Tinjau pabrik porang, Jokowi minta pengusaha tak ekspor dalam bentuk mentah

Kamis, 19 Agustus 2021 | 14:44 WIB   Reporter: Abdul Basith Bardan
Tinjau pabrik porang, Jokowi minta pengusaha tak ekspor dalam bentuk mentah

Presiden Joko Widodo mengunjungi pabrik pengolahan porang milik PT Asia Prima Konjac, di Kecamatan Pilangkenceng, Madiun, Jawa Timur, Kamis (19/8/2021).

KONTAN.CO.ID - MADIUN. Presiden Joko Widodo (Jokowi) meninjau pabrik porang saat melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Jawa Timur.

Pabrik pengolahan porang milik PT Asia Prima tersebut dinilai memberi nilai tambah pada petani. Potensi porang dilirik Jokowi karena hasilnya dapat mencapai Rp 40 juta per hektare dalam masa 8 bulan. "Ini sebuah nilai yang sangat besar. Pasarnya juga masih terbuka lebar," ujar Jokowi saat meninjau pabrik pengolah porang, Kamis (19/8).

Jokowi menyebut porang memiliki potensi sebagai makanan masa depan. Hal itu mengingat porang rendah kalori, rendah gula sehingga lebih sehat dikonsumsi.

Bekas Gubernur DKI Jakarta itu meminta agar ekspor porang tidak dilakukan dalam bentuk mentah. Oleh karena itu penting untuk melakukan pengolahan porang sebelum diekspor. "Saya tadi sudah menyampaikan ke Mentan agar kita betul-betul seriusi komoditas baru ini, komoditas porang, kita harap kita tidak ekspor porang dalam bentuk mentahan," terang Jokowi.

Baca Juga: Di tengah pandemi, permintaan ekspor edamame dan porang tinggi

Berdasarkan peninjauan sebelumnya, Jokowi melihat porang telah diolah dalam bentuk tepung. Ke depan diharapkan porang dapat diolah menjadi beras sehingga memberikan nilai tambah.

Sebagai informasi, pada tahun 2020, ekspor komoditas pertanian naik 15,79% dibandingkan pada tahun 2019. Total ekspor komoditas pertanian pada tahun 2020 sebesar Rp 451,8 triliun, sedangkan pada tahun 2019 Rp 390,16 triliun.

Momentum peningkatan tersebut pun terus berlanjut, pada periode Januari-Juli 2021, ekspor naik 14,05% dari periode yang sama tahun 2020. Nilai ekspor pada periode itu sebesar Rp 282,86 triliun naik dari tahun sebelumnya sebesar Rp 202,05 triliun.

Selanjutnya: Pemerintah diminta evaluasi menyeluruh soal pelaksanaan program food estate

 

Editor: Handoyo .
Terbaru