Tangki Pabrik Kelapa Sawit Hampir Penuh, PKS Sulit Beli TBS Petani

Kamis, 07 Juli 2022 | 15:30 WIB   Reporter: Vendy Yhulia Susanto
Tangki Pabrik Kelapa Sawit Hampir Penuh, PKS Sulit Beli TBS Petani

ILUSTRASI. Sejumlah truk pengangkut Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit mengantre untuk pembongkaran di salah satu pabrik minyak kelapa sawit milik PT.Karya Tanah Subur (KTS) Desa Padang Sikabu, Kaway XVI, Aceh Barat, Aceh, Selasa (17/5/2022). Tangki Pabrik Kelapa


KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Tangki penyimpanan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sentra perkebunan sawit hampir penuh. Akibatnya, pabrik kelapa sawit (PKS) mulai membatasi pembelian tandan buah segar (TBS) milik petani mandiri (non mitra). 

Kepala Dinas Perkebunan (Kadisbun) Provinsi Jambi Agus Rizal mengatakan, PKS semakin sulit menerima TBS petani. Kalaupun diterima, harga TBS petani sangat rendah. Apalagi kondisi tanki penyimpanan CPO sudah penuh.

“Jadi kondisi saat ini yang kondisinya paling hancur itu selain TBS milik petani juga pabrik-pabrik kelapa sawit,” kata Agus Rizal ketika dihubungi, Rabu (6/7/2022). 

Menurut Agus Rizal, penuhnya tangki penyimpanan ini karena PKS sulit menjual CPO-nya. Kalau pun ada yang membeli, harganya sangat rendah. Kondisi ekspor yang belum normal juga memberikan pengaruh terhadap rendahnya harga TBS. 

Baca Juga: Luhut Pandjaitan Minta Sri Mulyani Kaji Penurunan Tarif Pengutan Ekspor CPO

Sementara itu, Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Jambi Tidar Bagaskara mengatakan bahwa kondisi saat ini banyak tangki CPO milik PKS yang hampir penuh. Akibatnya, mereka tidak lagi membeli TBS milik petani swadaya atau mandiri. 

Bahkan sudah ada empat PKS yang menghentikan operasinya karena tangki CPOnya benar-benar sudah penuh. “Dari keempat PKS tersebut, satu milik anggota GAPKI dan yang tiga PKS bukan anggota GAPKI,” kata Tidar Bagaskara. 

Untuk mencari solusi dari permasalahan tersebut, GAPKI Jambi, kata Tidar, telah beberapa kali melakukan pertemuan dengan unsur Pemerintah Provinsi Jambi. Menurutnya, Gubernur Jambi sangat mendukung untuk mencarikan solusi. 

“Solusinya seandainya ada kesulitan di masalah transportasi kapal angkutan, Pak Gubernur siap membantu berkoordinasi ke Kemenhub. Kalau masalah pajak ekspor, dia siap berkomunikasi dengan Kemenkeu. Artinya di Provinsi Jambi semuanya mendukung bagaimana untuk meningkatkan harga TBS dan ekspor CPO kembali lancar. Namun semuanya kan regulasi ada di pemerintah pusat,” kata Tidar. 

Baca Juga: Harga TBS Sawit Masih Anjlok, Luhut Beberkan Penyebabnya

Senada dengan Tidar, Ketua GAPKI  Sumatera Barat Bambang Wiguritno mengatakan tangki-tangki penyimpanan CPO di Sumatera Barat juga hampir penuh, bahkan beberapa minggu yang lalu ada yang sudah penuh sehingga menghentikan operasinya. Karena berhenti operasi, maka PKS tersebut tidak membeli TBS petani. 

“Saat itu ada empat PKS yang menghentikan operasinya,” kata Bambang.

Menurut Bambang, PKS yang mempunyai kontrak dengan buyer CPO, tangkinya tidak penuh, masih ada space sekitar 30%. “Tapi tetap mengkhawatirkan karena ekspor sendiri kan sebenarnya masih tersendat. Itulah yang mengakibatkan harga TBS belum stabil,” katanya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, saat ini pemerintah terus berupaya agar harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit bisa naik.

Baca Juga: Produktivitas Sawit Rendah, Kementan akan Uji DNA Benih Peremajaan Sawit Rakyat

Luhut mengakui, permasalahan masih terjadi di sisi hulu. Yakni realisasi ekspor CPO masih membutuhkan waktu. Ia bilang, realisasi ekspor akan lancar mulai pekan depan. Luhut berharap, harga TBS akan kembali naik ketika nantinya proses ekspor lancar.

"Tapi ngga cukup itu aja, supaya lancar kita mungkin akan menurunkan, tadi malam saya bicara sama menteri keuangan TPE (tarif pungutan ekspor) mungkin kita bawa sampai ke bawah sehingga orang dikasih insentif untuk ekspor," ujar Luhut dalam rapat koordinasi Asosiasi Kabupaten Penghasil Sawit Indonesia di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Kamis (7/7).

Luhut bilang, jika ekspor CPO lancar, maka tangki pabrik kelapa sawit akan kembali menyerap TBS. Dengan demikian, diharapkan harga TBS dapat kembali naik. 

"Kemudian kita bikin B30 menjadi B40 itu juga ada 2,5 juta ton masuk ke sana, itu juga nanti berarti permintaan naik," terang Luhut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli

Terbaru