Jabodetabek

Sampah di Depok meningkat, warga mulai mengolah sampah organik

Selasa, 22 Desember 2020 | 18:55 WIB   Reporter: Pratama Guitarra
Sampah di Depok meningkat, warga mulai mengolah sampah organik

ILUSTRASI. Pekerja memasukkan air kedalam mesin pengolahan hidrotermal di Guna Olah Limbah (GOL) Lab, Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (15/1/2020). ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/ama.

KONTAN.CO.ID - Depok. Persoalan sampah di Depok semakin bertambah serius sejak mulai diberlakukannya kebijakan Work From Home (WFH) selama masa pandemi Covid-19. 

Dalam sehari, sampah yang berasal dari rumah tangga mengalami peningkatan 100 ton di tiap harinya, sebelumnya sampah di Kota Depok dalam sehari mencapai 600 ton. 

Penambahan tersebut dikarenakan aktifitas masyarakat lebih banyak di rumah, sehingga produksi sampahnya juga tidak seperti hari-hari sebelumnya. 

Untuk mengatasi permasalahan ini, tim pengabdi Universitas Indonesia (UI) yang diprakarsai dosen dan mahasiswa dari Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) UI melakukan kegiatan Pengabdian Masyarakat  bertema “Tata Kelola Pemanfaatan Hasil Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga Untuk Mendukung Pemeliharaan Tanaman Obat Keluarga TOGA."

Baca Juga: Industri nasional dinilai memerlukan bioteknologi untuk pengelolaan limbah

Ketua Peneliti, Eva Andayani mengatakan, kegiatan ini sudah berjalan sejak November 2020 sampai saat ini dengan mitra adalah para kader dari Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Delima RW 011 Bedahan Sawangan Depok. 

 "Dimulai dengan Focus Group Discussion dengan warga, Tim Pengabdi UI bersama warga melakukan kegiatan pembibitan dan penanaman beberapa tanaman obat keluarga dengan mencoba memanfaatkan pupuk hasil panen dari beberapa lubang biopori milik warga perumahan di Depok," terang Eva pada Selasa (22/12).

Saat ini sudah ditanam sekitar 20 jenis tanaman obat keluarga, seperti Sambiloto, Kunyit, Kunyit Putih, dan Jahe. Keseluruhan tanaman obat tersebut akan dikelola dengan memanfaatkan pupuk dari hasil pengolahan sampah organik rumah tangga warga melalui teknik biopori.

Menurut Nursiti, warga Depok yang berpartisipasi dalam kegiatan ini alangkah lebih baik apabila kegiatan ini lebih sering diadakan untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan. "Sehingga bisa meningkatkan penghasilan tambahan, misalkan cara pembuatan minuman rempah-rempahan," kata Nursiti.

Selain itu, selama ini menurut Lili, Ketua Posyandu Delima, Depok kegiatan tanaman obat keluarga sudah dijalankan oleh Posyandu Delima tapi masih memiliki banyak kendala, diantaranya adalah karena masalah ketersediaan lahan dan keterbatasan dana untuk pemeliharaan toga. 

 "Program pengabdian ini sangat membantu untuk kegiatan toga posyandu dan kalau bisa program pembuatan biopori tidak hanya di RT 003 saja tapi di semua RW 011 Perumahan Bukit Rivaria Sawangan ,” kata Lili.

Editor: Pratama Guitarra
Terbaru