amran saat diwawancarai sewaktu melakukan inspeksi ke gudang Bulog Sukoharjo, Jawa Tengah, dalam siaran pers, Senin(30/09).

Baca Juga: Hingga Akhir 2020 Indonesia Tidak Butuh Impor Beras

Amran menyampaikan stok gudang Bulog di daerah lain, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, NTT, Sulawesi Selatan, dan Sumatra Selatan sudah harus  sewa gudang untuk menampung produksi pangan kita.

"Kita bersyukur tahun 2019 sudah swasembada dan berdaulat. Menurut FAO kriteria swasembada bila impor 10% dari stok nasional. tapi Alhamdulilah stok kita banyak dan melimpah, dan tidak perlu impor," tambahnya. 

Lebih lanjut Amran bercerita, membandingkan dulu saat swasembada di tahun 1984 penduduk Indonesia 100 juta lebih, namun hari ini penduduk Indonesia 260 juta lebih dan kita mampu swasembada. Pada tahun 1984 kita swasembada dengan impor sekitar 414.000 Ton. 

"Tahun 2019, penduduk Indonesia sudah 260 juta, tapi gudang beras penuh dan tidak ada impor. Kerja keras pemerintah Jokowi JK membuahkan hasil luar biasa" sebut Amran. Lebih lanjut Mentan mengatakan ekspor produk pertanian 5 tahun terakhir meningkat hingga 9 juta ton.  

Baca Juga: Hadapi kemarau panjang, pemerintah siapkan strategi ini antisipasi inflasi pangan

Editor: Noverius Laoli
Terbaru