KONTAN.CO.ID - KABUPATEN BANDUNG. Cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, mulai berdampak signifikan terhadap geliat sektor pariwisata.
Selain faktor musiman menjelang bulan Ramadhan, ancaman bencana hidrometeorologi kini menjadi variabel utama yang menghambat target peningkatan durasi tinggal (length of stay) dan angka belanja wisatawan di wilayah tersebut.
Pemerintah Kabupaten Bandung mencatat penurunan aktivitas kunjungan.
Fenomena ini menjadi tantangan berat bagi daerah yang mengandalkan daya tarik wisata alam sebagai komoditas utama.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kabupaten Bandung, Wawan A. Ridwan, mengungkapkan faktor alam kini menjadi pertimbangan utama bagi pelancong sebelum berkunjung.
Baca Juga: Resmi! Ini Jadwal, Syarat & Cara Pendaftaran Mudik Gratis 2026 di Jawa Tengah
Di tengah cuaca yang "tidak ramah", keamanan menjadi prioritas yang menggeser keinginan untuk berwisata.
"Wisatawan kini jauh lebih berhati-hati, terutama saat berkunjung ke destinasi berbasis alam.
Potensi angin puting beliung, pohon tumbang, hingga curah hujan tinggi sangat memengaruhi keputusan mereka," ujar Wawan saat ditemui di Soreang, Jumat (13/2/2026).
Imbauan dan Pengawasan
Pihaknya telah mengeluarkan imbauan tegas kepada para pelaku usaha jasa lingkungan dan masyarakat untuk tidak memaksakan operasional destinasi jika kondisi cuaca memburuk.
Sektor wisata minat khusus, seperti arung jeram dan kegiatan luar ruang (outdoor), kini berada dalam pengawasan ketat.
"Kami meminta pelaku usaha tidak memaksakan menerima tamu saat situasi tidak mendukung. Keamanan adalah hal yang tidak bisa ditawar," lanjutnya.
Situasi cuaca yang tidak menentu ini bertepatan dengan periode low season atau musim sepi kunjungan menjelang bulan puasa.
Kondisi ini kian menyulitkan upaya pemerintah daerah dalam mendongkrak tiga indikator prioritas tahun 2026: jumlah kunjungan, durasi tinggal, dan tingkat belanja wisatawan.
Wawan mengakui, meski pergerakan fisik wisatawan ke Kabupaten Bandung tergolong besar, kontribusi ekonomi dari sisi lama tinggal dan jumlah belanja belum optimal.
"Potensi pergerakannya besar, tetapi lama tinggal dan belanjanya masih kurang. Hal ini dipengaruhi banyak faktor, mulai dari daya beli, situasi ekonomi, hingga terbatasnya infrastruktur akomodasi seperti hotel berbintang yang selama ini lebih banyak terkonsentrasi di wilayah perkotaan," ucap Wawan.
Fokus Pengembangan SDM
Guna menyiasati tantangan tersebut, Disparekraf Kabupaten Bandung fokus pada pengembangan sumber daya manusia (SDM) di sektor ekonomi kreatif dan desa wisata.
Langkah ini diambil agar para pelaku usaha lokal mampu bersaing di pasar bebas melalui peningkatan kualitas produk dan perluasan jangkauan pemasaran.
Penguatan sisi kreatif diharapkan mampu memberikan alternatif wisata dalam ruang (indoor) yang lebih tahan terhadap perubahan cuaca, sekaligus menarik minat wisatawan untuk menetap lebih lama.
Saat ini, Kabupaten Bandung terus berupaya mentransformasi citranya dari sekadar destinasi persinggahan menjadi destinasi hunian wisata, meskipun keterbatasan fasilitas penunjang industri jasa wisata masih menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi pemerintah daerah.
Baca Juga: Makin Jadi Andalan Warga! MRT Jakarta Catat 4,1 Juta Pelanggan pada Januari 2026
Sumber: https://bandung.kompas.com/read/2026/02/13/154743778/cuaca-ekstrem-tekan-pariwisata-kabupaten-bandung-wisatawan-lebih-hati-hati.
Selanjutnya: Lowongan Kerja Bank Syariah Nasional Februari 2026: Cek Posisi dan Wilayahnya
Menarik Dibaca: Rekomendasi Mi Salmon Halal di Pacific Place, Tertarik Coba?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News